Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

The Lesser Evil

M. Syarifuddin • Sabtu, 16 Desember 2023 - 18:59 WIB
Muhammad Syarafuddin, Redaktur
Muhammad Syarafuddin, Redaktur

SURVEI Litbang Kompas yang dirilis 11 Desember 2023 kemarin tidak mengejutkan, namun menarik.

Pasangan capres cawapres Prabowo-Gibran masih unggul dengan 39,3 persen. Sedangkan Anies-Cak Imin (16,7 persen) menyalip Ganjar-Mahfud (15,3 persen).

Sekali lagi, tidak mengejutkan. Tapi menjadi menarik karena jumlah pemilih bimbang bertambah hingga 28,7 persen.

Mengingat pemilu hanya tinggal dua bulan lagi, kelompok pemilih bimbang sebesar itu bisa menentukan nasib Pilpres 2024—apakah bakal dua putaran atau cukup satu putaran.

Siapa sebenarnya pemilih yang masih ragu-ragu itu?

Kompas mengungkap, mereka adalah kelompok yang tidak punya ikatan ideologis dengan partai atau figur tertentu. Pada Pilpres 2019 kemarin, banyak dari mereka yang golput.

Mereka adalah mayoritas pemilih semi tua dari generasi X. Kebanyakan perempuan. Tinggal di pedesaan dan hanya mengenyam pendidikan dasar.

Kaum Nahdliyin juga bagian dari kelompok bimbang ini. Rupanya, orang NU dibuat bingung oleh Muhaimin Iskandar atau Mahfud MD.

Mungkin sekali kelompok pemilih bimbang ini mengecil setelah menonton debat perdana Selasa (12/12) kemarin. Mungkin.

Sebelum survei Kompas dirilis, sejauh masa kampanye berjalan, mata batin saya (kalbu saya terkadang berkabut, jadi tolong dimaklumi) melihat tiga kecenderungan dari undecided voters ini.

Kepada pasangan nomor urut 1, mereka terkesan dengan Anies. Tapi kurang sreg dengan Cak Imin.

Soal pasangan nomor urut 2, merasa oke dengan Prabowo. Namun keberatan dengan Gibran karena pelanggaran etik berat di Mahkamah Konstitusi.

Untuk pasangan nomor urut 3, mereka mempercayai integritas Mahfud. Biasa-biasa saja dengan Ganjar. Tapi takut dengan PDI Perjuangan di belakangnya.

Bagaimana menghadapi kebimbangan-kebimbangan ini? Saya punya resepnya, tanpa garansi manjur.

Pertama, jangan mau dikibuli dua kali. Jangan terkecoh oleh logika "lesser of two evils". Artinya, jika disodori dua pilihan buruk, maka ambil yang jahatnya agak mendingan.

Logika itu pernah dipakai dalam kampanye Pilpres 2016 di Amerika Serikat. Hillary ditampilkan sebagai the lesser evil dan Trump dicap sebagai the greater evil.

Keduanya memang sama-sama setan, tapi kadar kesetanan Hillary agak mendingan.

Narasi lesser of evil ini pernah di-copas kubu Jokowi-Ma'ruf ketika melawan Prabowo-Sandi pada 2019 silam.

Hasilnya kita tahu. Politik ternyata bukan soal orang jahat versus orang baik. Politisi bukan setan yang bervariasi, mereka cuma kepentingan yang berbeda.

Saya bertanya-tanya, mengapa saban kali pemilu masyarakat harus disodori pilihan-pilihan buruk?

Saya kira, pendidikan politik di Indonesia akan selangkah lebih maju ketika kampanye membangun narasi the greater good, alih-alih the lesser evil.

Dan the greator good tampak dari rekam jejak dan gagasan. Bukan semata bermodal slogan "orang baik pilih orang baik".

Kebimbangan seseorang lebih mudah terangkat ketika ia diminta membantu yang terbaik berkuasa.

Editor : Arief
#OPINI METRO