TINGGAL menghitung hari lagi lebaran akan segera tiba. Berdasarkan kalender tahun 2024, diprediksi lebaran jatuh pada Rabu, 10 April atau Kamis 11 April 2024. Hal itu tidak menjadi persoalan. Yang penting umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri pada 1 Syawal 1445 Hijriah, pada hari dan tanggal yang sama. Itu lebih semarak. Terkesan kuat sekali persatuan dan kesatuan umat Islam.
Oleh: SYAIFUL BAHRI DJAMARAH
Dosen PAI di FTK
UIN Antasari Banjarmasin
Berdasarkan pengamatan, sejak H-11, para pemudik sudah banyak yang mudik lebih awal. Alasannya sederhana, mengantisipasi lonjakan penumpang yang akan mudik berlebaran di kampung halaman. TV One merilis, jumlah pemudik tahun 2024 akan mencapai 193,6 juta orang. Sedangkan puncak arus balik diprediksi pada 14 April akan mencapai 41 juta orang.
Daerah tujuan pemudik terbanyak adalah Jawa Tengah 61,6 juta orang, Jawa Timur 37,6 juta orang, Jawa Barat 32,1 juta orang, dan Daerah Istimewa Yogyakarta 11,7 juta orang. Ini belum termasuk pemudik dengan tujuan daerah luar Jawa. Misalnya, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dst.
Mudik lebaran adalah ritual tahunan umat Islam di Indonesia. Bahkan mungkin di seluruh dunia. Rasa rindu kampung halaman. Ingin berlebaran bersama kedua orang tua, sanak saudara dan handai tolan menguat menjelang lebaran. Demi animo mudik lebaran, jauh-jauh hari, mereka berlomba-lomba membeli tiket kereta api, tiket pesawat, dan membooking mobil taksi agar tidak ketinggalan mudik, berlebaran bersama keluarga di kampung halaman.
Dalam Sejarah lebaran di Indonesia, kita pernah tidak mudik lebaran. Itu terjadi karena pemerintah mengeluarkan larangan mudik lebaran. Larangan mudik lebaran itu berdasarkan Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2021 tentang peniadaan mudik hari Raya Idul Fitri 1442 H dan upaya pengendalian penyebaran Covid 19 selama Ramadhan 1442 Hijriah.
Walaupun pemerintah telah melarang, tetapi ketika itu keinginan kuat dari sebagian masyarakat untuk berlebaran ke kampung halaman tidak bisa dibendung. Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang mau mudik lebaran ke kampung halaman pergi secara sembunyi-sembunyi dengan kendaraan bermotor, melewati jalan-jalan kecil yang tidak terpantau oleh aparat berwenang.
Itulah hasrat mudik lebaran. Tidak bisa dibendung. Kerinduan memang tidak bisa ditawar-tawar ketika sudah bergelora karena lama merantau dan tidak pernah pulang kampung. Kerinduan itu adalah wajar. Kerinduan itu tidak terobati tanpa perjumpaan.
Demi untuk mudik lebaran, setiap orang berusaha menyisihkan uang atau menabung setiap bulan. Kecuali orang kaya, bagi orang miskin atau buruh kasar menabung suatu keharusan. Sebab bila tidak menabung, jangan harap bisa mudik lebaran. Dari gaji yang tidak seberapa, mereka tabung sedikit demi sedikit setiap bulan hanya untuk mengobati kerinduan akan sebuah perjumpaan, berjumpa dengan semua yang dicintai, dikasihi dan disayangi di kampung halaman. Ada kebahagiaan yang luar biasa ketika berhasil mudik lebaran.
Berbagai moda transportasi mereka gunakan untuk bisa mudik lebaran. Mereka yang kaya atau memiliki uang yang cukup mungkin menggunakan mobil pribadi atau naik pesawat untuk mudik lebaran. Mereka yang miskin atau buruh kasar dengan rela hati menggunakan jasa kereta api, bus, kapal laut untuk mudik lebaran. Bahkan jika masih jarak tempuh, tidak sedikit di kalangan masyarakat menggunakan sepeda motor pribadi untuk mudik lebaran. Pendek kata, setiap orang punya caranya masing-masing untuk bisa mudik, berlebaran di kampung halaman.
