Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sekumpul dan Kemandirian Ekonomi Umat

M. Syarifuddin • Rabu, 7 Februari 2024 | 09:14 WIB
MUHAMMAD YULIAN MA
MUHAMMAD YULIAN MA

PERHELATAN haul Kiai Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Abah Guru Sekumpul di Martapura pada pertengahan Januari 2024 ini telah usai. Meski begitu, gemanya masih terasa, setidaknya di sanubari para pencinta beliau dan masyarakat Kalsel.

       Oleh MUHAMMAD YULIAN MA'MUN*
       Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
       UIN Antasari Banjarmasin

Sekurangnya 3,3 juta orang hadir dari berbagai daerah, bahkan dari luar Kalimantan. Sebutan "abah" yang artinya "ayah" menunjukkan bahwa beliau bukan hanya berperan selaku guru, mentor, pembimbing spiritual, atau mursyid, tetapi juga sebagai orang tua. Anak mencintai orang tua, dan orang tua menyayangi anaknya.

Masyarakat pencinta Abah Ijai, dan pemerintah bahu membahu mensukseskan acara. Tercatat ada 499 posko dengan 18 ribu relawan yang berpartisipasi. Angka ini masih bisa bertambah karena ada banyak posko dan relawan yang belum tercatat. Mereka seakan berlomba memberikan layanan terbaik dan gratis untuk para jemaah yang hadir. Layanan akomodasi, konsumsi, antar jemput, bensin, hingga tambal ban tersedia cuma-cuma. Ada yang bilang, bagi warga luar daerah yang ingin hadir di haul Sekumpul, cukup sedia badan, karena dari bandara hingga ke lokasi acara semua dijamin tersedia.

Uniknya tidak ada pimpinan formal. Memang ada koordinasi dari pemerintah setempat, tapi aksi masyarakat ini, bahkan di daerah yang berpuluh kilometer dari Martapura, adalah inisiatif mereka sendiri. Mirip dengan kecerdasan kelompok yang dimiliki oleh lebah, semut, dan hewan yang hidup berkawanan lainnya. Kecerdasan yang juga disebut "swarm intelligence" ini mengarahkan gerombolan lebah bergerak seirama di kehidupan dalam sarang, mengumpulkan makanan, reproduksi, hingga produksi madu.

Teladan Abah Guru

Munculnya fenomena sosial yang luar biasa ini, salah satunya berasal dari keteladanan yang muncul dari diri Abah Guru. Semasa hidupnya, banyak contoh mulia yang dicontohkan oleh Almarhum dan membekas di dalam diri para muridnya. Di antara hal yang menonjol semasa hidup beliau adalah dakwah yang mengutamakan perbuatan nyata (dakwah bilhal) dalam mengajak masyarakat kepada kebaikan.

Sejak mengabdi di tengah masyarakat melalui pengajian dan pembacaan salawat di Keraton hingga aktif bermukim di Sekumpul, beliau ikut serta membangun masyarakat Martapura menjadi umat yang berdikari. Dengan kemandirian, maka kegiatan dakwah akan independen tidak mudah bergantung ke pihak luar, dan tidak mudah dikendalikan untuk kepentingan kekuasaan, politik dan tujuan duniawi sesaat lainnya. Maka, beliau memberikan banyak teladan dalam membina ekonomi umat menjadi pribadi dan jemaah yang mandiri.

Abah Guru selalu menekankan dalam berusaha mencari nafkah harus mengikuti syariah Islam. Sikap seperti jujur, amanah, bekerja giat, dan tidak memakan harta hasil riba. Kesemuanya bertujuan untuk memperoleh berkah sehingga hidup pun lebih tenang dan bermanfaat.

Sewaktu muda di tahun 1960-an, seperti para pemuda lainnya saat itu, beliau pernah ikut mendulang intan di daerah Cempaka. Kegiatan ini dilakukan terutama di masa libur pesantren. Beliau tidak segan untuk terjun ke dalam lobang pendulangan untuk mencari batu mulia tersebut. Hasilnya selain untuk membantu keperluan hidup, juga dipakai sebagai bekal sangu belajar kepada para ulama di luar daerah.

Seiring bertambahnya usia dan padatnya kesibukan beliau berdakwah di masyarakat, bentuk usaha yang beliau lakukan adalah memberikan modal kepada orang/murid kepercayaannya untuk dikelola. Kerja sama ini menerapkan model akad bagi hasil.

Usaha ini dijalankan dalam bentuk jual beli sembako, batu mulia, percetakan, ritel pakaian dan makanan, serta usaha lainnya. Beberapa dari bisnis tersebut tergabung dalam grup usaha Al-Zahra yang masih eksis hingga saat ini. Keuntungan usaha yang diperoleh, selain untuk keperluan pribadi, keluarga, dan mensupport dakwah, juga Abah Guru peruntukkan guna menyantuni istri dan keluarga mendiang guru-guru beliau yang telah wafat.

Perkembangan wilayah Sekumpul yang dulu bagian dari Sungai Kacang semakin pesat. Pengajian yang diadakan di Sekumpul makin dipadati jemaah. Permukiman pun tumbuh bak jamur saat musim hujan di seputaran Musala Ar-Raudhah. Masyarakat berdomisili di sekitar pusat kegiatan Abah Guru untuk mempermudah mengikuti majelis beliau. Dari sini muncul berbagai aktivitas komersial, seperti pedagang kuliner, pakaian muslim, kerajinan, peralatan keagamaan Islam, transportasi, dan penginapan yang tersebar di wilayah Sekumpul dan sekitarnya.

Bahkan setelah wafatnya Abah Guru pada tahun 2005, Kubah Makam Sekumpul terus ramai oleh para peziarah. Mereka yang datang bahkan berasal dari seluruh Indonesia dan tidak sedikit dari luar negeri. Kunjungan semakin ramai menjelang peringatan wafat (haul) Sekumpul setiap tahunnya. Kawasan Sekumpul pun berkembang dengan fungsi dakwahnya, fungsi hunian sekaligus fungsi ekonomi melalui wisata religi (religious tourism). Keberkahan yang tidak hanya berimbas pada dimensi spiritual tapi juga sosial dan ekonomi umat. Semoga kita bisa mengambil iktibar dan meneladani hidup beliau.

Editor : Arief
#Opini #Guru Sekumpul