Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Surat Terbuka Kepada GM

Arief • Rabu, 15 November 2023 | 08:43 WIB

Photo
Photo
SIAPA sangka Goenawan Soesatyo Mohamad bisa senaif itu. Redaktur cum penyair sekaliber GM, menangis di layar kaca untuk seorang politikus asli Solo.

        Oleh: Muhammad Syarafuddin
        Redaktur di Radar Banjarmasin

Sebagai pembaca setia Catatan Pinggir, I am disappointed but not surprised.

Sejak dahulu GM dengan sadar memilih menjadi partisan. Pada Pemilu 2019 ia berdiri di belakang Joko Widodo. Seperti pengakuannya, ia bukan pendukung yang pasif. GM aktif menggalang dukungan seniman untuk Jokowi.

Ah, siapalah saya ini, wartawan kemarin sore yang tidak berhak menghakimi pilihan politik GM.
Namun persoalannya, ini GM yang legendaris itu.

Zaman Orde Lama, GM ikut meneken Manifesto Kebudayaan 1964—yang diplesetkan Lekra dan Harian Rakjat menjadi Manikebu.

Manikebu kemudian dilarang Presiden Sukarno. Akibatnya GM harus memakai nama samaran Sutisna Aji untuk menulis di media massa.

Zaman berubah, dan GM menyaksikan majalah Tempo yang ia dirikan diberedel rezim Suharto.
GM adalah pemimpin redaksi terlama dalam sejarah Tempo. Menjabat pemred sejak tahun 1971 sampai 1993, periode kedua pada 1998 sampai 1999.

Catatan Pinggir miliknya adalah kolom dengan napas terpanjang dalam sejarah jurnalistik Indonesia.

Nyaris setengah abad, selama 46 tahun GM rutin menulis Caping.

Hasilnya adalah 2.027 tulisan, 1,5 juta kata, dan 15 jilid buku—di rak buku saya ada enam jilid. GM pensiun menulis Caping pada 5 Maret 2023.

Belum terhitung buku kumpulan puisinya. Seperti Misalkan Kita di Sarajevo, yang semasa kuliah saya pinjam dari perpustakaan untuk difotokopi.

Sungguh, GM tak perlu merusak reputasi dan kesepuhannya.

Maksud saya, bukan hanya air mata yang tumpah di televisi—luapan kekecewaan GM atas nepotisme Presiden Jokowi dan Ketua Mahkamah Konstitusi pecatan Anwar Usman, demi memuluskan pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden.

GM tetap bisa mengkritik presiden, ipar dan putra sulungnya dengan cara yang elegan.

Tapi GM sudah kelewatan saat mengunggah meme foto Jan Ethes (cucu presiden) di X (Twitter). Apa salah anak sekecil itu?

GM juga tak perlu ikut-ikutan me-retweet video mantan pacar Kaesang Pangarep, Felicia Tissue. Lebay amat.

Kenaifan GM juga tampak ketika ia mencemaskan kembalinya Orde Baru.

Mungkin GM terlewat. Kita tak perlu menunggu Prabowo Subianto naik menjadi presiden untuk tiba pada kekhawatiran itu.

Beberapa tahun terakhir, Jokowi yang dipuja GM telah mencederai cita-cita Reformasi 98. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dimandulkan. Oligarki dan investor asing dimanja. Doktrin dwifungsi ABRI kembali dengan wajah baru. Dan nepotisme tumbuh subur.

Di Ubud, Bali, GM dapat menikmati masa tuanya dengan melukis dan menulis puisi. Bukan malah mengetik tweet-tweet bernada cringe.

Semoga anak dan cucunya lekas menyadari. Menjauhkan smartphone dari tangan GM. Sebab di umur 82 tahun, orang pada usia segitu memang sedang tidak lucu-lucunya.

Editor : Arief
#OPINI METRO