Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Plus Minus Power Point dalam Pembelajaran

M. Syarifuddin • Selasa, 31 Oktober 2023 | 11:52 WIB
Syaiful Bahri Djamarah
Syaiful Bahri Djamarah
DALAM pembelajaran sejatinya anak didik tidak diposisikan sebagai objek, tetapi sebagai subjek. Namun sayang, ketika power point guru gunakan, posisi anak didik berubah menjadi objek.

Oleh: SYAIFUL BAHRI DJAMARAH
Dosen PAI dan PPG LPTK
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Antasari Banjarmasin


Dalam pembelajaran modern, penggunaan teknologi informasi (information technology) semisal power point (PPt) sangat dianjurkan asalkan tidak mengebiri posisi anak didik sebagai subjek.

Power point yang digunakan hendaknya sebagai peneguh, partner guru ketika menjelaskan materi pelajaran. Tidak dimanfaatkan dari awal hingga akhir pelajaran. Dengan begitu, tanpa mengurangi peran PPt sebagai alat bantu, anak didik tetap diperankan sebagai subjek.

Sayangnya, kebanyakan guru menjadikan alat bantu PPt sebagai andalan utama dalam pembelajaran. Digunakan dari awal hingga akhir pembelajaran, sehingga posisi anak didik sebagai subjek tidak nampak.

Selama ini penggunaan PPt untuk berbagai mata pelajaran (mapel) tidak pernah abai dalam pembelajaran. Saking asiknya menggunakan PPt sehingga tanpa disadari seolah-olah penggunaan PPt tidak bermasalah. Padahal, di balik keunggulannya, tersimpan beberapa kelemahan. Hal ini cukup menarik untuk dibedah sebagai refleksi bagi guru sebagai pengguna PPt dalam pembelajaran.

Berdasarkan hasil pengamatan dari berbagai fakta di lapangan, setelah dianalisis, ditemukan beberapa keunggulan dan kelemahan pengggunaan PPt dalam pembelajaran.

Plusnya


Terdapat empat macam keunggulan penggunaan PPt dalam pembelajaran. Pertama, PPt membantu guru ketika menyampaikan materi pelajaran. Sajian materi dalam PPt dalam bentuk pokok-pokok pikiran saja dan tersusun secara sistematis dalam bentuk peta konsep atau frase pendek, membantu siswa membaca dan mengingatnya. Apalagi bila sajiannya dikemas dengan teknik "animasi". Hal ini sesuai dengan prinsip pembelajaran, yaitu prinsip fokus untuk meningkatkan konsentrasi siswa.

Kedua, PPt hanya sekali buat. PPt yang guru bikin biasanya dapat digunakan berkali-kali selama masih sesuai dengan kurikulum. Meski ada perubahan, penambahan, PPt pada prinsipnya masih terpakai. Jadi, masa pakai PPt bertahan dalam waktu yang relatif lama. Ini sangat menguntungkan. Oleh karena itu, guru hanya sekali saja membuatnya.

Ketiga, PPt dapat membius perhatian siswa. PPt memiliki daya yang kuat untuk menggugah perhatian siswa. Ketika PPt tersaji, otomatis perhatian siswa terfokus ke PPt. Apalagi sajian materi, tersaji dalam bentuk animasi.

Keempat, siswa dapat langsung mencatat materi di PPt. Setiap materi yang tersaji dalam PPt sudah tersusun logis sistematis. Siswa dapat langsung mencatatnya tanpa harus mengerti jika ada yang tidak dimengerti. Di buku tulis, catatan siswa pun terkesan sistematis, tidak semrawut. Ini sangat menguntungkan siswa.

Minusnya


Terdapat tujuh macam kelemahan penggunaan PPt dalam pembelajaran. Pertama, perhatian siswa terbagi. Penggunaan PPt ternyata membuat perhatian siswa terbagi. Terpecahnya perhatian siswa karena ketika siswa dituntut untuk memperhatikan penjelasan guru, maka pada saat bersamaan, siswa harus mencatat materi dalam PPt. Ini menyalahi prinsip fokus, perhatian dan konsentrasi.

Kedua, proses pembelajaran membosankan. Kebanyakan penjelasan guru berbasis PPt. oleh karena itu, guru tidak bisa menghindarkan diri dari keharusan melihat PPt Ketika menjelaskan. Ini menyebabkan jalan Pelajaran membosankan. Variasi mengajar tidak berkembang dengan baik.

