Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Film Saranjana: Keindahan Banua dan Pesan Moral

Arief • Rabu, 15 November 2023 | 07:49 WIB

PANCA IRVAN SUJIANTO
PANCA IRVAN SUJIANTO
KITA tentang Kota Gaib Saranjana bukanlah merupakan hal baru bagi warga Kalimantan Selatan, apalagi cerita yang sudah dikenal lama secara turun temurun tersebut kembali viral menjadi pembicaraan masyarakat tidak hanya terbatas di Kalimantan, namun juga secara nasional.

     Oleh PANCA IRVAN SUJIANTO
      Konsultan manajemen

Kabar mengenai pemesanan alat berat oleh pengusaha Kotabaru yang tidak diketahui dengan jelas siapa sebenarnya pemesannya di era 80-an, lalu pengakuan artis tanah air Ari Lasso yang menceritakan kejadian aneh saat konser di Kotabaru, kemudian diikuti cerita penampakan foto kota modern penuh gemerlap lampu yang diambil di atas Bukit Mamake, serta berbagai berita lainnya yang beredar di masyarakat, menambah rasa penasaran akan keberadaan kota misterius ini.

Saranjana yang dipercaya memiliki peradaban yang lebih maju ini masih merupakan teka-teki dan menjadi magnet perhatian banyak pihak untuk mengetahui keberadaan dan situasi di Saranjana.
Hal ini yang kemudian melatarbelakangi rumah produksi Dari Hati Film (DHF) Entertainment untuk mengangkat film kota gaib Saranjana ke layar lebar. Film ini telah tayang sejak 26 Oktober 2023 di Indonesia dan direncanakan akan beredar di Malaysia, Brunei dan Singapura. Hingga hari ini penayangannya masih menyedot animo masyarakat, terlebih lagi di akhir pekan.

Secara singkat, film ini menceritakan petualangan grup musik yang sukses mengadakan konser di Kotabaru. Mereka mengalami kejadian aneh, yaitu hilangnya sang vokalis di pulau tersebut. Penduduk lokal meyakini bahwa vokalis tersebut telah berada di kota tak kasat mata Saranjana.

Akhirnya para anggota band yang lain berusaha menyelamatkan rekannya yang hilang melalui pencarian pintu atau portal menuju Saranjana. Petualangan menghadapi rintangan dan bahaya dilalui oleh para anggota band tersebut untuk dapat menemukan sahabatnya. Sepanjang perjalanan mereka menemukan kejadian-kejadian aneh. Waktu yang mereka miliki sangat singkat, yaitu hanya tujuh hari dengan konsekuensi apabila mereka tidak dapat menemukannya, maka mereka harus merelakan sahabatnya untuk selama-lamanya.

Keindahan Alam dan Budaya

Salah satu kekuatan film ini adalah pesona alam di Kalimantan Selatan yang menjadi latar belakang petualangannya. Pengambilan gambar dilakukan di tiga daerah, yaitu Kotabaru, Hulu Sungai Tengah (HST) dan Hulu Sungai Selatan (HSS).

Kita akan menyaksikan suasana hutan dan pohon kariwaya di Puncak Halau-Halau di Pegunungan Meratus yang berada di ketinggian 1901 mdpl. Pohon kariwaya merupakan pohon sejenis beringin berakar kuat dan pada batangnya terdapat lubang besar mirip pintu gerbang yang dapat dilewati manusia. Pohon ini dikeramatkan oleh masyarakat Dayak Meratus.

Pada adegan lain kita dapat melihat pula keunikan kehidupan masyarakat sepanjang sungai dan rawa di HSS serta indahnya bentangan pantai di Kotabaru. Bagi Penulis, salah satu momen yang paling memanjakan mata adalah momen perjalanan membelah sungai besar khas Kalimantan menggunakan perahu kecil yang biasa disebut jukung, sembari menyaksikan kehidupan sederhana penduduk pesisir sungai.

Selain keindahan alam, kita juga akan menyaksikan adat budaya Banjar yang menawan. Pertama, baju khas dari daerah Kalimantan Selatan yang biasa digunakan dalam upacara perkawinan tradisional. Untuk pria, baju ini umumnya berwarna cerah dan dilengkapi penutup kepala panjang khas Banjar. Sedangkan untuk perempuan, diperlihatkan pakaian adat klasik Banjar yang sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu. Pakaian adat yang identik dengan hiasan rangkaian melati di bagian kepala, disebut pakaian adat Bagajah Gamuling Baular Lulut.

Kedua, kita akan melihat tarian topeng Banjar diiringi musik khas yang penuh dengan nuansa magis. Dulunya tarian ini dipergunakan dalam upacara sakral, namun dalam perjalanan waktu digunakan sebagai hiburan semata.

Terdapat pula adegan yang menggunakan dialog Banjar sehingga makin membawa kita ke suasana kehidupan sehari-hari di Banua. Selanjutnya dapat kita saksikan juga ritual upacara pemakaman unik di daerah berawa dengan menggunakan tabala atau peti mati yang dilengkapi pemberat supaya tidak muncul ke permukaan rawa. Saat ini upacara pemakaman tersebut masih dapat kita jumpai di Desa Nagara, HSS.

