Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Milad Muhammadiyah dan Sang Cendekia

M. Syarifuddin • Selasa, 16 Januari 2024 | 12:34 WIB


TEGUH PAMUNGKAS
TEGUH PAMUNGKAS

PADA Sabtu 13 Januari 2024, milad ke-111 Muhammadiyah Wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) diselenggarakan. Pelaksanaan kegiatan bertempat di Balai Kota Banjarmasin, Jalan RE Martadinata Nomor 01.

        Oleh TEGUH PAMUNGKAS
        Penulis lepas, warga di Pelaihari

Kegiatan tersebut dihadiri Prof. Hilman Latief selaku Bendahara Umum PP Muhammadiyah dan Ustaz Bachtiar Natsir sebagai bintang tamu. Dalam sambutannya, Staf Ahli Gubernur Kalsel Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Sulkan mengatakan, "Tidak ada yang bisa meragukan kemampuan Muhammadiyah dalam mengelola pendidikan, dakwah, dan ekonomi umat."

Sementara di tingkat nasional, resepsi Milad Muhammadiyah diselenggarakan tepat pada 18 November 2023 lalu. Lokasinya di gedung Sportasium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan mengusung tema "Ikhtiar Menyelamatkan Semesta".

Sedikit bercerita, organisasi Muhammadiyah didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan pada 8 Zulhijah 1330 Hijriyah yang bertepatan dengan tanggal 18 November 1912 di Jogja. Berangkat dari keprihatinan dan keresahan sosial, menjadikan Islam sebagai jalan kehidupan, dengan pemikirannya dianggap bisa merespons kondisi zaman.

Persyarikatan Muhammadiyah berdiri pada 111 tahun yang lalu. Memasuki tahun 1923, atau sebelas tahun kemudian, pada bulan April Muhammadiyah cabang Alabio berdiri. Tokoh pendiri Muhammadiyah di Alabio adalah M Japeri. Beliau bersama temannya yang bernama Usman Amin membesarkan organisasi di sana.

Di masa-masa perkembangan selanjutnya, seorang mualaf asal Tiongkok bergabung dengan Muhammadiyah di Rantau pada tahun 1940, beliau turut andil besar dalam memajukan organisasi. Adalah Liem Ho Ho, kisahnya diangkat oleh Radar Banjarmasin pada edisi 18 November 2022 lalu.

Secara nasional, ada beberapa amal usaha yang dikelola oleh Muhammadiyah. Di bidang pendidikan sebanyak 20.233 TK, PAUD dan KB, ada 2.817 SD/MI, sejumlah 1.826 SMP/MTS dan sebanyak 1.364 SMA/MA. Selanjutnya sebanyak 171 perguruan tinggi dan 440 pesantren. Dan 562 panti asuhan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sementara itu, di bidang kesehatan, Muhammadiyah memiliki dan mengelola 355 rumah sakit atau klinik. Berbagai bidang yang dikelola Muhammadiyah, kehadirannya semua untuk umat dan masyarakat Indonesia. Pada bidang kesehatan dan sosial, Muhammadiyah turut berperan aktif dalam kepedulian kesehatan masyarakat. Membantu masyarakat pada sektor kesehatan dan pendampingan sosial.

Terlebih di saat pandemi covid-19 melanda Indonesia. Selain rumah sakit dan klinik pemerintah, rumah sakit dan klinik (PKU) Muhammadiyah membersamai masyarakat dalam menghadapi pandemi. Dengan sigap para relawan dari MDMC bersiaga ketika ada bencana. Aksi sosial tanggap darurat bencana dari Muhammadiyah Kalsel bersama dengan pemerintah peduli terhadap bencana.

Sang Cendekia

Di tahun 2022 lalu, dua sosok cendekiawan muslim telah tiada. Pada 18 September, media massa memberitakan wafatnya seorang cendekiawan muslim Indonesia yang bernama Prof Azyumardi Azra. Beliau mengalami serangan jantung dalam perjalanan dari Jakarta menuju Selangor, Malaysia.

Dan sebelumnya pada 27 Mei, Prof Ahmad Syafii Maarif atau biasa disapa Buya Syafii. Banyak yang merasa kehilangan atas kepergian dua sosok guru bangsa ini. Mereka bukan hanya tokoh lintas kerukunan dan antar umat beragama di Indonesia, tetapi kepeduliannya terhadap bangsa mengantarkan harmonisasi dalam kehidupan bersama sebagai warga Indonesia.

Prof Azra (1999) menuangkan perkembangan politik dan ekonomi pascareformasi dalam bukunya "Menuju Masyarakat Madani", sumbangsih pemikiran sebagai usaha membangun masyarakat sipil Indonesia. Pesan beliau, jangan sampai atribut hidup kebangsaan dan harga diri nasionalisme kita rela dirampas oleh nafsu-nafsu. Lepaskan dan jauhkanlah tradisi keserakahan, penindasan dan kebodohan seperti di zaman penjajah. Sebab kita merasakan sendiri bagaimana rasanya dijajah tiga setengah abad lebih. Karena itu, tidak sepatutnya apa yang kita rasakan menimpa orang lain dan generasi muda yang akan datang.

Buya Syafii pun berpesan untuk menjaga keutuhan negara Indonesia. Mari kita merajut kembali anyaman kehidupan berbangsa. Kita sama-sama berbenah kembali agar kita tetap siap dan bisa menyongsong masa depan bangsa semakin cerah. Secara tulus dan ikhlas menjaga erat pedoman bangsa. Menurut Buya Syafii sebuah bangsa dapat mengalami kehancuran bila toleransi sosial, agama dan budaya tak mantap dimiliki.

Alam kemerdekaan yang telah diberikan Tuhan dibangun dengan berisikan mentalitas harmonisasi sosial, kestabilan politik dan ekonomi. Dengan semangat memiliki, mari berpikir sejenak tentang apa yang telah kita perbuat untuk bangsa dan umat manusia. Membiasakan bertindak secara nyata dalam membangun bangsa tanpa berburuk sangka dan merampas hak-hak orang lain.

Merdesa dan merdeka berjalan seirama. Dalam kamus Bahasa Indonesia merdesa berarti "patut dan beradab". Memang kita bebas dari penghambaan atau penjajahan, maka merasakan hidup layak sesuatu yang ingin diraih pula, baik dari segi ekonomi, pendidikan maupun kesehatan.

Pemikiran Prof Azra tentang Islam dan sendi kehidupan, bahwa manusia diciptakan Tuhan sebagai penanggung jawab atas bumi yang diciptakan-Nya. Segala isi bumi diserahkan pada manusia, itulah salah satu ciri kebesaran-Nya. Manusia diberi kewenangan untuk menggunakan dan mengeksplorasinya. Manusia sebagai makhluk bumi, keberadaan manusia menjadi penentu kelangsungan kehidupan di dunia. Dengan potensi yang ada, manusia diperbolehkan mempelajari, tetapi harus tetap berpijak pada keterjagaan dan kelestariannya.

Selain hidup dengan alam ini, manusia pun hidup bersama masyarakat. Tempat bersosial dan berinteraksi. Di dalamnya terdapat rasa tolong menolong, persaudaraan, toleransi dan saling bersahabat. Menjalani kehidupan dengan akal dan budi pekerti.

Mungkin tulisan ini hanya catatan kecil di momen Milad Muhammadiyah. Sekaligus guna mengenang dua sosok kader Muhammadiyah melalui pemikiran-pemikirannya. Sumbangsih pemikirannya dalam menjaga kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara untuk senantiasa harmonis.

Editor : Arief
#Opini