Oleh: SYAIFUL BAHRI DJAMARAH
Dosen PAI dan PPG Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Antasari Banjarmasin
Bahkan mungkin tidak ada keluarga baik dari pihak mama (ibu) maupun abah (ayah) yang mengakui sebagai keluarga. Mungkin malu memiliki keluarga miskin. Tidak ada yang bisa diandalkan. Tidak ada yang bisa diharapkan. Karena miskin itu identik dengan tidak punya harta benda, tidak memiliki uang, rumah kontrakan atau memiliki rumah kecil yang buruk, tidak memiliki harta warisan berupa sebidang tanah yang luas, memiliki pekerjaan tetapi dengan pendapatan yang jauh dari memadai. Dicari sehari habis sehari, gaji sebulan hanya mampu memenuhi kebutuhan pokok dan tidak dapat memenuhi keinginan yang lama terpendam.
Akan tetapi, satu hal yang masih dimiliki, yaitu semangat untuk berubah. Semangat itu menguat ketika kita berada pada titik nadir, merasa dihina dan terhina. Dalam keterpurukan ekonomi, tidak pernah pupus berusaha, selalu berusaha meskipun perjuangan hidup sangat berat.
Pengalaman hidup yang luar biasa dan tak pernah terlupakan adalah ketika kita merasa dikucilkan. Dalam perjuangan hidup mencari rezeki, sesuap nasi penuh arti, seteguk air pelipur lara. Kita semua tentu tidak ingin tenggelam dalam lautan kemiskinan. Ingin bangkit dari babak kelam itu.
Demikianlah. Kemiskinan merupakan kekuatan. Kekuatan itu dorongan yang mendorong seseorang untuk keluar dari kemiskinan.
Oleh karena itu, semangat untuk berubah dari kemiskinan merupakan kekuatan untuk mencari jalan keluarnya. Kita disuruh untuk berusaha untuk mendapatkan perubahan. Memaksimalkan ikhtiar, baru menyerahkannya pada takdir. Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubah keadaan mereka sendiri."
Pesan moral dari surat Ar-Rad ayat 11 di atas mengisyaratkan, bahwa kehidupan seseorang tidak akan berubah ke arah yang lebih baik bila hanya menyerah pada nasib. Kemiskinan yang dirasakan tidak akan pernah berubah jika tidak ada keinginan yang kuat berupa ikhtiar untuk mengubahnya.
Memang diakui, di antara sedikit orang yang menyerah pada nasib, masih banyak mereka yang berusaha keras untuk keluar dari penjara kemiskinan. Ingin keluar dari kriteria melarat, sangat miskin, dan miskin, menuju keluarga yang berkualitas. Mereka-mereka ini miskin bukan karena kemiskinan struktural (miskin karena kebijakan pemerintah) atau kemiskinan natural (miskin karena cacat atau lanjut usia), tetapi karena kemiskinan kultural (miskin sejak awal dari keluarga miskin).
Seperti dikutif AN Jamaludin (2016; 261), Emil Salim (mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup era Presiden Soeharto) menyebutkan lima ciri kemiskinan, yaitu (1) tidak memiliki faktor produksi seperti tanah yang cukup, modal dan keterampilan, (2) tingkat pendidikan rendah, tidak sampai tamat SD atau SMP, (3) tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh aset produksi dengan kekuatan sendiri, (4) kebanyakan tinggal di desa, tidak memiliki atau memiliki tanah tapi sedikit, (5) banyak hidup di kota berusia muda dan tanpa skill. Bekerja sebagai buruh kasar, pedagang musiman, tukang becak, pembantu rumah tangga, dan gelandangan.
Banyak jalan yang bisa ditempuh untuk keluar dari kemiskinan. Misalnya, lewat pendidikan. Pendidikan adalah salah satu pembuka jalan untuk keluar dari kemiskinan.
Bagi kita yang miskin, jangan terhenti hanya berpendidikan setingkat SD, SMP atau SMA. Alangkah baiknya diteruskan kuliah ke perguruan tinggi. Jangan jadikan alasan karena tidak punya cukup uang, tidak mau melanjutkan pendidikan ke universitas. Cukup banyak contoh mereka dari keluarga miskin--misalnya, anak tukang becak atau anak pemulung--yang berhasil meraih gelar sarjana. Chairul Tanjung yang sekarang seorang pengusaha nasional adalah Si Anak Singkong dari keluarga miskin.
Biaya kuliah rasanya tidak begitu membebani. Karena sekarang ada beberapa perguruan tinggi, terutama perguruan tinggi negeri, menggunakan sistem subsidi silang. Besar kecilnya biaya kuliah ditentukan berdasarkan standar ekonomi keluarga.
Di Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari misalnya, besar kecilnya pembayaran UKT (Uang Kuliah Tunggal) berdasarkan tingkat pendapatan ekonomi orang tua. Bahkan di UIN Antasari ada beasiswa Bidikmisi. Kartu Indonesia Pintar (KIP) bisa dijadikan pilihan untuk menopang biaya kuliah bagi anak dari keluarga miskin, sangat miskin atau melarat. Jika berprestasi, beasiswa Genbi dari Bank BI, beasiswa Bank BRI dan beasiswa lainnya menanti untuk diraih.
Dengan semua peluang ini, tidak ada alasan bagi anak dari keluarga miskin untuk tidak kuliah. Jadi, persoalannya hanya ada atau tidak semangat untuk berpendidikan demi meraih kehidupan yang lebih baik. Berubah dari keluarga miskin menjadi keluarga berkualitas.
Sekadar berbagi pengalaman. Sewaktu kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari (1985), saya cukup banyak mengetahui mahasiswa dari keluarga miskin. Alhamdulillah, mereka semua sukses studi dengan meraih gelar sarjana (S1). Kemiskinan tidak menjadi rintangan berarti ketika semangat perubahan telah menggelora. Dengan semangat belajar yang tinggi, rintangan tidak ada apa-apanya.
Tanpa uang jajan, memiliki baju seadanya, meski kuliah sambil kerja, ternyata bisa meraih sukses studi. Bahkan terkadang, prestasinya lebih tinggi daripada mahasiswa dari keluarga kaya berduit, yang pulang pergi kuliah naik sepeda motor.
Akhirnya, di mana ada semangat perubahan di situ ada jalan. Kemiskinan bukan soal genetik. Bukan pula jalan hidup yang harus diratapi. Ketika semangat perubahan telah dimiliki, katakan selamat tinggal kemiskinan.
Editor : Arief