Oleh: H MUHAMMAD TAMBRIN
Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel
Pembaca Radar Banjarmasin yang dirahmati Allah SWT. Pada Jumat yang mulia ini, dalam kolom Tarbiyah kita akan melanjutkan pembahasan Hikmah Al-Hikam ke-15. Para arif sepakat bahwa sesuatu selain Allah adalah tidak ada. Segala sesuatu selain Allah dianggap tidak berwujud jika dibandingkan dengan keberadaan-Nya. Seorang arif pernah mengatakan, para muhaqiq (mereka yang telah mencapai tingkat makrifat) menolak untuk memandang selain Allah, karena mereka telah berhasil menyaksikan kekuasaan dan kehadiran Allah dalam mengatur dan meliputi segala sesuatu.
Semua hal selain Allah dianggap tidak ada. Namun, mengapa semua hal tersebut justru bisa menjadi penghalang bagi manusia untuk dapat musyahadah kepada Allah Taala?
Mengapa saat manusia melihat alam semesta, mereka hanya melihat wujud alam semesta tanpa melihat siapa yang mewujudkanNya? Padahal alam itu tidak berwujud sama sekali, karena yang menciptakanNya hanyalah Allah SWT.
Al Mukarram Tuan Guru KH Muhammad Bahiet dalam tausiah beliau mengenai Hikmah Al-Hikam ke-15 menjelaskan perkataan Imam Ahmad Ibn Atha’illah Rahimahullah yang artinya “Setengah dari sesuatu menunjukkan kepadamu sifat Qahar Allah SWT, bahwa Allah memisahkanmu dariNya dengan sesuatu yang tidak ada selain Allah SWT'.
Beliau melanjutkan dengan memberikan penjelasan tentang hikmah tersebut bahwa orang-orang terjerumus dalam dosa dan keangkuhan tidak akan mampu melihat Allah dalam setiap hal yang mereka lihat dan dengar. Bila dia melihat manusia, maka yang dilihat hanya sebatas itu manusia. Apabila dia melihat harta, maka yang dilihatnya hanya sebatas harta. Apabila dia melihat musibah dan bencana maka yang dilihatnya hanya sebatas musibah dan bencana. Mereka tidak mampu menembuskan mata hatinya kepada yang menciptakan itu semuanya, yakni Allah SWT.
Beliau juga menyebutkan bahwa maksiat timbul dari empat sifat dalam diri manusia: sifat binatang, sifat kebuasan, sifat setan, dan sifat ketuhanan. Orang yang dikuasai oleh salah satu dari empat sifat ini akan cenderung melakukan perbuatan dosa sesuai dengan sifat yang mendominasi dirinya. Kalau sifat kebinatangan yang menguasai diri, maka pikiran kita hanya untuk kenyamanan syahwat dan perut. Orang pikirannya hanya untuk meloloskan nafsu syahwatnya adalah orang yang dikuasai sifat kebinatangan. Maka dari sanalah munculnya zina, mencuri, memakan harta anak yatim, hingga riba.
Jika sifat kebuasan yang menguasai, maka akan menjadi seorang pemarah, pendendam, dan akibatnya bisa membunuh, memukul, dan menyakiti orang lain. Ketika melakukan itu, ada rasa puas baginya. Inilah contoh orang yang dikuasai sifat kebuasan.
Adapun bila dalam diri manusia ada sifat setan, seperti dengki, kemunafikan, dan mengajak kepada maksiat. Akhirnya muncul sifat pura-pura baik, saleh, ahli ibadah, padahal tidak.
Terakhir sifat ketuhanan, ingin menyerupai Tuhan. Terkadang pada diri kita ini akan muncul rasa ingin dibesarkan orang lain, sombong, merasa mulia dan tinggi. Ingin diagungkan. Ingin menjadi Tuhan.
Empat sifat ini adalah sumber segala kemaksiatan yang menyebabkan kita selalu lupa dengan Allah. Jangankan dalam berdagang dan berusaha, bahkan dalam salat pun kita lupa dengan-Nya. Ini adalah tanda bahwa dinding kita sangatlah tebal terhadap Allah SWT.
Musyahadah adalah merupakan inti daripada makrifat. Demi mendapatkan musyahadah kepada Allah di antara jalannya adalah membersihkan diri daripada dosa.
Musyahadah ini adalah sesuatu yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bersih hatinya dari pada kotoran dosa. Tiada dinding antara dia dengan Allah SWT.
Pembaca Radar Banjarmasin, demikian hikmah Al-Hikam ke-15. Semoga kita selalu mendapat rida dan rahmat Allah SWT, serta syafaat dari Sayidina Nabi Muhammad SAW. Insya Allah berjumpa lagi di Jumat yang akan datang.(*) Editor : Arief