Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kelemahan-Kelemahan Anies

M. Syarifuddin • Senin, 15 Januari 2024 | 10:21 WIB
Muhammad Syarafuddin, Redaktur
Muhammad Syarafuddin, Redaktur

BOSAN rasanya membaca puja puji untuk Anies Rasyid Baswedan di media sosial. Saya lebih tertarik untuk mengorek-ngorek kelemahan atau kekurangannya.

              Oleh MUHAMMAD SYARAFUDDIN
              Redaktur di Radar Banjarmasin

Oke, Anies memang charming. Gagasannya brilian. Public speaking-nya bagus banget. Fisiknya bugar. Citranya saleh. Jejak rekamnya juga mentereng.

Tetapi saya menjadi boring dengan narasi yang serba mengkilap itu.

Langsung saja, kelemahan pertama Anies adalah ia terlalu intelek.

Gagasan tentang reformasi BUMN, contract farming, upgrade 40 kota, dan slepetnomics memang mengesankan. Tapi kelewat tinggi.

Seorang sarjana ekonomi bisa mencernanya dengan mudah. Masalahnya, dari 277 juta jiwa penduduk Indonesia, hanya 4,5 persen atau 12,4 juta jiwa yang lulus S1.

Lulusan S2 cuma 0,3 persen. Apalagi S3 yang hanya 0,02 persen. Itu mengacu data Kementerian Dalam Negeri per Desember 2022.

Sedangkan masyarakat yang berpendidikan rendah, cenderung minder berhadapan dengan seorang intelektual.

Minimal merasa kurang nyaman. Maksimal merasa curiga.

Contoh saat pandemi covid kemarin. Seorang dokter spesialis paru-paru di-bully ketika mengimbau warga mengenakan masker. Seorang epidemiolog dicerca saat mengajak vaksinasi.

Saya sampai berkesimpulan, mayoritas orang Indonesia cenderung anti sains. Di sini kepakaran tidak dihargai.

Anies mesti belajar kepada Joko Widodo. Suka tidak suka, beliau adalah master bahasa wong cilik.

Anies bisa memulainya dengan mengurangi kebiasaan ngomong dalam bahasa campuran Indonesia-Inggris.

Kedua, tergoda strategi dua putaran. Pemilu tinggal sebulan lagi. Anies dan timnas lebih baik fokus pada pemenangan. Jangan buru-buru berbicara koalisi dengan kubu 03.

Adalah sebuah angan-angan untuk menang satu putaran. Bahkan buat kubu 02 yang di-endorse presiden sekalipun.

Idealnya, 01 dan 03 yang lolos putaran kedua. Sebab Ganjar Pranowo adalah rival yang seimbang. Namun, ini harapan yang muluk.

Ketika nanti 01 versus 02, besar kemungkinan 03 akan merapat ke Anies. Itu artinya kemenangan yang tak terbendung.

Tetapi, masuknya PDI Perjuangan akan membuat visi perubahan menjadi semakin tidak relevan.

Saya tidak anti PDIP. Saya paham, esensi demokrasi adalah kompromi. Tapi Anies adalah figur yang diusung oposisi.

Bergabungnya PDIP akan membuat Anies kesulitan menyusun kabinet berlandaskan meritokrasi yang dijanjikannya.

Sebab politik transaksional akan menguat. Partai-partai pendukung bakal meminta jatah menteri yang tidak sedikit.

Kekurangan ketiga sebenarnya tidak langsung mengena pada Anies, tetapi pada sebagian barisan suporternya.

Pendukung 01 harus ditarik agar kembali membumi. Jangan galak-galak saat membela junjungannya.

Untuk menarik simpati pemilih bimbang (undecided voters), apalagi generasi Z yang tidak memiliki ingatan tentang Orde Baru, reformasi 1998, dan polarisasi di Pilpres 2019, sikap galak tidak akan membantu.

Namun, kawan-kawan kerap menunjuk titik lemah Anies terletak pada cawapresnya. Sebaliknya, saya justru melihat Muhaimin Iskandar sebagai kekuatan tambahan.

Cak Imin bisa menggaet suara Nahdliyin, para kiai, dan pengasuh ponpes di Jawa. Cak Imin juga membantu mengikis stigma politik identitas yang kadung disematkan pada Anies.

Dan nanti, andaikan Anies masuk istana, seorang teknokrat seperti dirinya bakal dihajar para politisi gaek. Saya cukup yakin Cak Imin mampu menghalaunya.

Jika Anda mengikuti sepak terjangnya selama memimpin PKB, partai terbesar keempat di Indonesia, Cak Imin seorang politikus cerdik. Julukannya Si Kancil.

Publik sering meremehkan keponakan Gus Dur itu. Dalam term sepak bola, the most underrated player.

Hemat kata, Surya Paloh meminang Cak Imin bukan karena ia bakal tampil memesona di debat KPU.

Editor : Arief
#OPINI METRO #Opini Metropolis