Demikianlah. Secara sosiologis, dalam stratifikasi sosial masyarakat, mobilitas sosial sebuah keniscayaan. Mobilitas sosial dalam bentuk mudik lebaran yang terjadi dalam suatu masyarakat, salah satunya, karena adanya hubungan kekerabatan yang kuat, baik karena hubungan darah (biologis) seperti orang tua dan anak kandung, antar saudara sekandung maupun karena ikatan perkawinan seperti antar menantu dan mertua. Hubungan kekerabatan ikatan jiwa (psikologis) ada di dalam kedua hubungan kekerabatan tersebut.
Maka dari itu, kuatnya animo masyarakat mudik lebaran karena dekatnya hubungan kekerabatan antara masyarakat perantau di kota dan keluarga di desa yang ditinggalkannya. Misalnya, dekatnya tali asih antara orang tua dan anak, antara kakak kandung dan adik kandung atau karena eratnya hubungan kekerabatan antara paman atau acil (bibi) dan anak keponakan, antar sesama sepupu sekali atau sepupu dua kali, baik dalam garis keturunan dari pihak ayah (kekerabatan Patrilineal) maupun dari pihak ibu (kekerabatan Matrilineal).
Sebaliknya, pada kasuistis tertentu ditemukan, bahwa masih ada masyarakat perantau di kota yang tidak mudik lebaran. Hal ini sangat mungkin karena hubungan kekerabatannya dalam garis keturunan sudah jauh sehingga melemahkan keinginan untuk mudik lebaran. Misalnya, tidak mudik lebaran karena kedua orang tua sudah meninggal dunia dan saudara kandung lainnya juga sudah merantau. Yang tersisa di kampung hanya sepupu dua atau tiga kali. Ini semakin meneguhkan bahwa semakin jauh garis keturunan semakin renggang hubungan kekerabatan.
Sebenarnya fenomena tidak mudik lebaran di kalangan masyarakat perantau di kota tidak selalu karena jauhnya garis keturunan. Ada kemungkinan karena melemahnya hubungan kekerabatan yang disebabkan tidak dikuasainya "identitas kekerabatan."
Untuk masa sekarang, cukup banyak generasi muda di perantauan yang tidak tahu dan tidak hapal siapa juriatnya sebagai identitas kekerabatan, terutama dalam garis keturunan generasi ketiga (sepupu tiga kali), baik dari pihak ayah atau ibu sehingga melemahkan libido kekerabatan psikologis. Karena itu, mereka tidak berminat mudik lebaran.
Oleh karena itu, semakin tidak teridentifikasinya garis hubungan kekerabatan semakin renggang hubungan kekerabatan, bahkan cenderung terputus. Demikian juga hubungan antara keluarga, meski sepupu sekali, ikatan kekerabatan akan melemah jika jarang sekali saling mengunjungi. Meskipun tidak bisa memutus ikatan kekerabatan biologis karena sepupu sekali tetapi berpotensi merenggangkan ikatan kekerabatan psikologis. Merasa keluarga dekat karena sedarah tetapi tidak akrab, tidak ada sense of belonging.
Akhirnya, mudik lebaran adalah ritual tahunan umat Islam pasca-berpuasa di bulan Ramadan. Idul Fitri menyucikan segalanya. Jabatan tangan atau SMS saling memaafkan semoga tidak terhenti diucapkan. Hati ikut meneguhkan. Saudaraku maafkan semua kesalahan dan kehilafanku. Selamat mudik lebaran, berlebaran di kampung halaman. Orang tuamu, sanak saudaramu, menunggu kalian dengan sabar dan penuh pengharapan
Editor : Arief