Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

HUT 23 Tahun Radar Banjarmasin: Dari “Pansos”, Jadi “Masin”

M. Syarifuddin • Kamis, 25 Januari 2024 | 11:36 WIB

Erwin D. Nugroho
Erwin D. Nugroho

Radar Banjarmasin lahir pada era di mana industri media sedang sangat bergairah: semangat reformasi yang menggebu-gebu setelah Orde Baru runtuh, terbitnya UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers yang mengubah banyak sekali regulasi media, dan dibukanya keran perizinan pers secara nyaris selebar-lebarnya. Sesuatu yang di zaman Soeharto berkuasa begitu sulit diperoleh.

           Catatan Erwin D. Nugroho*

Era “pers perjuangan” yang beralih menjadi “pers industri” itu ditandai dengan bertumbuhannya media-media baru di seluruh penjuru negeri. Baik yang berdiri sendiri dengan kekuatan lokal, maupun yang berjaringan dengan kelompok media besar.

Radar Banjarmasin salah satunya. Lahir dari rahim Kaltim Post Group, yang merupakan induk kelompok media Jawa Pos Group area Kalimantan, media ini semula bernama Radar Banjar. Terbit sebagai suplemen/sisipan Jawa Pos.

Kenapa harus sisipan? Ini sebenarnya bagian dari strategi bisnis. Pada masa itu, koran Jawa Pos sendiri sudah punya pasar yang sangat baik di Kalsel. Untuk ukuran koran harian dari luar pulau, pelanggan dan pembacanya cukup besar, dengan oplah hampir 10.000 eksemplar per hari.

Maka ketika Kaltim Post yang sudah jadi pemimpin pasar di Kaltim sejak era 1980-an hendak ekspansi ke Kalsel, dengan menerbitkan koran baru, cara paling mudah adalah mendompleng pasar yang sudah dimiliki Jawa Pos di Kalsel. Kalau bahasa anak sekarang: pansos. Panjat sosial.

Dengan strategi tersebut, hari pertama terbit sebagai sisipan Jawa Pos itu Radar Banjar langsung dicetak 10.000 eksemplar. Ya karena ikut oplahnya Jawa Pos – ditambah pembukaan pasar baru yang kemudian melipatgandakan angka oplah tersebut dalam waktu yang relatif singkat.

Jadi khusus untuk wilayah edar Kalimantan Selatan, pelanggan Jawa Pos “dipaksa” menerima koran yang sudah dilengkapi tambahan lembar sisipan berisi berita-berita lokal Kalsel. Sisipan itulah yang digarap tim Radar Banjar. Kalau sebelumnya pelanggan di Kalsel menerima koran Jawa Pos siang hari, karena harus dikirim via pesawat dari Surabaya, sejak saat itu koran pun datang lebih pagi, karena dicetaknya di Banjarbaru.

Tetapi periode sisipan ini tidak lama. Hanya berlangsung beberapa bulan. Saya lupa, mungkin 3 atau 4 bulan saja. Tuntutan pasar akhirnya membuat Radar Banjar harus terbit mandiri. Lepas dari ”pansos” dengan Jawa Pos. Seingat saya, 25 Januari 2001 yang kini dirayakan sebagai HUT Radar Banjarmasin adalah tanggal di mana Radar Banjar sudah benar-benar dicetak dan dijual terpisah dari Jawa Pos. Jadi, kalau merunut lini masa penerbitannya, tanggal pertama terbit Radar Banjar harus dihitung beberapa bulan ke belakang, sebelum 25 Januari 2001.

Ada sejumlah alasan yang membuat Radar Banjar akhirnya harus terbit mandiri. Selain agar lebih leluasa mengembangkan pasar, rupanya juga tidak semua pembaca Jawa Pos di Kalsel berkenan diberi sisipan berita lokal. Apalagi kehadiran lembar tambahan Radar Banjar pada saat itu membuat komposisi halaman berubah, sehingga sejumlah halaman Jawa Pos pun harus hilang, tak ikut dicetak. Di antara halaman yang hilang itu misalnya iklan deret, yang bagi sebagian pembaca justru paling ditunggu.

