Hikmah Al-Hikam ke-17 Al-Imam Syekh Ibnu Atho'illah As-Sakandari
Oleh: H. Muhammad Tambrin
Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel
Hikmah yang ketujuhbelas ini merupakan adab seorang hamba kepada Allah. Apabila Allah menempatkan kita di dalam satu keadaan, baik yang bersifat badan atau hati, dan keadaan itu sudah jelas tidak dicela oleh agama, maka keadaan tersebut kita lazimi. Hendaknya kita membaguskan adab, dan kita rida dengan keadaan yang ditempatkan Allah itu. Hendaknya kita juga tidak berpindah untuk mencari keadaan lain, sehingga Allah sendiri memindahkan kita. Apabila kita berpindah sendiri tanpa ada petunjuk dari Allah, maka berarti kita jahil dengan Allah. Sedangkan jahil dengan Allah itu lebih jahil daripada jahil murakkab.
Jahil itu ada yang disebut jahil basith. Artinya, orang yang tidak tahu sesuatu, dan dia tahu tidak tahu sesuatu. Contohnya seseorang ketika ditanya, kamu tahu apa itu sepeda motor? Dijawab olehnya, tidak tahu. Ini dinamakan jahil basith, jahil yang paling ringan, dan terkadang jahil seperti ini dalam beberapa hal terpuji.
Selanjutnya ada jahil murakkab, orang ini tidak tahu, dan dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Contohnya, ditanya orang, kamu tahu apa itu sepeda motor? Dijawab olehnya tahu, sambil menunjukkan ke kambing yang dianggapnya itu sepeda motor. Berarti orang ini jahilnya dobel, dengan kambing tidak tahu, dengan sepeda motor tidak tahu, bahkan dan dengan dirinya yang jahil tidak tahu. Ini dinamakan dengan jahil murakkab.
Ada lagi yang lebih jahil daripada jahil murakkab ini. Orang yang jahil dengan Allah. Orang yang tidak tahu bahwa Allah yang menciptakan dia. Orang yang tidak tahu bahwa Allah mengatur seluruhnya. Orangnya tidak tahu bahwa Allah menghendaki segala yang terjadi, dan akan terjadi.
Dia tidak tahu bahwa Allah yang memberi rezeki kepadanya. Dia tidak tahu bahwa Allah yang menghidupkan dan mematikan dia. Jahil seperti inilah jahil yang lebih jahil daripada jahil murakkab ini.
Di antara kita, mungkin tidak akan mengaku bahwa kita ini jahil dengan Allah. Tetapi perilaku, tutur kata, kelakuan dan tindakan kita, terkadang itu menunjukkan bahwa kita ini jahil kepada Allah.
Benar tahu sifat 20, karena belajar. Tahu pula perukunan dan kitab segala macam. Tapi, pada kenyataan dalam praktik menunjukkan bahwa dia jahil kepada Allah. Itulah kebanyakan kita manusia.
Tanya saja di antara kita, apakah tahu dengan sifat Allah? Mengetahui saja. Tapi dalam pekerjaan sehari-hari menunjukkan bahwa kita jahil dengan Allah. Buktinya ada dendam di dalam hati kita. Sering kali kita menyalahkan sebab pada segala sesuatu. Kita bergantung dengan sebab. Gembira dan sedih dengan sebab. Itulah praktik-praktik yang menunjukkan bahwa kita jahil dengan Tuhan.
Kemudian, contoh-contoh tentang hikmah yang ketujuhbelas ini, bagaimana adab sebenarnya kepada Allah dalam hal keadaan-keadaan yang kita tempati.
Apabila Allah menempatkan seseorang hamba dalam perdagangan atau pekerjaan lain. Ia dalam berdagang dan usaha itu agamanya tetap selamat. Kewajiban-kewajibannya terlaksana, dan terjaga dari yang haram. Maju usahanya, dan juga terjaga wirid, salat berjemaah, membaca Al-Qur’an, selawat, zikir, ke majelis taklim tidak terganggu, dan usahanya mencukupi untuk nafkah keluarga. Berarti orang ini ditempatkan Allah pada posisi untuk berdagang atau usahanya itu.
Jangan berpindah, kecuali Allah yang memindahkan. Apa tandanya Allah memindah? Antara lain apabila menjalani usaha itu sudah tidak bisa menghindari yang haram. Usaha ini apabila tidak mengerjakan yang haram, tak bisa jalan. Kalau tidak menyogok, tak dapat pekerjaan. Ini menunjukkan usaha ini tidak diridai.
Kalau demikian halnya, dia wajib pindah kepada usaha lain. Itu tanda Allah menyuruh dia pindah. Cari pekerjaan-pekerjaan lain.
Inilah dimaksud oleh hikmah yang ketujuhbelas ini. Sekarang kita ukur pekerjaan kita masing-masing, apakah pekerjaan yang ada ini direstui Allah, atau tidak. Apakah disuruh Allah pindah dari pekerjaan sekarang. Ukurannya apa? Apakah agama kita selamat dengan pekerjaan ini. Apakah kita bisa menjaga wirid-wirid kita dalam pekerjaan ini. Apabila bisa, pekerjaan ini diridai Allah. Allah menempatkan kita pada posisi itu. Jangan berpindah dari sana, kecuali Allah yang memindahkan kita.
Sebaliknya, apabila Allah menempatkan seseorang hamba dalam posisi fakir, tapi dia sabar dan rida dengan demikian itu, tidak minta kaya kepada Allah, sehingga Allah nantinya yang mengayakan dia tanpa permintaan darinya. Maka ini juga contoh hamba yang beradab dengan Allah SWT.
Pembaca Radar Banjarmasin yang mulia, demikian Hikmah Al-Hikam ke-17 Al-Imam Syekh Ibnu Atho'illah As-Sakandari, dan penjelasannya disarikan dari syarah oleh Tuan Guru KH Muhammad Bahiet.
Semoga menjadi referensi dan ilmu pengetahuan bagi kita semua. Semoga Allah SWT selalu memberi rahmat, berkah, serta syafaat dari Nabiyullah Sayidina Muhammad SAW. Insya Allah bertemu pada Jumat yang akan datang.
Editor : Arief