Tak lupa pula akan kita jumpai senjata khas suku Dayak yaitu Mandau yang berbentuk parang, kaya akan makna simbolis dan melambangkan keberanian.

Pesan Moral

Film yang mengusung genre horor misteri ini tak hanya membuat penonton merinding ketakutan dengan sajian penampakan berbagai jenis hantu, namun juga menyampaikan pesan moral bagi para penontonnya. Penulis mencermati, terdapat beberapa bagian film yang mengajarkan nilai-nilai positif.

Pertama, rajin beribadah dan mengingat Tuhan. Apabila kita tekun beribadah dengan penuh keikhlasan dan ketulusan, pasti akan mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah. Beribadah harus dilakukan dalam kondisi dan keadaan apapun sehingga akan dimudahkan segala urusan, cobaan dan terhindar dari bahaya.

Adegan film menggambarkan beratnya tantangan beribadah saat perjalanan menembus hutan, di sinilah keteguhan iman seseorang akan menentukan konsistensi dalam beribadah.

Kedua, ikhlas menjalani takdir. Seringkali kita punya keinginan untuk bisa kembali ke masa lalu, bertemu dengan orang-orang yang kita sayangi dan bahkan merubah takdir.

Hal tersebut wajar dan sangat manusiawi mengingat kita sebagai manusia biasa selalu berusaha untuk menyempurnakan diri. Namun, kita harus dapat mengendalikan semua keinginan tersebut dan yakin bahwa takdir terbaik telah ditetapkan oleh Tuhan. Saat kita tidak bisa menerima realitas dan terus menyesali masa lalu maka akan dapat menimbulkan masalah bagi kita sendiri.

Ketiga, kesetiaan dalam pertemanan. Persahabatan diuji pada saat teman kita sedang mengalami masalah atau kesulitan. Sahabat sejati adalah mereka yang bersedia menempuh segala risiko untuk menolong temannya sekalipun mengetahui terdapat bahaya yang mengadang.

Keempat, kita harus berani menghadapi masalah yang ada di depan kita dan mencari solusi penyelesaiannya, bukannya lari dari persoalan.

Rasa kekecewaan yang tidak dikontrol akan dapat membawa seseorang menjadi depresi dan berusaha lari dari kenyataan. Salah satu nilai yang diajarkan dalam film ini adalah perlunya komunikasi sehingga tidak terdapat kesalahpahaman.

Kelima, fokus pada pencapaian tujuan, namun tidak menghalalkan segala cara untuk meraih tujuan tersebut.

Ketika memiliki keinginan kuat untuk mencapai tujuan tertentu, kita harus melakukan upaya terbaik untuk dapat meraih keinginan tersebut. Kita diajarkan untuk fokus pada pencapaian tujuan dan tidak menghalalkan semua cara yang tidak benar yang dapat merugikan orang lain.

Selain nilai-nilai moral yang didapat penulis di atas, tiap penonton film Saranjana mungkin akan menemukan pesan-pesan kehidupan lain yang digambarkan pada setiap tokoh cerita.

Harapan Pada Perfilman Lokal

Bagi yang telah mengenal kekayaan budaya Kalimantan Selatan dan ingin mengetahui cerita tentang kota Saranjana, tentunya masih akan penasaran dengan penggambaran Saranjana dalam film tersebut. Minimnya gambaran kota Saranjana masih menyisakan beribu misteri. Penulis menyarankan perlunya eksplorasi yang lebih dalam untuk menceritakan kondisi dan suasana kota Saranjana.

Namun demikian, bagi mereka yang hanya mengharapkan hiburan film petualangan horor, pastinya akan puas dengan alur cerita yang sangat mudah diikuti. Terlepas itu semua, perlu dipahami bahwa setiap penonton pasti punya pengalaman batin dan latar belakang informasi yang berbeda-beda akan misteri kota Saranjana, sehingga imaji dan kesan yang diperoleh juga berbeda pula.

Sisi menariknya, film ini mampu menghadirkan nilai moral positif dan diharapkan dengan sajian latar belakang daerah Kalimantan Selatan yang menawan mampu menggaet kedatangan wisatawan. Lebih jauh lagi diharapkan dapat membawa efek pelestarian adat budaya banjar serta pengembangan perekonomian masyarakat di sektor pariwisata.

Sebagai tambahan informasi, tercatat di dua tahun terakhir ini muncul film yang juga sarat akan makna yang menggambarkan indahnya Kalimantan Selatan. Yaitu film Jendela Seribu Sungai (2023) dan Matahari dari Bumi Banjar (2022). Semoga di masa mendatang akan lebih banyak lagi film-film yang menyajikan pesona kekayaan budaya Kalimantan Selatan. (*/fud)

Editor : Arief
#Opini #saranjana