Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Medsos, Gen Z, dan Tren Bunuh Diri yang Mengkhawatirkan

Muhammad Syarafuddin • Selasa, 25 Juni 2024 | 20:21 WIB

Oleh DEVINA FARICA TAN*


ERA digital membawa disrupsi. Mengubah pola perilaku masyarakat. Hingga menggeser etika, budaya dan norma yang berlaku. 


Perkembangan penggunaan internet sebagai sarana komunikasi menjadi semakin pesat setelah bisa diakses melalui telepon seluler hingga munculnya istilah telepon cerdas (smartphone). Dengan kehadiran smartphone, fasilitas dalam berkomunikasi pun semakin beraneka ragam, mulai dari SMS, email, WhatsApp, dan media sosial lainnya.


Media sosial adalah platform

DEVINA FARICA TAN
DEVINA FARICA TAN
digital yang memungkinkan para pengguna untuk berkomunikasi, bertukar informasi, membuat konten dalam bentuk gambar, video, teks ataupun audio melalui jaringan internet.


Menurut data Statista pada bulan April 2024, diperkirakan terdapat 5,44 miliar pengguna internet di seluruh dunia atau serata dengan 67,1 persen populasi global. Dari jumlah tersebut, 5,07 miliar atau 62,6 persen populasi dunia adalah pengguna media sosial.
Data Kementrian Komunikasi dan Infomatika (Kemenkominfo RI) mengungkap pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut 95 persen menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial. Selain sebagai media untuk mencari informasi dan berkomunikasi, ternyata medsos juga memiiki dampak buruk untuk kesehatan mental (mental health) khususnya generasi Z.


Mereka menghadapi tantangan kesehatan mental yang signifikan karena sangat terhubung dengan teknologi yang dapat mempengaruhi aspek kehidupan baik secara positif maupun negatif.


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis laporan tentang hasil diskusi virtual akademisi mengenai konten dalam jaringan (daring) tentang kesehatan mental yang mendukung anak-anak muda pada 6 Februari 2024. Pertemuan para ahli pada 4 Oktober 2023 itu adalah hasil kerja sama WHO dan British Medical Journal (BMJ) dan mengumpulkan 22 pakar kesehatan dari 16 negara dengan latar belakang media digital, kesehatan mental anak dan remaja, serta pencegahan bunuh diri.


Para ahli membahas bukti dan pengalaman terutama yang terkait dengan generasi muda usia 13-17 tahun. Tidak ada pedoman dan rekomendasi resmi WHO yang ditetapkan selama pertemuan tersebut, tapi para peneliti merumuskan 10 prinsip panduan untuk konten kesehatan mental yang sesuai dengan perkembangan anak muda. Prinsip-prinsip itu adalah relevansi emosional, strategi praktis, kesesuaian kognitif, bahasa yang mudah dipahami, keragaman dan inklusivitas, cerita kehidupan nyata, keterlibatan visual, kejelasan berbasis bukti, aksesibilitas, serta keselarasan dengan standar hak asasi manusia.


Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, 16 juta atau 6,1 persen penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental. Serta terdapat lebih dari 700.000 orang meninggal akibat bunuh diri, data tersebut belum termasuk penderita yang mencoba melakukan aksi bunuh diri. Hal ini membuat bunuh diri menjadi penyebab kematian keempat terbanyak pada kelompok usia 15-29 tahun.


Remaja yang melakukan tindakan menyakiti diri sendiri lebih aktif di jejaring sosial online dibandingkan remaja yang tidak terlibat dalam perilaku menyakiti diri sendiri. Peran jejaring sosial online terhadap tindakan menyakiti diri sendiri dan bunuh diri yang disengaja pada remaja dengan fokus pada pengaruh negatif. Seperti perbandingan sosial yang tidak sehat, intimidasi siber, dan eksposur terhadap konten yang mempromosikan atau glamorisasi perilaku merusak.


Hal itu juga menyebabkan peningkatan keterpaparan dan keterlibatan dalam perilaku menyakiti diri sendiri karena pengguna menerima pesan negatif yang mempromosikan tindakan menyakiti diri sendiri, meniru perilaku orang lain yang menyakiti diri sendiri, dan mengadopsi praktik menyakiti diri sendiri dari video yang dibagikan.


Semakin banyak waktu yang dihabiskan di situs jejaring sosial menyebabkan tekanan psikologis yang lebih tinggi, kebutuhan akan dukungan kesehatan mental yang tidak terpenuhi, penilaian kesehatan mental yang buruk, dan meningkatnya keinginan untuk bunuh diri. 

DEVINA FARICA TAN
DEVINA FARICA TAN


Medsos dapat menjadi pusat pengetahuan informasi yang positif apabila digunakan dengan semestinya, banyak hal positif yang dapat diakses. Selain itu media sosial menghadirkan dampak negatif yaitu menjadikan kemungkinan peniruan perilaku berbahaya dalam melihat konten-konten yang mereka akses.


Hingga tren-tren berbahaya yang biasanya dilakukan oleh anak muda yang memiliki banyak dampak negatif, mereka melakukan hal itu hanya untuk menarik views atau keinginan unuk menjadi viral. Hal ini juga mempengaruhi dampak Kesehatan mental serta perilaku sosialnya, biasanya demi mengikuti sebuah tren para remaja rela melakukan apa saja.

Apabila tidak tercapai bisa saja berdampak pada Kesehatan psikologisnya seperti gangguan mental yang dimaksud bisa berupa kecemasan, depresi, rendahnya self-esteem, gangguan tidur, dan body image.


Berikut beberapa hal yang bisa kita terapkan khususnya pada generasi Z guna meminimalisir dampak buruk dari media sosial bagi kesehatan mental. Yang pertama adalah menetapkan waktu yang ditentukan untuk menggunakan media sosial dan berkomitmen untuk tidak melebihi batas tersebut. Ini membantu mengurangi stres dan memungkinkan lebih banyak waktu untuk aktivitas lain yang bermanfaat.


Kedua lebih cermat dalam memilih konten, untuk mengikuti akun dan melihat konten yang positif, mendukung, dan menginspirasi. Hindari konten yang memicu perasaan negatif atau tidak sehat. Selanjutnya pelajari cara mengatur privasi di platform medsos untuk mengontrol siapa yang dapat melihat dan berinteraksi. Batasi interaksi dengan orang-orang yang dapat menyebabkan stres atau ketegangan. Prioritaskan interaksi sosial di dunia nyata dengan teman dan keluarga untuk mendapatkan dukungan emosional yang lebih bermakna.


Hindari membandingkan kehidupan dengan kehidupan orang lain yang terlihat "sempurna" di medsos. Fokuslah pada pencapaian dan progres diri tanpa merasa tertekan oleh standar yang ditetapkan oleh orang lain. Dukungan lingkungan keluarga serta peran orang tua dalam mengawasi anak dalam penggunaan medsos juga sangatlah penting. Dan apabila penggunaan medsos telah secara signifikan mempengaruhi kesehatan mental, dapat dipertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau terapis. Para psikolog profesional dapat membantu untuk mengatasi dampak negatifnya. 


*Mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

Editor : Muhammad Syarafuddin
#Opini