Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Gemar Membaca Jalan Menuju Sukses

Arief • Jumat, 6 Oktober 2023 | 05:17 WIB
Aliansyah Jumbawuya
Aliansyah Jumbawuya
KITA yang hidup di era sekarang relatif lebih beruntung, karena segala ihwal yang kita perlukan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik dan berdaya guna telah dirintis dan dilakoni oleh generasi terdahulu. Berbagai ilmu pengetahuan, hasil riset, kiat sukses, pengalaman hidup, sebagian telah mereka tuangkan ke dalam buku.

Oleh ALIANSYAH JUMBAWUYA
Penulis 53 judul buku
Warga Banjarbaru


Kini, kita tinggal mengadopsi warisan berharga tersebut sembari melakukan beragam inovasi sesuai perkembangan serta tuntutan zaman.

Ibarat mau menempuh perjalanan, kita sudah punya peta di tangan. Tidak perlu lagi meraba-raba dalam gelap. Cukup mengikuti petunjuk-petunjuk yang ada.

Demikianlah, buku menawarkan banyak kemudahan. Tinggal, apakah kita mau atau tidak untuk memanfaatkannya?

Orang bilang pengalaman adalah guru yang baik. Hikmah atau pembelajaran yang kita dapat dari pengalaman secara langsung cenderung bakal melekat kuat. Namun, persoalannya usia manusia sangat terbatas. Tidak mungkin segala hal harus kita serap dan alami sendiri. Jatah waktu yang kita punya takkan pernah cukup untuk melakukan semua itu. Di sinilah kita perlu belajar kepada orang lain. Menimba ilmu dengan siapa pun yang memang berkompeten di bidangnya. Salah satunya ialah lewat membaca buku.

Berbagai "rumus hidup" yang kita butuhkan untuk melejitkan potensi diri boleh dibilang telah dituliskan oleh para pendahulu. Apapun bidang yang ingin dipelajari, insyaallah sudah ada buku panduannya. Tugas kita selanjutnya adalah bagaimana menyerap dan mengaplikasikan ilmu-ilmu dimaksud.

Jika kita ingin menambah keterampilan (skill). kita bisa membaca buku-buku panduan (how to). Entah itu cara beternak hewan, bercocok tanam, bikin kuliner, membuat kerajinan tangan, memperbaiki barang elektronik, modifikasi otomotif, mengembangkan program komputer, dan lainnya. Semakin banyak kita menguasai keterampilan--syukur kalau sampai tahap ahli--semakin besar kemungkinan kita untuk menciptakan peluang kerja.

Bukankah itu artinya kegemaran membaca buku akan mendekatkan kita pada kesuksesan?
Begitu pula jika ingin meningkatkan kualitas mental/kepribadian kita, sebaiknya doyanlah membaca buku-buku motivasi atau pengembangan diri. Dari situ kita akan banyak memperoleh pembelajaran berharga tentang perlunya mengenali bakat (passion) diri, pentingnya menetapkan tujuan hidup, keberanian untuk bermimpi besar, bagaimana cara manajemen waktu, tips membangun relasi/jaringan, dll. Biasanya hal-hal seperti ini jarang diajarkan di bangku sekolah dan kuliah. Termasuk perihal kecerdasan finansial, nyaris tak pernah tersentuh di dunia pendidikan formal kita. Untuk menutupi kekurangan tersebut, alangkah baiknya kita membaca buku-buku karya Robert Kiyosaki, Tung Desem Waringin, maupun pakar keuangan lainnya.

Dengan sering membaca buku-buku psikologi pengembangan diri, kita akan terpacu untuk menjadi pribadi yang sukses. Pasalnya, tidak setiap orang beruntung punya mentor yang selalu bersedia mendampingi dan membimbing ketika menapaki suatu karier. Karena itu, kita mesti pandai-pandai menyemangati diri sendiri agar senantiasa istikamah dalam memperjuangkan cita-cita kita, terutama saat kondisi kita sedang terpuruk. Dan salah satu suntikan spirit itu bisa kita peroleh dari membaca buku-buku motivasi. Maka, wajar bila ada ungkapan yang menyatakan, "Buku adalah sahabat sejati yang tak pernah berkhianat."

Cinta Buku


Kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi sekarang tidak bisa dilepaskan dari sumbangsih para cendekiawan muslim di masa lalu. Sejarah mencatat, betapa besar andil dan kontribusi ilmuwan-ilmuwan muslim di bidang astronomi, geografi, fisika, kimia, botani, optik, kedokteran, filsafat, sosiologi, dan sastra.

Umat Islam pada masa keemasannya pernah memiliki banyak ilmuwan besar, seperti Al-Biruni (penemu gaya gravitasi), Ibnu Khaldun (pakar sosiologi politik), Ibnu Hayyan (penggagas ilmu kimia), Ibnu Majid (penemu kompas dan navigator), Ibnu Haitham (penemu optik dan teknik fotografi), Ibnu Rusyd (perintis ilmu jaringan tubuh), Abu Al Zahrawi (bapak ilmu bedah modern) Al Razi (penemu obat penyakit cacar), At-Tabari (pakar terapi dan pengobatan herbal), Abdullah Al Idris (pelopor pembuat peta globe), serta sederet nama masyhur lainnya.