Sebagian pelanggan kemudian “berteriak” minta kembali dikirimi Jawa Pos yang “asli” atau “original” versi cetakan dari Surabaya. Ada yang sampai memutuskan berhenti berlangganan Jawa Pos versi tambahan Radar Banjar, dan memilih berlangganan langsung melalui agen koran dari Surabaya, demi memperoleh Jawa Pos versi “asli”.

Radar Banjar yang semula hanya suplemen alias lembar tambahan, akhirnya menjadi koran yang sepenuhnya dicetak dan dijual mandiri. Membangun jaringan distribusi yang terpisah dari Jawa Pos. Termasuk mencari pelanggan baru dan mengembangkan pasar pembacanya sendiri. Baru setahun kemudian, 2002, nama Radar Banjar diubah menjadi Radar Banjarmasin. “Biar lebih masin,” kata Dahlan Iskan, yang ketika itu CEO Jawa Pos Group.

MEDIA PELOPOR

Hadir sebagai “penantang” di pasar yang sudah lebih dulu dikuasai pemain lama, membuat Radar Banjarmasin harus terus berinovasi, menyajikan hal-hal baru, mencuri perhatian publik dengan model liputan dan suguhan yang lebih menarik dari media lain. Memberi kejutan-kejutan yang membuat koran ini terus ditunggu pembaca.

Ada beberapa liputan bersejarah yang saya ingat menjadi faktor “ledakan” Radar Banjarmasin di awal-awal kehadirannya di Kalsel. Pertama, peristiwa kerusuhan Sampit, Februari 2001, yang berhari-hari menjadi headline di masa Radar Banjarmasin sedang merintis jaringan pembaca dan mencari pelanggan. Koran menjadi sumber utama informasi pada masa itu, sehingga kehadirannya selalu ditunggu.

Kemudian peristiwa 9/11 di mana menara kembar WTC di New York, AS, menjadi sasaran serangan terorisme pada 11 September 2001. Itulah saat di mana setiap hari halaman utama Radar Banjarmasin menjadi tempat kami berkreasi maksimal, menampilkan infografis dan tata letak yang sangat heboh, dengan foto-foto besar dan kreasi penjudulan yang unik dan berbeda dari media-media lokal lain.

Lalu setahun kemudian, 12 Oktober 2002, peristiwa bom Bali, yang membuat dunia pasca peristiwa 9/11 semakin terasa mencekam, dengan ancaman terorisme di mana-mana. Seperti sebuah rangkaian, aksi-aksi terorisme itu disusul bom di Hotel Marriot Jakarta (2003), bom di Kedutaan Australia di Jakarta (2004), dan bom Bali 2 (2005). Peristiwa-peristiwa itu sungguh mewarnai pemberitaan Radar Banjarmasin yang meskipun koran lokal, tetap memberi porsi untuk berita-berita nasional dan internasional.

Pada ranah lokal Kalsel, Radar Banjarmasin “mengguncang” publik dengan serangkaian berita yang menghadirkan berbagai diskusi dan perdebatan untuk isu-isu sosial dan politik. Salah satu yang saya ingat, kritik Radar Banjarmasin atas berbagai kebijakan Sjachriel Darham, Gubernur Kalsel periode 2000-2005, yang sempat membuat Pak Sjachriel muntab karena merasa terus “diserang” lewat pemberitaan. Radar Banjarmasin sampai dicap sebagai “koran oposisi” hehe

Dalam sebuah kesempatan, Sjachriel membuat pernyataan: “Apapun yang mau Radar Banjarmasin beritakan, silakan saja. Tapi jangan lupa, saya ini didukung 3 juta rakyat Kalsel.”

Pernyataan Abah Hobnor Sjachriel Darham ini kami respon dengan membuka jajak pendapat terbuka (pada masa itu melalui SMS), yang ditayangkan di koran dengan banner rubrik berjudul: “Apakah Anda Termasuk yang 3 Juta Itu?

