Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sekumpul dan Cahaya Literasi Umat

M. Syarifuddin • Selasa, 16 Januari 2024 | 12:37 WIB

PENUH: Kondisi Haul Guru Sekumpul pada saat malam hari diambil melalui foto udara, Minggu (14/1).
PENUH: Kondisi Haul Guru Sekumpul pada saat malam hari diambil melalui foto udara, Minggu (14/1).
BAGI kita orang Banjar, ketika mendengar kata "Sekumpul" tentu yang terbayang adalah seorang ulama besar yang bernama KH Muhammad Zaini Abdul Ghani atau yang sering disebut Guru Sekumpul. Setiap tahun, wafatnya diperingati, dan tahun 2024 ini memasuki haul ke-19.

        Oleh AHMAD SYAWQI
        Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

Haul untuk umum pada Ahad malam, 14 Januari 2024 atau 2 Rajab 1445 Hijriah di Musala Ar-Raudah Sekumpul di Martapura. Untuk undangan khusus dilangsungkan pada Rabu, 17 Januari 2024 atau 5 Rajab 1445 H di kediaman almarhum Abah Guru. Kemudian ada tambahan haul pada Ahad malam, 21 Januari 2024 atau 9 Rajab 1445 H di Musala Ar-Raudah.

Sekumpul adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Perubahan terjadi dalam penyebutan kawasan itu. Semula, sekitar Hutan Karamunting itu masyhur dengan sebutan Sungai Kacang. Ketika pengajian hijrah, KH Muhammad Zaini Abdul Ghani mempopulerkan nama baru: Sekumpul. Memang, sejak pertengahan 1970-an, kawasan itu sebagian ada yang menamakan Sekumpul.

Namun, panggilan tersebut tidak populer dan banyak orang yang justru tidak kenal serta masih menyebutnya Sungai Kacang. Hingga tahun 1980-an, di ujung jalan yang bermuara di Jalan Ahmad Yani, terpampang plang nama Jalan Sungai Kacang. Ketika Guru Sekumpul pindah, terminologi Sekumpul mulai dikenal orang. Sampai saat ini, Sekumpul menjadi magnet yang luar biasa bagi orang yang pernah berkunjung dan menuntut ilmu di Sekumpul.

Perubahan nama juga menjadi awal dari pergantian sapaan akrab ulama yang merupakan keturunan ke-8 dari ulama besar Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari itu. Beliau dilahirkan pada malam Rabu 11 Februari 1942 di Desa Dalam Pagar, Martapura Timur, dari pasangan suami istri Abdul Ghani bin Abdul Manaf bin Muhammad Seman dengan Masliah binti Mulia bin Muhyiddin.

Di tempat lama, panggilan sang kiai cenderung beragam. Ada yang menyapa Guru Zaini, Guru Ijai, hingga Guru Keraton. Ketika hijrah ke Sungai Kacang itulah dia populer dengan nama baru: Guru Sekumpul.

Populernya nama Sekumpul membawa berkah pula bagi pencari merek dagang. Tak heran banyak warung, toko, restoran atau kedai kaki lima bernama Sekumpul. Bahkan, PT Mandrapurna Aditama menjadikan Sekumpul sebagai merek dagang untuk produk air mineral kemasan. Konon, kejayaan air merek Sekumpul berhasil mengalahkan pesaingnya, semisal Aqua, Club ataupun Prof, setidaknya untuk kawasan Martapura dan sekitarnya.

Dalam kondisi kekinian, citra Sekumpul masyhur hingga menembus batas regional. Guru Sekumpul bisa diibaratkan sebagai maestro Bumi Serambi Mekkah Martapura.

Magnet Majelis Ilmu Sekumpul

Ulama diciptakan untuk waktu dan tempat yang tepat. Begitulah ungkapan yang kerap muncul untuk mendefinisikan peran ulama di Martapura. Di Bumi Barakat ini, ulama memegang posisi penting untuk membina dan menuntun umatnya. Deretan nama ulama besar menghiasi lembaran sejarah sesuai situasi dan waktu yang berkembang.

Sebagai gudangnya para aulia, tradisi keulamaan di Martapura tetap lestari kendati berpacu dengan maraknya era globalisasi. Ia seakan tidak lapuk oleh hujan dan tak lekang lantaran panas. Kebesaran sang ulama terkenal karena kealiman, kezuhudan, kewibawaan, dan ketokohannya dalam bidang dakwah dan syiar Islam.

Di bumi Kalimantan, Guru Sekumpul sangat disayangi masyarakat berkat sikap tawadunya, keramahannya dalam bersosialisasi, suara merdunya, tutur katanya yang lembut, semuanya membuat hati masyarakat tersentuh. Dan secara perlahan masyarakat mulai mengikuti setiap pengajian di Musala Ar-Raudah sebagai majelis ilmu yang mengajarkan berbagai literasi ilmu agama.

Hingga saat ini bahkan jemaah dari majelis yang dibangun dan diasuh oleh Guru Sekumpul pun sudah mencapai ribuan hingga jutaan orang. Semua jemaah yang mengikuti majelis beliau tentunya sangat merindukan dan merasakan sejuknya ilmu yang beliau ajarkan kepada umat yang selalu merasa haus dengan pengajaran beliau yang mampu memberikan kesejukan ke dalam hati umat.

Banyaknya jemaah majelis pengajian di Musala Ar-Raudah yang hadir ternyata tidak menyurutkan keinginan beberapa jamaah bangsa jin juga untuk turut hadir di majelis itu. Seorang ulama yang memiliki murid bangsa jin, bukan merupakan hal yang salah, bahkan itu merupakan hal yang spesial tersendiri, berarti dakwahnya menjangkau ke alam sana. Sejak zaman nabi, banyak bangsa jin yang menyatakan keimanan dan keislamannya di hadapan Nabi Muhammad SAW.

Bahkan menurut Rasulullah, sambutan mereka dalam menerima Islam justru lebih antusias daripada bangsa manusia.

Menurut Abah Guru Sekumpul sendiri sewaktu di pengajian beliau menceritakan bangsa jin yang hadir di majelis ini kebanyakan adalah zuriah atau anak cucu Datu Bedok, jin dari Timur Tengah yang dulu berbai'at (berjanji) setia untuk berkhadam kepada Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan keturunannya.

Datu Bedok menurunkan dua zuriah, yaitu Abdul Qahhar dan Abdul Qahhir, dua jin inilah yang selalu hadir di majelis Sekumpul serta membantu keamanan dalam pelaksanaan pengajian di Sekumpul dan bersama anak cucunya. Mereka siap selalu mengabdi dan berkhadam kepada keturunan Datu Kelampayan.

Meski guru Sekumpul sudah wafat 19 tahun yang lalu pada 5 Rajab 1426 H/10 Agustus 2005, namun kecintaan umat kepada beliau makin bertambah. Semoga kita semua bisa mengikuti akhlak mulia beliau dan mengumpulkan kita semua bersama orang-orang yang saleh/salehah dalam surganya di akhirat kelak. Amin.

Editor : Arief
#Sekumpul #Literasi