Ini kelanjutan dari hikmah Al-Hikam yang ke-32 Imam Ahmad Ibnu Athaillah As Sakandari. “Bermula perhatian engkau kepada sesuatu yang tersembunyi pada diri engkau daripada aib cela, lebih baik daripada perhatian engkau kepada sesuatu yang didindingkan dari engkau daripada perkara yang gaib-gaib”.
Oleh: H MUHAMMAD TAMBRIN
Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel
Disyarahkan oleh Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet bahwa aib batin itu tidak hanya cinta terhadap harta. Ini juga berlaku cinta terhadap kedudukan/pangkat.
Ini adalah aib. Jika ada di dalam diri keinginan ingin menjadi kepala desa atau ketua apa, misalnya, itu adalah sifat tercela. “Karena dengan mempunyai pangkat kedudukan itu didapatlah pujian-pujian, kemuliaan, dan mengusai. Maka mudahlah dengannya itu mengumpulkan harta, dan menundukkan manusia”.
Katanya A, maka orang lain mau tidak mau harus mengikuti karena tidak berani. Jadi, di dalam hati kita kalau ingin seperti itu berarti ada sifat tercela. “Kalau kita mencintai kedudukan pangkat jabatan dengan tujuan memuliakan agama, mendirikan yang benar, dan menolong orang teraniaya, maka itu bukan suatu keaiban”.
Saya sayang dengan jabatan kepala desa ini. Kenapa? Karena dengan saya jadi kepala desa, mudah untuk memuliakan agama. Ada yang ingin berkaraoke, tidak diberi izin, karena saya berkuasa di sini. Ada orang yang ingin membuat kegiatan maksiat tidak diberi izin. Jadi, jabatan kepala desa ini akan saya pegang. Ada orang yang teraniaya, ditolong. Kalau semacam ini cinta dengan jabatan bukan suatu aib. Bahkan suatu kemuliaan.
Jadi, kalau kedudukan, jabatan, kita cintai karena dengan jabatan dan kedudukan itu mudah untuk mencari duit dan mudah menundukkan manusia, itu tercela. Tapi, kalau jabatan itu kita cintai karena dengan jabatan ini bisa mengatakan makruf dan mencegah mungkar, maka itu bukan suatu aib.
Ini antara lain adalah contoh-contoh aib di dalam diri yang perlu kita pikirkan untuk membuangnya. Cinta kepada harta untuk meloloskan syahwat, cinta kepada kedudukan jabatan untuk menundukkan manusia, mencari pujian dan mengumpulkan harta itu perlu hilang dalam diri agar kita bersih daripada cela.
“Bermula sibuknya engkau dengan membahas dan memeriksa aib diri engkau, dan berusaha engkau dari membersihkan dari sekalian demikian itu, lebih baik daripada sibuknya engkau untuk mengetahui hal-hal yang di dinding dari engkau, daripada ilmu gaib sepeti mengetahui rahasia-rahasia manusia, mengetahui kejadian yang akan datang, dan mengetahui tentang rahasia-rahasia ilmu tauhid”.
Ini kisah orang yang punya aib. Merasa hebat masih ada pada diri. Kedudukan ada, dengki ada, dendam ada. Kemudian ada diberi pilihan ilmu. Ada ilmu yang bila dipelajari bisa menghilangkan aib-aib itu. Ada juga ilmu yang apabila dipelajari akan tahu rahasia-rahasia ilmu tauhid yang dalam. Ilmu tentang kejadian yang akan datang.
Mana antara dua ilmu ini yang perlu kita pelajari? Yang perlu dipelajari tentu menghilangkan aib diri kita. Lebih baik kita bersibuk diri dengan membersihkannya dari cela, daripada kita bersibuk diri untuk mempelajari hal-hal yang sifatnya gaib itu.
Ada ilmunya agar kita kasyaf mengetahui dengan hati orang lain, tahu dengan apa yang akan terjadi, serta tahu dengan ilmu tauhid yang kecil-kecil. Kita mempelajari itu semua kalau di dalam diri kita sudah bersih dari aib dan cela. Selama masih ada aib dan cela di dalam diri, lebih baik kita berusaha menghilangkan itu.
Ada amalan. Gunanya menghilangkan riya, dengki, cinta dunia. Ada pula amalan lain yang apabila diamalkan kita akan diberi kasyaf, tahu dengan hati orang lain, dan tahu dengan firasat yang akan terjadi di waktu akan datang. Mana antara dua amalan ini yang harus kita amalkan? Amalan yang pertama ini yang perlu. Supaya diri kita bersih dari celaan-celaan itu.
Doa, misalnya. Kita dengan Tuhan bisa meminta ini dan itu. Tapi, doa apa yang baik yang kita mohon kepada Tuhan? Doa yang sifatnya pembersihan diri yang utama kita ajukan kepada Allah SWT.
Al-imam Al-habib Ali bin Abi Bakar As-sakran Rahimahullah berkata,
“Ketahuilah wahai saudaraku! Bahwa doa dengan minta ampun kepada Allah itu adalah paling afdal (utama) doa”.
Ada doa murah rezeki, sehat badan, diberi ilmu, dan sebagainya. Tapi, doa yang paling utama kita minta kepada Allah adalah doa minta agar diampuni oleh Allah. Doa tentang pembersihan-pembersihan diri itu yang utama dipinta kepada Allah.
Seperti doa yang kita baca dalam wirid. “Bersihkan hati kami dari tiap-tiap sifat yang menjauhkan kami daripada musyahadah dan kecintaan Engkau.” Minta bersihkan hati kepada Allah, agar hati kita bersih dari sifat-sifat yang membuat tidak bisa musyahadah kepada Allah. Supaya hati yang mendinding kecintaan kita kepada Allah menjadi suci.
Jadi itulah yang dimaksud dari hikmah yang ke-32 ini. Apapun pekerjaan, ilmu, amaliah, doa, atau apapun sifatnya adalah pembersihan diri, itu adalah yang utama dikerjakan daripada hal-hal sifatnya gaib. Kecuali hati sudah bersih, bersih dari cinta dunia, cinta pangkat jabatan, riya dan sebagainya. Semuanya sudah bersih, boleh saja minta yang lainnya.
Imam Al-Hasan Al-bashri didatangi beberapa orang yang minta amalan kepada beliau. Wahai imam, aku meminta amalan karena ada masalah ini itu. Apa amalan yang diberi beliau? Istigfar. Kamu minta ampun kepada Allah.
Ada lagi yang lain datang kepada beliau yang berbeda masalah. Apa amalan yang diberi beliau? Istigfar. Minta ampun kepada Allah.
Ada seorang perempuan yang datang kepada beliau mengeluhkan karena sekian tahun masih belum bisa mempunyai keturunan. Apa amalan yang diberi beliau? Istigfar. Minta ampun kepada Allah.
Jadi, amalan yang utama itu yang perlu kita perhatikan adalah amalan agar dosa kita diampuni, sifat-sifat yang tidak baik dihilangkan oleh Allah SWT. Itu saja doa semacam.
Ibarat salat tahajud kita di tengah malam, fokus kita berdoa agar dosa diampuni, dan sifat-sifat tercela dibersihkan oleh Allah. Tidak perlu kita minta murah rezeki. Tidak perlu kita minta ini itu. Tidak perlu. Selama diri kita kotor, selama diri kita penuh cela, maka permintaan kita kepada Allah hanya satu “bersihkan diri hamba dari sifat-sifat yang tercela”.(*)
Editor : Arief