ERA digital telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia permainan anak kecil. Game online seakan menjadi hiburan tak terpisahkan dari rutinitas anak-anak usia sekolah.
Oleh MUTIA RAHMAH
Mahasiswi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI)
Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Antasari Banjarmasin
Efeknya bervariasi, dari kecanduan hingga terpapar konten sarat kekerasan. Fenomena game online ini menimbulkan dilema bagi orang tua dan guru sekolah.
Anak kecil dan remaja berusia antara 6-18 tahun merupakan kelompok umur yang paling banyak terpapar game online. Padahal fase usia itu merupakan periode krusial bagi perkembangan sosial, emosional, dan kognitif mereka.
Anak-anak usia sekolah dapat kapan saja bermain game online. Waktu-waktu yang paling sering adalah setelah pulang sekolah, akhir pekan, dan masa liburan sekolah. Ketika anak-anak memiliki lbanyak waktu luang. Game online juga dapat diakses di mana saja, seperti di rumah, sekolah, di rumah teman, atau tempat umum yang menyediakan akses internet.
Game online memberikan dunia virtual yang mengasyikkan, seringkali digunakan sebagai sarana pelarian dari stres akibat tekanan akademik atau masalah keluarga. Bagi sebagian anak, ini juga menjadi tempat untuk berinteraksi dengan teman-temannya.
Namun, tanpa adanya batasan dan pengawasan yang memadai, pengunaan yang berlebihan dapat menyebabkan efek negatif yang signifikan pada kesehatan dan perkembangan mereka.
Data di Indonesia, 36 persen gamer berasal dari kelompok umur 10-20 tahun, kemudian 47 persen dari 21-35 tahun, dan 17 persen dari 36-50 tahun. Sementara gamer di atas umur 50 tahun adalah nol persen.
Hasil penelitian terhadap anak-anak nelayan di Kota Makassar menunjukkan, anak-anak mengalami kecanduan bermain game online dengan durasi 120 sampai 240 menit per hari. Akibatnya anak-anak nelayan ini tidak memiliki motivasi belajar, kurang berinteraksi dengan teman sebaya, dan jarang membantu orang tua.
Seharusnya orang tua memberikan perhatian lebih dalam mengawasi dan mengontrol batas waktu bermain. Mau menemani anak-anak saat mengakses internet. Intinya, orang tua mampu menyeimbangkan kehidupan anak-anaknya, antara kehidupan di dunia nyata dan dunia maya.
Ada beberapa langkah yang bisa diambil. Pertama, tentukan batas waktu bermain game. Misalnya setelah mengerjakan PR anak boleh bermain game sebentar. Kedua, mengajak anak beraktivitas di luar. Jalan-jalan ke taman, mengunjungi museum atau perpustakaan, dan berolahraga bersama. Ketiga, memberikan pengertian tentang konsekuensi dan dampak buruk dari kebiasaan bermain game online.
Tapi itu bukan hanya tugas orang tua saja, tetapi juga peran sekolah. Misalnya dengan mengaktifkan kegiatan ekstrakurikuler untuk mengalihkan fokus siswa di waktu luangnya. Selain itu, guru juga mengajarkan tentang literasi digital kepada siswanya di kelas.
Editor : Arief