KEBERAGAMAN suku bangsa menjadi bagian kekayaan budaya Indonesia. Salah satu yang cukup berperan adalah keberadaan populasi etnis Cina (Tionghoa) yang memberikan pengaruh signifikan di sektor ekonomi, politik, dan budaya.
Oleh PANCA IRVAN SUJIANTO
Konsultan manajemen
Berdasar data BPS, saat ini lebih dari 10 juta orang Cina tinggal di Indonesia. Populasi terbesar etnis Cina di pulau Kalimantan terdapat di kota Singkawang, Pontianak dan Ketapang. Meskipun tidak dominan, namun di kota Banjarmasin juga terdapat diaspora orang Cina sejak abad 14 yang lalu. Infiltrasi tersebut membentuk akulturasi budaya dan kebiasaan baru di masyarakat. Salah satunya adalah ritual dalam memperingati perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek.
Perayaan Tahun Baru Imlek
Cina merayakan tahun baru berdasarkan patokan penanggalan bulan (lunar year), biasa disebut dengan Imlek. Secara harfiah kata Imlek berasal dari Bahasa Hokkian, yaitu “im” yang artinya bulan dan “lek” bermakna penanggalan. Tahun baru Cina menjadi peristiwa penting karena pada perayaan tersebut terdapat kebiasaan turun temurun untuk bermigrasi kembali ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga. Agenda rutin yang selalu ada yaitu festival kembang api dan makan Bersama.
Pada saat pemerintahan orde lama dan orde baru, Indonesia pernah melakukan pembatasan perayaan tahun baru Cina. Namun, pada tahun 2000-an, era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mulai diperkenankan kembali.
Tahun baru Cina sangatlah menarik karena setiap tahun akan disimbolkan oleh karakter hewan yang berasal dari mitologi Cina, biasa disebut “shio”. Terdapat dua belas shio yang mempunyai urutan khusus serta diulang dalam periodesitas tahunan, yaitu shio tikus, sapi, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam jantan, anjing, dan babi.
Perayaan tahun 2024 ini dilambangkan dengan shio naga kayu, yang digambarkan sebagai sosok mahluk berbentuk ular raksasa, namun memiliki kaki dan dapat terbang. Naga merepresentasikan simbol kekuatan, kekuasaan, perlindungan dan keberuntungan.
Kisah Legenda Naga
Keberadaan wujud naga tidak hanya dikenal di China, namun juga di berbagai penjuru dunia, antara lain di Korea, Norwegia dan Inggris. Dalam kisah klasik Tiongkok yang telah difilmkan yaitu Mulan (1998 dan 2020), diceritakan mengenai seorang anak gadis yang menyamar menjadi lelaki, sebagai usaha menolong ayahnya yang telah renta dan menggantikannya maju perang. Dalam perjuangannya, Mulan ditemani oleh seekor naga kecil (Mushu) yang selalu membantunya dan memberi semangat untuk bisa mengalahkan musuh.
Sementara di Indonesia, terdapat kisah mengenai keberadaan legenda naga di berbagai daerah. Saat ini kita terbiasa menyaksikan tarian Barongsai dan rumah peribadatan (klenteng) yang memiliki ornamen naga. Selain itu, di Jawa Timur terdapat ukiran naga di Candi Kidal, serta ada juga kisah naga kecil “Baru Klinting” di Jawa Tengah.
Di Kalimantan Selatan terdapat beberapa kisah mengenai naga, salah satunya legenda Desa Lok Sinaga, Hulu Sungai Selatan. Dikisahkan bahwa dahulu kala ada sepasang suami istri yang bekerja sebagai nelayan dan mempunyai seorang anak lelaki. Pada suatu hari pasangan itu pergi mencari ikan di sungai, namun tidak mendapatkan seekor ikan pun juga. Pada saat mereka akan pulang ke rumah, mereka menemukan telur dalam ukuran yang cukup besar. Meskipun telah dikembalikan ke sungai, namun anehnya telur tersebut muncul kembali dan mengikuti nelayan tadi. Akhirnya diputuskan untuk membawa telur tersebut pulang dan memasaknya. Sementara anaknya tertidur, kedua suami istri tersebut memakan telur dan terkena kutukan naga putih, berubah menjadi naga.