Ketiga, interaksi guru dan siswa berkurang. Kurang optimalnya interaksi guru dan siswa karena siswa lebih aktif harus fokus memperhatikan dan mencatat materi di PPt daripada keharusan memperhatikan penjelasan guru.

Keempat, siswa hanya asyik mencatat bahan dari PPt. Penjelasan yang guru berikan tidak mendapat tanggapan serius dari siswa. Hal ini karena semua siswa asik mencatat materi di PPt tanpa dimengerti dengan baik. Hal ini juga tidak sesuai dengan prinsip pembelajaran.
Kelima, siswa gagal fokus. Karena siswa asyik sekali mencatat materi dari PPt, maka siswa mengalami gagal fokus terhadap materi yang dijelaskan guru.

Keenam, kontrol guru lemah terhadap siswa. Guru yang optimal memanfaatkan PPt dari awal hingga akhir pembelajaran memberi kesan bahwa guru yang lebih aktif dari siswa. Ini tidak sesuai dengan prinsip pembelajaran CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) atau PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). kontrol guru cenderung lemah terhadap siswa.

Ketujuh, untuk menutupi kelemahan guru. Bagi guru yang kurang menguasai materi, dapat memanfaatkan PPt untuk menutupi kelemahannya tersebut. Banyaknya narasi hingga penuh satu lembar PPt seolah mengindikasikan guru kurang menguasai materi. Hal ini diperkuat, seringnya mata guru melihat ke PPt ketika menjelaskan materi.

Demikianlah. Paparan di atas jelas sekali memperlihatkan bahwa kelemahan PPt lebih banyak daripada keunggulannya. Hal ini tidak menjadi dasar untuk melarang penggunaan PPt dalam pembelajaran. Karena dalam pembelajaran modern, dituntut penggunaan TPACK (Technological, Pedagogical, Content Knowledge). Hanya saja bagaimana cara menyiasatinya agar kelemahan PPt tidak lagi lebih banyak daripada keunggulannya.

Ada beberapa solusi yang ditawarkan. Pertama, guru wajib menguasai materi. Ada dua materi yang harus dikuasai, yaitu materi sesuai dengan disiplin keilmuan dan materi penunjang pelengkap. Kedua, posisikan PPt hanya sebagai penjelas, peneguh yang hanya digunakan menjelang akhir Pelajaran. Ketiga, narasi yang dibangun di PPt hendaknya dalam bentuk pokok pikiran, dengan frase pendek (peta konsep) tanpa mengaburkan pemahaman siswa. Keempat, pastikan, sajian PPt logis dan sistematis, menggunakan bahasa yang renyah, mudah dicerna siswa, dan didukung dengan teknik "animasi". Hal ini penting untuk membantu siswa membangun konsentrasi.

Perlu diketahui, PPt hanya sebatas usaha untuk membangun aktivitas siswa baik fisik maupun psikologis. Akan tetapi, aktivitas siswa secara fisik belum tentu menjamin terjadinya proses belajar di ranah psikologis siswa. Karena aktivitas psikologis siswa sangat rumit. Berdasarkan teori yang saya ciptakan, ada tujuh fase proses psikologis yang terjadi dalam diri siswa, yang secara hirarki, yaitu motivasi, perhatian, konsentrasi, menerima, mengolah, menyimpan, dan prestasi.

Penggunaan PPt sejatinya untuk membangun aktivitas psikologis siswa. Bukan hanya untuk kepentingan guru. Ini tidak mudah. Karena dalam setiap pembelajaran tidak ada yang menjamin kelas sepi dari gangguan, baik spontanitas maupun insidentil. Ini mengisyaratkan, sebaik apapun PPt yang dibuat, selalu saja ada gangguan pembelajaran.
Akhirnya, PPt adalah ikhtiar pembelajaran. Teknologi tak bernyawa. Di balik kemegahan pembuatannya, selalu ada plus minusnya. Di tangan guru piawai, cerdik pandai lagi kreatif, kelemahan itu menjelma menjadi kekuatan.

Siapa guru itu? Entahlah. Apakah Anda termasuk guru yang kreatif? Jika bukan, maka Anda termasuk guru yang tidak rajin membuat PPt beranimasi. (fud) Editor : Arief
#Opini