Hanya dalam  beberapa hari, ribuan SMS membanjiri hotline redaksi Radar Banjarmasin, dan untuk setiap SMS yang menyatakan dirinya tidak termasuk 3 juta pendukung gubernur, kami rekap, kemudian kami update angkanya setiap hari: “Per hari ini, pendukung Gubernur Sjachriel tinggal 2 juta sekian…”

Berbagai komentar via SMS yang menyertai jajak pendapat itu juga kami pilih dan tayangkan di koran, lengkap baik yang pro maupun kontra. Jadi, jauh sebelum hari ini netizen bisa saling berkomentar di media sosial, Radar Banjarmasin sudah sejak dulu membuka ruang partisipasi pembaca untuk mengomentari berita dan terlibat menentukan isu yang sedang trending.

Radar Banjarmasin menjadi saksi sejarah yang mencatat pasang-surut kehidupan sosial dan politik lokal di Kalsel. Berbagai konflik dan peristiwa direkam dalam pemberitaan setiap harinya. Termasuk Pilpres 2004 yang mengantarkan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden RI pertama yang dipilih secara langsung (sebelumnya, presiden dipilih MPR). Juga pemilihan kepala daerah langsung pertama kali di Kalsel (2005) yang mengantarkan mantan Bupati Banjar Rudy Ariffin menjadi Gubernur Kalsel.

 TETAP RELEVAN

Hari ini, 23 tahun usia Radar Banjarmasin, tentu tantangan yang dihadapi sudah jauh berbeda. Lanskap industri media berubah. Bukan lagi sekadar berkompetisi dengan sesama media, tetapi harus menghadapi arus besar digitalisasi, dan berbagai perkembangan teknologi yang membuat setiap orang hari ini sudah menjadi “wartawan” lewat banyak saluran media.

Kalau sebelumnya publik biasa mengelompokkan perusahaan seperti Radar Banjarmasin sebagai media arus utama (mainstream), dan yang selain itu sebagai non-media, kini batasannya sudah semakin tersamar. Yang disebut arus utama itu sudah penuh sesak juga dengan berbagai jenis platform, dari media online dalam bentuk website, hingga akun-akun medsos. Dari yang memiliki lembaga jelas (badan usaha) sampai pribadi-pribadi yang menyebut dirinya influencer atau content creator.

Dulu media menjadi sumber utama informasi bagi publik, di mana informasi tersebut sudah lebih dulu dipilih dan disaring melalui tangan redaktur dan editor di ruang redaksi. Kini, informasi bisa beredar begitu cepat tanpa saringan yang memadai, menjadi viral dan trending topic sebelum sempat diverifikasi validitasnya. Seseorang yang kebetulan menyaksikan suatu peristiwa, lalu merekam peristiwa itu melalui ponselnya, bisa tiba-tiba menjadi “pewarta” ketika dia menyebarkan rekaman video tersebut ke medsos.

Maka yang bisa dilakukan media seperti Radar Banjarmasin adalah beradaptasi. Menyesuaikan diri. Tetap relevan di tengah perubahan pola konsumsi informasi publik. Bertransformasi menjadi media multiplatform, melakukan konvergensi konten di semua saluran yang tersedia demi mengikuti selera dan preferensi publik. Tentu, bukan semata-mata itu. Pengalaman 23 tahun sebagai perusahaan pers menuntut awak Radar Banjarmasin tetap wajib memproduksi konten yang mutunya terjamin sesuai standar jurnalistik.

Dirgahayu Radar Banjarmasin. Selamat merayakan milad ke 23 tahun. Semoga terus menjadi relevan dan tetap “masin” di tengah gempuran perubahan zaman. Sesuai tema HUT tahun ini, Adaptif dan Tangguh, ingatlah kata-kata Charles Darwin ini: bukan yang paling pintar dan paling kuat yang akan bertahan, melainkan yang paling bisa beradaptasi dengan perubahan. ***

(Penulis adalah pendiri Radar Banjarmasin sekaligus Pemimpin Redaksi periode 2001 – 2007. Saat ini Direktur di Kaltim Post Group)

Editor : Arief
#HUT Radar Banjarmasin