Oleh: dr. Siti Ningsih
Sekretaris Radar Banjar Peduli
Pagi itu beberapa pekan lalu saya mau berangkat kerja, namun karena ban terasa kempes akhirnya saya mampir di sebuah bengkel untuk menambahkan angin di ban mobil saya. Di sebelah bengkel kecil itu ada sebuah gerobak sate yang berjualan plus ada satu orang yang sedang menikmati sate dengan lahap, sepertinya beliau adalah tukang parkir atau sejenisnya yang mencari nafkah di sekitar Lokasi tersebut. Tidak lama kemudian datang seorang bapak dengan kostum tukang parkir juga yang memesan sate tersebut untuk sarapan. Saya sempat melirik uang dua ribu rupiah yang dipegang Bapak tersebut, dalam hati saya berpikir mungkin uangnya bertumpuk. Saya penasaran dan sempat melirik lagi ke arah piring yang disodorkan paman sate ke Bapak tukang parkir, Ya Allah saya sungguh terkejut karena beliau hanya menyantap lontong beserta bumbu sate tanpa ada setusuk pun sate di piringnya. Sungguh hati saya miris saat itu dan saya berpikir ingin mentraktir si Bapak tadi untuk bisa mendapatkan beberapa tusuk sate, namun saya tidak berani karena takut menyinggung atau jangan-jangan saya yang salah menerjemahkan kondisi tersebut. Saat itu saya akhirnya pergi setelah ban saya selesai diisi angin, namun ada sesal di hati saya kenapa tadi tidak jadi mentraktir Bapak tukang parkir. Bukankah mentraktir tidak harus kepada orang yang tidak mampu? Memberikan hadiah berupa traktiran atau benar-benar berupa hadiah bisa saja kita berikan kepada mereka yang secara finansial berkecukupan karena memberikan hadiah, membuat orang Bahagia itu bisa menjadi salah satu pintu kebaikan dan bisa mengeratkan silaturahmi antar sesama.
Sepanjang jalan menuju tempat kerja saya terus berpikir tentang kejadian yang baru saja saya lihat, hingga akhirnya ingatan saya menjelajah ke beberapa pengalaman sebelumnya. Pernah suatu kali saya berangkat kerja juga, melalui jalan komplek di belakang Rumah Sakit tempat saya bekerja. Saat itu saya melihat bapak-bapak kira-kira umur enam puluh tahun lebih, sang bapak berjalan dari jalan utama sambil memegang berkas dan saya menduga bahwa beliau akan berobat ke Rumah Sakit tempat saya kerja. Saya menghentikan mobil di dekat Bapak itu dan saya menawarkan tumpangan kepada beliau, dengan senang hati beliau masuk ke mobil untuk ikut Bersama ke Rumah Sakit. Ketika dalam mobil si Bapak banyak menceritakan kondisinya perihal penyakitnya, kondisi anak-anaknya dan lain sebagainya. Saya bergumam dalam hati “berarti benar saja saya menawari tumpangan ke beliau” karena berjalan kaki dari jalan besar ke Rumah Sakit itu bisa dua kilo meter dan ini jarak yang lumayan untuk ditempuh dengan jalan kaki. Di lain waktu saya juga bertemu dengan ibu-ibu, saya coba tawarkan tumpangan dan Masya Allah beliau mau berangkat mengaji. Beberapa kali kesempatan saya juga memberikan tumpangan kepada karyawan Rumah Sakit yang kebetulan jalan kaki pulang pergi dari rumah ke Rumah sakit. Bantuan-bantuan kecil dan sederhana ini saya harap bisa menjadi pemberat timbangan amal di akhirat kelak karena kita tidak pernah tahu amalan kita yang mana yang bisa membawa kita ke syurga-NYA Allah.
Selain kisah di atas, ada lagi kisah yang menimbulkan penyesalan bagi saya secara pribadi. Kasusnya mirip dengan kisah Ketika saya ragu mentraktir makan sate Bapak Tukang Parkir di atas. Pernah suatu kali saya bertemu ibu-ibu berjalan kaki membawa tentengan yang cukup berat. Saat itu saya berniat menawari tumpangan, namun ragu-ragu karena mengingat beberapa cerita sebelumnya ada orang-orang jahat yang modus numpang mobil namun justru melakukan kejahatan kepada orang yang memberikan tumpangan. Saya pun akhirnya memutuskan untuk melewati ibu tersebut, namun ada sesal dalam hati kenapa tidak memberikan tumpangan kepada ibu tadi.
Oh ya ada satu cerita lagi beberapa waktu lalu Ketika saya share info perihal anak-anak dhuafa yang memerlukan bantuan untuk biaya sekolah, biaya yang diperlukan cukup banyak namun ada kenalan saya yang langsung mencukupi kekurangan biaya anak-anak dhuafa tersebut. Saya sampaikan untuk membantu semampunya saja namun beliau menjawab bahwa ketika info kebaikan itu sudah sampai kepadanya maka itu sudah takdir bagi Allah untuk memberikan peluang kebaikan kepadanya sehingga tidak boleh dilewatkan.
Dari beberapa kejadian di atas saya jadi menarik Kesimpulan untuk diri sendiri dan bisa jadi untuk diambil Pelajaran bagi orang lain yang membaca tulisan ini. Beberapa hal tersebut adalah bahwa Ketika kita dipertemukan dengan peluang kebaikan maka tak boleh disia-siakan. Istilah teman saya “lebih baik menyesal telah berbuat baik daripada menyesal tidak melakukan kebaikan” karena peluang kebaikan itu belum tentu datang dua kali. Semoga kita dijadikan sebagai orang yang mudah dalam menyambut setiap peluang kebaikan yang Allah hadirkan di depan mata kita. (*)
Editor : Arief