Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Memaknai Gerakan Mencuci Kaki Ibu

M. Syarifuddin • Kamis, 25 April 2024 | 06:54 WIB
ZAIRULLAH AZHAR
ZAIRULLAH AZHAR

PADA bulan Ramadan 1445 Hijriah kemarin, Pemkab Tanah Bumbu bersama masyarakat melaksanakan Gerakan Mencuci Kaki Ibu. Kegiatan yang menjadi bagian dari program Safari Ramadan ini, barangkali adalah yang pertama kalinya di Indonesia.

      Oleh ZAIRULLAH AZHAR
      Bupati Tanah Bumbu

Saya berpandangan bahwa Gerakan Mencuci Kaki Ibu perlu digalakkan. Kalau perlu ditularkan ke seluruh wilayah Indonesia. Karena ada hal menarik, berkesan, dan berdampak dari gerakan ini.

Hal menarik dan berkesan dari gerakan ini adalah munculnya ide bersama untuk memberikan penghormatan yang tinggi kepada orang tua. Hampir semua orang yang hadir pada kegiatan ini begitu terharu saat seorang anak dengan ikhlas mencuci dan mencium kaki ibunya.

Sementara air mata sang ibu tak terbendung melihat bakti anak-anak mereka. Saya melihat Gerakan Mencuci Kaki Ibu ini bukan sekadar simbolis dan seremoni. Terdapat nilai-nilai kebaikan mendalam yang dapat menjadi akar fundamental kebudayaan kita di masa depan.

Mencuci kaki ibu adalah cara untuk mengakui jasa ibu dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Ibu adalah sosok yang memberikan kasih sayang tanpa syarat, mengorbankan waktu dan tenaga demi kebahagiaan anak-anaknya. Dengan mencuci kaki ibu, menunjukkan bahwa kita menghargai semua pengorbanan orang tua kita.

Pijakan Meraih Sukses Dunia dan Akhirat

Setiap agama mengajarkan umatnya untuk memposisikan ibu sebagai orang istimewa. Gerakan mencuci kaki ibu adalah salah satu tanda nyata bakti dan penghormatan seorang anak kepada ibu. Di dalam agama Islam misalnya, tidak sedikit hadis dan ayat Al-Qur'an yang menjelaskan perihal begitu istimewa dan berkahnya seorang ibu bagi anak-anaknya.

Begitu istimewanya seorang ibu, telapak kakinya diumpamakan sebagai surga. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad, dan disahihkan oleh Al-Hakim, "Dari Mu’awiyah bin Jahimah As-Sulami, ia datang menemui Rasulullah Saw. Ia berkata, 'Wahai Rasulullah, saya ingin ikut berperang dan saya sekarang memohon nasihat kepadamu?' Rasulullah Saw lalu bersabda, 'Kamu masih punya ibu?' Mu’awiyah menjawab, 'Ya, masih.' Rasulullah Saw bersabda, 'Berbaktilah kepada ibumu (lebih dahulu) karena sungguh ada surga di bawah kedua kakinya.'"

Pada hadis yang lain Nabi Muhammad Saw juga pernah ditanya seorang sahabat tentang kepada siapa yang paling berhak mendapatkan perhatian seorang anak. Beliau mengagungkan nama ibu sebanyak tiga kali daripada nama ayah yang hanya disebut sekali.

Dari Abu Hurairah ra ia berkata, seseorang datang kepada Rasulullah Saw dan berkata, "Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?" Nabi menjawab, "Ibumu!" Dan orang tersebut kembali bertanya, "Kemudian kepada siapa lagi?" Nabi menjawab, "Ibumu!" Orang tersebut bertanya kembali, "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab, "Ibumu!" Orang tersebut bertanya kembali, "Kemudian siapa lagi?" Nabi menjawab, "Kemudian ayahmu." (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Menelisik dari hadits tersebut di atas secara sederhana dapat dimaknai bahwa menghargai, menghormati, dan berbakti pada orang tua, terutama ibu, adalah harga yang tak dapat ditawar.
Secara psikologis praktik mencuci kaki ibu adalah sebentuk penghormatan, tanda terima kasih, kasih sayang, dan mendoakan kemuliaan orang tua. Mencuci kaki ibu adalah upaya menjujung tinggi posisi ibu. Sebagai upaya untuk meraih rida dan keberkahan ibu. Bukankah rida Allah Swt ada pada rida seorang ibu?

