“Allah SWT tidak terhalang Dia darimu, tetapi yang terdinding itu adalah engkau daripada memandang-Nya. Karena apabila Allah terhalang sesuatu, berarti Dia terhalang oleh yang mendinding-Nya. Jika ada yang menutupi Allah berarti ada yang membatasi. Dan tiap-tiap yang membatasi sesuatu, berarti yang membatasi itu mengusai/mengalahkan. Sedangkan Allah Maha Mengalahkan di atas hamba-hamba-Nya”. - Hikmah Hikam ke-33 Imam Ahmad bin Atha’illah As-sakandari.
Oleh: H Muhammad Tambrin
Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel
Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet mensyarahkan hikmah ke-33 ini bahwa tidak diterima akal pada hak Allah itu ada hijab yang mendinding-Nya. Karena tidak ada sesuatu yang mampu mendinding Allah, karena Allah itu Maha Besar dan selain-Nya adalah kecil. Apakah yang kecil ini bisa menutupi yang besar? Mustahil.
Jika mata hati kita tidak bisa melihat Allah, padahal Allah itu paling besar dan tampak dari segala sesuatu, berarti ada sesuatu yang mendinding kita dari musyahadah. Masalahnya ada pada kita. Ada yang mendinding kita.
Bahkan terkadang, di depan Baitullah pun lupa. Saat salat, membaca Al-Qur’an, semisal surah Al-Mulk atau Yasin pun kita lupa kepada Allah. Berarti dalam diri ini ada penyakit yang menyebabkan kita tidak ingat dan musyahadah.
Dalam salat, berapa kali diperintahkan kita melafazkan 'Allahu Akbar', dari yang wajib sampai sunah. Tujuannya agar kita ingat bahwa yang Maha Besar itu adalah Allah. Yang perlu diingat itu adalah Allah. Yang perlu ditakuti dan diharap itu adalah Allah. Jadi, setiap kali kita berhadapan yang besar, yang kecil-kecil itu tidak terlihat lagi.
Jika tidak bisa mengingat-Nya juga, berarti ada penyakit dalam diri kita yang wajib dihilangkan. Inilah yang dinasihatkan Imam Ahmad Ibnu Attha’illah dalam hikmah berikutnya yang ke-34.
“Keluarlah engkau dari sifat-sifat kemanusiaan yang bertentangan dengan sifat kehambaan. Agar engkau bisa menyahut panggilan Tuhan, dan bisa dekat kepadaNya”.
Maksud hikmah ini adalah agar kita membersihkan hati dari sifat tercela, seperti sifat kebinatangan, kebuasan, setan, dan sifat ketuhanan. Kemudian menghiasi hati dengan sifat kehambaan.
Sifat bahimiyah (kebinatangan) itu seperti selalu ingin meloloskan syahwat perut dan syahwat kemaluan. Prioritas dan pikirannya adalah makan dan kawin, serta sifat yang mengikuti keduanya.
Sedangkan sifat mengikutinya adalah bila orang yang suka makan, pasti suka dengan uang, karena tidak bisa makan kalau tidak ada uang. Kalau orang suka kawin, suka bersolek, dan bersolek perlu uang. Inilah yang membuat kita tidak bisa benar dalam segala ibadah kita.
Sifat kebuasan seperti marah dan ketiadaan sifat sayang kepada makhluk Allah. Orang yang pemarah terdinding dan tidak akan musyahadah kepada Allah.
Sifat syaitaniyah seperti dengki dan menyembunyikan kejahatan dalam dirinya. Setan sangat dengki kepada kita manusia yang diberi berbagai macam keistimewaan. Selalu berusaha akan menghilangkan keistimewaan yang ada pada diri kita.
Setan itu pikirannya satu saja, agar manusia maksiat dan masuk neraka. Kalau dalam diri kita ini ada pikiran agar orang lain kalah daripada kita, agar orang lain rugi dan kita yang untung, agar orang lain sakit dan kita yang nyaman. Selama sifat seperti itu ada pada diri berarti di dalam diri kita ada sifat setan, dan itu mendinding kita daripada ingat kepada Allah.
Sifat ketuhanan adalah perasaan selalu ingin berkuasa, ingin dipuji, dan disanjung. Kalau dalam diri kita ada sifat seperti demikian dan mencari-cari jalan agar berkuasa, dipuji, dan disanjung, ini yang membuat kita kusut dalam beribadah, terburu-buru dan tidak tahan lama melaksanakan kebaikan.
Apabila sudah sifat-sifat kebinatangan, kebuasan, setan dan ketuhanan ini sudah dihilangkan pada diri, dan kita hiasi hati dengan sifat kehambaan seperti taat kepada Allah dan hukum-hukumNya, tawadu, ikhlas, senang dengan nasihat. Maka akan otomatis kita bisa musyahadah kepada Allah. Sembahyang kita memandang Allah, membaca Al-Qur’an kita memandang Allah, kita pun akan menemukan kenikmatan dan kelezatan ibadah.(*)
Editor : Arief