Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Penyebab Matinya Hati

M. Syarifuddin • Jumat, 28 Juni 2024 | 07:58 WIB
H Muhammad Tambrin, Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel
H Muhammad Tambrin, Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel

“Di antara tanda-tanda matinya hati seseorang, ketika tiada bersedih atas hilangnya kesempatan berbuat taat kepada Allah SWT, dan tiada menyesal dia daripada berbuat kesalahan”.
Imam Ahmad bin Athaillah As Sakandari dalam Hikmah ke-48 Kitab Al Hikam.

      Oleh: H Muhammad Tambrin
      Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel

Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet mensyarahkan hikmah ke-48 ini bahwa hati itu mati karena tiga perkara. Pertama, karena mencintai dunia. Namun, mencintai duit dan pangkat kedudukan belum tentu hubbud dunia. Tapi, kalau mencintai sesuatu yang memudaratkan sesudah mati, itu jelas hubbud dunia.

Ia mencintai jabatan dengan cara mati-matian mendapatkannya, dan berupaya mempertahankan jabatan itu. Kenapa sebabnya? Karena dengan jabatan ini bisa semaunya. “Dengan memegang jabatan ini, kalau ingin mengambil duit, tidak ada yang melarang dan menentangnya. Apapun yang aku inginkan, jadi”.

Ia cinta mati-matian kepada jabatannya ini. Itu cinta yang membahayakannya di hari kiamat maupun akhirat nanti. Ini cinta kepada dunia. Ini salah satu sebab yang mengakibatkan hati itu mati.

Jelas-jelas orang sudah azan, ia malah melintas begitu saja, dan tidak singgah untuk salat berjemaah. Kenapa tidak singgah? Itu karena menunjukkan hatinya mati. Kalau hatinya hidup, sudah jelas ia salat berjemaah dahulu, baru berangkat.

Jelas-jelas majelis taklim hari ini jadwalnya. Sehari sebelumnya, ia malah berangkat menghilang. Tanpa tujuan. Andaikan berangkat menghilang itu bermanfaat, ternyata juga tidak. Ini tanda hati mati, kenapa mati? Karena mencintai yang mencelakakannya di akhirat. Mendengar yang seperti ini, sudah tidak ada tergerak hati, karena hatinya sudah mati. Seandainya hatinya ada sedikitpun kehidupan, maka akan ada perubahan dan gerakan menuju kebaikan.

Jangan diartikan secara umum hubbud dunia itu cinta duit dan jabatan. Tidak mesti itu. Karena duit dan jabatan itu bisa membawa kepada kebaikan. Justru tidak boleh dan membahayakan itu mencintai sesuatu yang membawa siksa di akhirat.

Kedua, perkara kenapa hati itu menjadi mati, karena lalai dan lupa berzikir dengan Tuhan. Berzikir seribu kali Laa ilaha illallah sudah jelas tidak dilakukannya. Padahal zikir itu diperintahkan Tuhan dalam menghadapi keadaan apapun. Misalnya, kalau ingin makan diperintahkan berzikir Bismillahirrahmanirrahim dan doa makan. Selesai makan diperintahkan Tuhan berzikir Alhamdulillah, tidak dibacanya juga. Mendapatkan nikmat seperti duit, tidak juga mengucap Alhamdulillah.

Mendengar orang menyebut Nabi kita, tidak ada juga selawatnya. Lalai daripada zikrillah. Keluar masuk toilet tidak ada juga zikirnya. Padahal itu semua ada zikir-zikirnya. Ia lalai daripada itu, menyebabkan hati akhirnya mati.

Coba dibiasakan, misalnya kalau mau makan Bismillahirrahmanirrahim, dan ketika selesai baca Alhamdulillah. Melihat yang aneh, Masya Allah. Itu adalah untuk menghidupkan hati.

Ketiga, perkara penyebab hati mati itu karena melepas anggota tubuh kepada maksiat.

Maksiat apa saja, kalau ia ingin, maka akan dilepasnya. Ada pemandangan yang haram, kalau ia ingin memandang, maka dilihatnya. Ada pendengaran yang haram, kalau ia ingin, maka didengarkannya. Dilepasnya seluruh anggota tubuhnya kepada kemaksiatan. Jadi, akan mati hati kita itu.

“Apabila sudah tampak tanda-tanda kematian hati engkau wahai murid, maka mestilah engkau menghidupkannya dengan tiga perkara”.

Kalau kita mendengar yang tadi, dirasa-rasa apakah sudah mati hati ini, atau sedang kritis mendekati mati? Apabila sudah tampak tanda-tanda kematian hati engkau, maka mestilah kita menghidupkannya. Bagaimana menghidupkan hati, insya Allah dilanjutkan pada edisi akan datang.(*)

Editor : Arief
#Tarbiyah