Saat Allah dan orang tua rida pada kita, saya yakin kehidupan kita akan sukses dan lebih baik. Mencuci kaki dan memperlakukan baik orang tua, terutama ibu, dapat menjadi pijakan kita meraih sukses. Tidak hanya sukses di dunia, pun juga sukses di akhirat kelak.

Mencuci kaki ibu tidak hanya dapat berdampak pada pembangunan moral anak bangsa, tetapi juga dapat menjadi kunci sukses seorang anak meraih masa depannya.

Tak sedikit orang-orang besar di negeri ini yang sukses karena rida dari orang tua. Sebut saja misalnya, Sukarno, proklamator sekaligus presiden pertama Indonesia. Kesuksesan Sukarno tak lepas dari doa dan rida orang tuanya. Bahkan beberapa sumber menyebut sebelum jadi presiden, Sukarno juga pernah merasakan membasuh dan mencium kaki sang ibunda.

Untuk itu gerakan yang berangkat dari nilai-nilai tradisi dan budaya masyarakat di Tanah Bumbu, seperti mencuci kaki ibu ini, penting untuk terus dilestarikan dan digalakkan. Apalagi kita berhadapan dengan dampak globalisasi yang berbarengan dengan masuknya budaya asing. Bila tidak disaring dengan baik dapat mengikis nilai-nilai dan budaya asli kita. Perlu kesadaran bersama pemerintah dan masyarakat untuk merawat dan meruwat nilai-nilai lokalitas.

Akar Kehidupan

Selain hal tersebut di atas, saya melihat bahwa mencuci kaki ibu dapat menjadi akar fundamental kehidupan kita sebagai keluarga, masyarakat, dan berbangsa. Di dalamnya terkandung banyak nilai dan moral. Jika kita terus merawat dan meruwat nilai-nilai lokalitas secara perlahan dapat menguatkan tiga akar utama.

Pertama, akar kehidupan keluarga. Cerminan kuatnya akar keluarga adalah terciptanya hubungan baik dan harmonis di dalam keluarga. Antar anak tidak ada pertikaian. Ibu dan ayah terjalin hubungan yang penuh tanggung jawab. Dan di antara semua keluarga terdapat sikap saling menghormati dan menghargai satu sama lainnya.

Sikap penghormatan seorang anak kepada orang tua dapat melalui pengabdian paling sederhana, misalnya mencuci kaki ibu dan berbuat baik pada kedua orang tuanya. Orang tua, terutama ibu, menerimanya dengan ikhlas. Tindakan ini dapat memunculkan sikap kasih sayang antar keluarga dan penuh tanggung jawab dari orang tua pada anak-anaknya.

Kedua, akar kehidupan masyarakat. Kuatnya pertalian di dalam keluarga juga dapat menguatkan ikatan kemanusiaan antar masyarakat. Keluarga adalah institusi terkecil di dalam struktur sosial masyarakat. Jika seluruh keluarga kuat maka akan kuat pula masyarakatnya.

Moralitas masyarakat secara tidak langsung bergantung pada sejauh mana bangunan moralitas di dalam keluarga. Nilai-nilai baik yang ada di dalam keluarga, seperti mencuci kaki ibu, dapat menjadi akar moralitas kita sebagai masyarakat. Jika kita sudah menghormati orang tua dengan baik, hubungan bersosial dan bermasyarakat niscaya juga akan baik.

Ketiga, akar kehidupan berbangsa dan bernegara. Saat bangunan keluarga dan masyarakat kuat, secara berkelindan bangunan berbangsa dan bernegara juga akan ikut kuat. Kuatnya suatu bangsa dan negara secara sederhana dapat ditopang dari kuatnya budaya dan sumber daya manusia berdaya saing.

Anak-anak yang dibentuk di dalam keluarga dan masyarakat dengan dasar moralitas tinggi tidak bakal goyang dengan kebudayaan asing yang tidak baik. Gerakan Mencuci Kaki Ibu dapat membentuk anak mengerti nilai dan norma sosial masyarakat untuk selanjutnya menjadi kekuatan pendidikan dan pembelajaran terhadap anak. (*/fud)

Editor : Arief
#Opini #Tanah Bumbu