Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ironi Jelang Sumpah Pemuda

Arief • Kamis, 26 Oktober 2023 | 09:06 WIB
Photo
Photo
BEBERAPA hari menjelang peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2023, Banjarmasin diteror geng-geng pemuda barbar.

Oleh: Muhammad Syarafuddin
Redaktur di Radar Banjarmasin


Lewat tengah malam, bocah-bocah ini konvoi motor. Menenteng parang dan celurit. Melukai orang tanpa butuh alasan.

Mereka tampaknya ingin meniru fenomena klitih di Yogyakarta. Meniru tawuran-tawuran yang viral di Jawa.

Akui saja. Kita terlambat menyadarinya. Kita kecolongan. Sebab mustahil geng-geng ini muncul dalam satu harmal.

Pengakuan Ahmad Nadira (18) yang tertangkap patroli Polsek Banjarmasin Barat, ia sudah dua tahun tergabung dalam geng Pusara Hell.

Sejak 2021, pemuda tamatan SMA yang tidak kuliah dan pengangguran itu mengakui dua kali terlibat tawuran antar geng.

Klik Instagram, lewat penelusuran sederhana, Anda akan menemukan akun-akun geng sejenis Pusara Hell. Jumlahnya banyak.

Logo gengnya seram-seram. Tapi dari nama gengnya, mudah ditebak mereka berasal dari kelurahan dan kecamatan mana.

Apalagi saat bentrok, geng-geng ini siaran langsung di medsos agar bisa ditonton netizen. Dan lucunya sebelum menyerang mengirim pesan berantai di status.

Jadi sebenarnya polisi siber dan buser tak perlu repot melacak. Tinggal "dibungkus" saja.

Keterlambatan menyadari kehadiran geng-geng ini berakibat buruk. Korban luka terlanjur berjatuhan. Jalan-jalan kota mendadak lengang. Penjual nasi goreng dan martabak mengeluh sepi pembeli.

Syukurlah, masyarakat mulai agak tenang. Kapolda Kalsel, Irjen Pol Andi Rian Ryacudu Djajadi telah memerintahkan patroli besar-besaran. Kapolresta Banjarmasin, Kombes Pol Sabana Atmojo Martosumito mulai menangkapi gerombolan tersebut.

Geng-geng ini sontak tiarap. Akun medsosnya digembok. Acara tawurannya libur dulu.
Namun, apakah masalah selesai? Hanya soal waktu sampai mereka merasa bosan dan gabut lagi.

Saya tidak percaya geng-geng ini gerombolan anak yatim piatu. Jadi para orang tua harus diingatkan dengan tanggung jawabnya.

Bapak dan ibunya juga bersalah. Memangnya dari mana anggota geng ini punya sepeda motor dan smartphone kalau bukan dibelikan ortunya? Bacot kalau bilang hasil menabung sendiri.

Ortu harus lebih awas. Anak tak kunjung pulang ke rumah sampai pukul 10 malam lewat, sepatutnya ditegur. Kalau mecal boleh dikeplak.

Selanjutnya, peran pemko. Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina telah meminta para camat, lurah, ketua RW dan RT untuk menyibukkan kaum muda di lingkungannya.



Energi pemuda yang meluap-luap disalurkan ke olahraga, kesenian, dan ekonomi kreatif.
Itu solusi yang bagus. Asalkan tidak berhenti pada imbauan saja.

Sumbang saran, pemko bikin gerakan tobat massal. Karena pemko berkewajiban mencegah bonus demografi ini berubah menjadi bencana sosial.

Bisa dimulai dengan merekrut pentolan-pentolan geng untuk menjadi pintu masuknya. Anak-anak ini harus disadarkan. Bahwa sama sekali tidak keren menjadi penjahat kelas teri. Pilihannya cuma mati konyol di jalan atau tetap hidup sebagai sampah masyarakat.

Mereka harus dipaksa berpikir rasional. Kejahatan yang disangka kenakalan biasa, akan menjadi catatan kriminal dan membuat mereka kesulitan mencari pekerjaan di masa depan.

Lalu, berikan mereka contoh lain untuk ditiru. Saat ini, contoh terbaik adalah Grup Pandawara.

"Geng" asal Bandung ini super duper keren. Lima pemuda turun ke kali dan pantai. Menggaruk dan mengangkut sampah.

Aksi bersih-bersih itu direkam, dijadikan konten TikTok. Viral karena menginspirasi. Masyarakat Indonesia pun mengelu-elukan Grup Pandawara.

Melihat anak geng Banjarmasin yang telah insaf ramai-ramai membersihkan Sungai Martapura, Sungai Pekapuran, dan Sungai Kelayan… oh, itu bakal menjadi pemandangan yang epik. (az/fud) Editor : Arief
#Opini Metropolis