Oleh: Muhammad Syarafuddin
Redaktur Radar Banjarmasin
Setiap tahun keluarga Kutz bikin festival layang-layang. Tahun 2023 ini jatuh pada Sabtu sore, 7 Oktober.
Namun layang-layang tak sempat dinaikkan ke langit. Beberapa jam sebelumnya Hamas menyerbu masuk ke permukiman Israel. Mereka berlima tewas.
Kutz adalah sahabat Yuval Noah Harari. Kisah di atas mengawali artikel Harari yang diterbitkan Times pada 16 Oktober kemarin.
Saya pembaca setia karya Harari. Sapiens, Homo Deus, dan 21 Lessons for the 21st Century habis dibaca.
Harari adalah sejarawan, profesor di Universitas Ibrani Jerusalem. Dia Yahudi, gay, dan atheis sekaligus—ultra minoritas.
Dalam bukunya, Harari mengkritik pemerintahnya dengan tajam. Maka banyak pembaca yang terkejut ketika membaca tweet Harari di X beberapa hari terakhir.
Terang-terangan Harari menyebut Hamas dan ISIS sama kejinya. Menyatakan serangan Israel demi melindungi demokrasi dari teroris. Menegaskan Israel harus memenangi perang atas nama kemanusiaan.
Di kolom komentar, banyak pembaca yang mengaku kecewa dan berjanji akan membuang bukunya ke tong sampah.
Dalam serangan yang diklaim Harari demi kemanusiaan, Selasa (17/10), Rumah Sakit Baptis Al Ahli dirudal. 500 pasien dan tenaga medis tewas.
Kamis (19/10), Saint Porphyrius, gereja ortodoks tertua di Gaza yang menjadi penampungan pengungsi kristiani dan muslim dibom. Delapan tewas dan puluhan terluka.
Apa pembelaan Harari atas dua kejahatan perang sebrutal itu?
Harari persis seperti kata-kata yang dia tuliskan sendiri, "Kepedihan memenuhi pikiran kita hingga tak tersisa ruang untuk mengenali kepedihan orang lain." Pikiran Harari telah tertutupi oleh Kutz dan layang-layangnya.
Oke, Harari memang ada benarnya. Hamas salah ketika menyerbu permukiman sipil. Tapi ingat, Hamas tumbuh dikungkung tembok sepanjang 430 mil. Hidup di bawah politik apartheid Israel selama puluhan tahun.
Terkadang bukan seruan jihad yang menggerakkan seorang milisi. Melainkan panggilan dendam.
Hamas adalah anak-anak sejarah yang lahir dari pembantaian Deir Yassin dan Intifada. Dan sebagai sejarawan, Harari mestinya lebih memahaminya.
***
Menghadapi isu perang Israel versus Hamas di Gaza, sikap politik luar negeri Indonesia konsisten.
Pernyataan Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi sudah tepat. Retno menekankan, akar masalah konflik adalah pendudukan Israel atas wilayah Palestina.
Presiden Joko Widodo juga mengutuk keras, "Indonesia bersama OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) takkan tinggal diam atas ketidakadilan terhadap rakyat Palestina yang terus menerus terjadi."
Namun, jika sikap pemerintah RI tegas dan jelas, justru sikap masyarakat Indonesia yang rada aneh.
Dulu ketika situasi di Gaza memanas, warganet akan bersimpati. Ramai-ramai memakai tagar #savepalestine atau #prayforgaza. Di mana-mana diputar tembang We Will Not Go Down milik Michel Heart.
Sekarang nggak. Penggalangan donasi untuk Palestina pasti dicibir. Katanya kejauhan, karena kemiskinan di dalam negeri saja belum dientaskan.
Bahkan tidak malu-malu lagi membela Israel. Dan akun model "Yahudi pesek" ini jumlahnya banyak. Konon Zionis kini membayar jasa buzzer untuk memoles citranya.
Itu di media sosial. Di dunia nyata sama saja. Dulu pasti terjadi gelombang unjuk rasa. Sekarang hampir tidak ada.
Sebab takut dicap antisemit. Takut dituduh pendukung khilafah. Takut diolok radikal.
Padahal, bila enggan membela Palestina sebagai muslim, kita bisa peduli sebagai warga Indonesia.
Selama 12 tahun sekolah, setiap apel Senin, kita mendengar mukadimah UUD 1945 dibacakan, "Sesungguhnya kemerdekaan ialah hak segala bangsa, oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." (az/fud) Editor : Arief