Anaknya terbangun kaget mendapati ada dua ekor naga di rumahnya. Kedua orangtuanya yang sudah dalam bentuk naga tersebut menjelaskan akan pergi ke sungai lagi untuk bertempur melawan kutukan naga putih. Pertarungan berlangsung sangat lama dan si anak masih tetap sabar menunggu di tepian sungai. Namun ternyata kedua orang tuanya tidak pernah datang kembali sampai dengan akhir hayatnya. Daerah tersebut saat ini dikenal dengan sebutan desa Lok Sinaga.
Kisah mengenai naga tercermin pula dalam tradisi Baarak Naga pada upacara pernikahan di Kandangan, Hulu Sungai Tengah. Ritual ini telah turun-temurun dilakukan oleh keturunan Datu Taruna (warga asli desa Barikin) dan warga daerah Ulu Benteng, Marabahan (Barito Utara). Di Banjar terdapat juga motif batik sasirangan Naga Balimbur yang mempunyai arti membasahi atau menyucikan nurani sebagai bentuk pelestarian budaya.
Selanjutnya di batas Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, terdapat tugu batas wilayah yang dihiasi ornamen patung naga. Selain itu di Kalimantan Tengah juga terdapat legenda mengenai naga yang bernama Nusa, konon tinggal di sungai Kahayan serta kisahnya menjadi cikal bakal legenda penamaan pulau Nusa.
Migrasi Etnis Cina ke Kalimantan Selatan
Berdasarkan hikayat Banjar, diaspora etnik Cina ke Kalimantan Selatan telah berlangsung sejak abad 14. Kedatangan orang Cina tersebut sudah dimulai sejak Dinasti Ming pada masa pemerintahan Sultan Hidayatullah di Banjar. Tujuan utama mereka pada awalnya adalah berdagang rempah-rempah terutama lada. Mereka membawa porselen/keramik, teh dan kain sutra untuk diperdagangkan. Namun kemudian ada pula yang menetap dan menjadi penambang emas.
Para imigran Cina yang menetap di tepian sungai dikenal dengan julukan Cina Parit. Pada umumnya mereka tinggal di Pacinan daerah Tatas (Banjarmasin) dan Kayutangi (Martapura). Selain di bidang ekonomi, terdapat pula orang Cina yang bekerja di pemerintahan. Sultan Suria Alam pernah mengutus orang Cina untuk mengikuti perundingan internasional. Bukti sejarah tersebut dapat disaksikan di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru dan Museum Wasaka Banjarmasin.
Jumlah orang Cina di Banjar pernah mengalami penurunan. Pada saat perang Banjar berlangsung (awal abad 18), minat mereka untuk berdagang menjadi sangat berkurang akibat kondisi keamanan yang kurang kondusif. Selain itu tercatat adanya eksodus warga Cina dari Kalimantan pada peristiwa G30S/PKI di tahun 60-an dan kerusuhan di tahun 1997-an.
Saat ini masih dapat kita temui jejak komunitas Cina di Kalimantan Selatan antara lain keberadaan tempat peribadatan Klenteng Suci Nurani (Jl Veteran), Klenteng Po An Kiong/Tri Darma Karta Raharja (Tempekong Pasar) dan toko kue Minseng (sejak 1930) di jalan Pangeran Samudera.
Selain itu, adanya bangunan klenteng di Pulau Kembang, makam anak Cina di kompleks pemakaman Sultan Suriansyah, gaya arsitektur bangunan yang disebut joglo Gudang, dan tradisi lisan “lamut” menjadi penanda penyebaran etnis Cina.
Bagi penulis, keberadaan komunitas Cina menjadi satu pembuktian telah terjadi pembauran atau melting pot di Kalimantan Selatan. Perpaduan atas berbagai komunitas yang menyatu dalam asimilasi kehidupan masyarakat sehari-hari, yang menambah warna budaya bangsa. Semoga dengan peringatan tahun baru Imlek 2575 ini semakin mempererat kerukunan dan persatuan bangsa yang penuh keragaman.
Editor : Arief