Tokoh-tokoh muslim itu sukses menjadi pakar di bidangnya masing-masing berkat kecintaan mereka yang mendalam terhadap buku. Ibnu Taimiyah misalnya, ketika terjadi serangan bangsa Mongol (Tartar), seluruh keluarganya terpaksa hijrah ke Syam. Dalam pelarian itu sang ayah tak lupa memboyong segerobak buku warisannya. Dengan bersusah payah mereka berusaha menyelamatkan buku-buku tersebut, padahal di belakang musuh tengah mengejar. Bahkan mereka hampir saja tertangkap jika tidak cepat-cepat menimbun gerobak yang sarat berisi buku-buku itu ke dalam pasir. Di kemudian hari, berkat kecintaannya pada ilmu, Ibnu Taimiyah dikenal sebagai cendekiawan Muslim yang sangat produktif menulis, termasuk saat berada dalam penjara lantaran berseberangan dengan penguasa kala itu. Disebutkan, sepanjang hidupnya Ibnu Taimiyah berhasil menulis lebih 350 judul buku.

Orang-orang besar umumnya memang memiliki kebiasaan gemar membaca buku. Termasuk para pendiri bangsa Indonesia, seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Natsir, dan Sutan Sjahrir rata-rata suka membaca. Tak heran di usia mudanya mereka sudah punya wawasan luas dan pandangan jauh ke depan. Kepiawaian mereka dalam berdebat dan berdiplomasi, ditunjang pula dengan kefasihan berbahasa asing. Bahkan keberanian mereka memancangkan cita-cita besar untuk memerdekakan bangsa ini dari cengkeraman tangan penjajah, pastilah sebagian dipengaruhi oleh bahan bacaan mereka yang sangat beragam.

Sumber Inspirasi


Ada banyak manfaat yang bisa kita petik dari kegemaran membaca buku. Selain menambah ilmu, membuka wawasan baru, memperkaya batin, buku juga dapat menjadi sumber inspirasi. Dengan membaca buku-buku biografi tokoh-tokoh ternama kita jadi tergugah dan termotivasi untuk meneladani sikap dan perilaku positif mereka.

Membaca kisah biografi seorang publik figur biasanya cukup mengasyikkan. Kita seolah diajak menguntit lika-liku jalan hidup si tokoh bersangkutan. Bahwa untuk mencapai kesuksesan tak ada jalan yang mulus dan lempang, pastilah diwarnai dengan berbagai pengalaman jatuh bangun. Dari situ, di antaranya kita bisa belajar tentang arti kegigihan.

JK Rowling misalnya, sebelum bukunya Harry Potter booming laris terjual di seluruh dunia, naskah tersebut sempat mengalami sekian kali penolakan dari beberapa penerbit. Namun, berkat semangatnya yang pantang menyerah, akhirnya ada juga penerbit yang tertarik menerbitkan novelnya itu. Dan, siapa sangka karyanya itu mendapat sambutan luar biasa khalayak pembaca, tak hanya di negeri asalnya juga belahan dunia lainnya. Kini dari hasil royalti serial Harry Potter itu, apalagi setelah difilmkan, konon katanya kekayaan JK Rowling telah melampaui kekayaan Ratu Inggris. Padahal, sebelumnya kondisi ekonomi dia sangat terpuruk sampai-sampai harus disantuni negara.

Dari buku biografi JK Rowling kita mengambil pelajaran berharga, khususnya bagi para calon penulis, agar tidak gampang menyerah ketika menghadapi penolakan. Selama kita getol dan mau terus belajar, cepat atau lambat, suatu saat kesuksesan itu juga akan berpihak pada kita.

Ternyata inspirasi itu bukan hanya terdapat pada buku-buku biografi yang berisi kisah nyata. Dari buku-buku fiksi pun kita bisa menangguk beragam inspirasi. Contoh, novel Laskar Pelangi Andrea Hirata, tidak sedikit anak-anak dari keluarga miskin yang setelah membaca buku ini terlecut buat melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya. Bahkan ada seorang mahasiswa yang kecanduan narkoba, ia lebih banyak mengurung diri dalam kamar dan sudah tak mempan lagi dinasihati oleh kedua orang tuanya, tiba-tiba saja semangatnya bangkit untuk menyelesaikan skripsi yang sempat tertunda sekian semester gara-gara membaca novel ini.

Fakta di atas, sekali lagi, menegaskan betapa kuatnya pengaruh buku dalam menghantarkan pembacanya kepada perubahan konstruktif.

Mengingat banyaknya manfaat gemar membaca bagi perbaikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), maka sudah selayaknya gerakan cinta buku terus kita gaungkan. Mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan terdekat, hingga skala yang lebih luas. Apalagi sekarang ini dunia perbukuan lumayan semarak. Kalau kita tidak mampu membeli buku, toh kita bisa meminjam buku di perpustakaan umum atau perpustakaan sekolah/kampus secara gratis. Jadi, selama punya kemauan kuat, tak ada alasan untuk tidak mencintai buku. (fud) Editor : Arief
#Opini #Literasi