Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Tanda Hati Berkarat

Arief • Jumat, 29 September 2023 - 07:53 WIB
MUHAMMAD TAMBRIN, Kepala Kanwil Kemenag Kalsel
MUHAMMAD TAMBRIN, Kepala Kanwil Kemenag Kalsel
Dan bertaqwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarmu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. Al Baqarah: 282)

Oleh: H MUHAMMAD TAMBRIN
Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel


Hati tidak mungkin bersinar manakala keduniaan menutupinya. Hikmah Al Hikam ke-13, Al Imam Syekh Ahmad Ibnu Atho'illah As Sakandari menasihatkan: Bagaimana mungkin kalbu akan bersinar, sedangkan bayang-bayang dunia masih terpampang di cerminnya?

Bagaimana mungkin akan pergi menyongsong Ilahi, sedangkan ia masih terbelenggu nafsunya?

Bagaimana mungkin agar bertamu kehadirat-Nya, sedangkan ia masih terbelenggu nafsunya? Bagaimana akan bertamu kehadirat-Nya, sedangkan ia belum bersuci dari kotoran kelalaiannya? Bagaimana mungkin diharapkan dapat menyingkap berbagai rahasia, sedangkan ia belum bertobat dari kekeliruannya.

Dalam hikmah di atas, Al Imam Ibnu Atha’illah mengungkapkan kejanggalan yang dilihatnya. Menurutnya bagaimana mungkin seseorang bisa meraih sesuatu keinginannya, sedangkan ia masih melakukan hal-hal yang justru merintangi pencapaiannya.

Hati bercahaya hanya dapat diraih dengan cahaya iman dan keyakinan, bukan dengan harta dan hal-hal lain yang bersifat duniawi. Keduniaan justru akan membuat hati menjadi gelap.

Perjalanan menuju Allah hanya bisa dilakukan dengan memutus belenggu nafsu dan syahwat, bukan dengan menuruti keduanya. Pertemuan dengan Allah hanya bisa terjadi bila hati telah suci.

Hati yang masih belum suci atau masih dikotori oleh kelalaian, akan menghalangi pertemuan dengan-Nya. Kemampuan menguasai ilmu dan mengetahui detail-detail rahasia, hanya bisa didapat melalui ketakwaan, bukan dengan keinginan yang besar untuk selalu melakukan maksiat.

Dalam sebuah kabar disebutkan, “Siapa yang beramal dengan ilmunya, maka Allah akan mewarisinya ilmu yang tidak diketahuinya”. Keterangan tersebut sebenarnya saling memengaruhi satu sama lain.

Tampilnya gambaran keduniaan di dalam cermin hati menjadi sebab terbelenggunya hati oleh syahwat. Keterbelengguan hati dapat menyebabkan kelalaian. Kelalaian menjadi sebab segala kekeliruan, dan kekeliruan menjadi sebab butanya hati.

Pembaca Radar Banjarmasin terkait dengan ini, Tuan Guru KH Muhammad Bakhiet dalam kesempatan tausiah menjelaskan, tiap-tiap sesuatu itu ada alat pembersihnya, dan alat pembersih hati adalah zikir kepada Allah. Sedangkan membersihkan hati yang berkarat adalah dengan tobat dan memperbanyak zikir.

Barangkali juga kita belum menyadari apakah kita ini termasuk orang yang hatinya dipenuhi dengan gambar-gambar dunia, atau hatinya diterangi cahaya Islam, iman dan ihsan. Karena tidak mengetahui tanda-tandanya.

Para ulama terdahulu yang saleh menjelaskan tentang tanda orang-orang yang hatinya itu dipenuhi duniawi. Tanda hati gelap yang tidak bisa ditembus dengan cahaya Islam, iman dan ihsan. Setidaknya ada sepuluh tanda.

Pertama, “Orang yang mengitikadkan bahwa sebab itu memberi bekas beserta Allah”. Di dalam hatinya, sebab itu menentukan, berikut contoh mengitikadkan sebab menentukan/memberi bekas beserta Allah.

“Benar semua karena Allah, tapi kalau tidak berusaha bisalah makan?”. “Benar Allah yang menyehatkan dari sakit, tapi kalau tidak berobat apa bisa sehat?”.

“Benar yang mengenyangkan itu Tuhan, tapi kalau tidak makan apa bisa kenyang?”.

Apabila hati kita mengitikadkan seperti itu berarti hati kita mengitikadkan bahwa sebab memberi bekas.

Allah memerintahkan kita untuk bersebab, berusaha, berobat, makan. Tapi, jangan sampai disamakan dengan Musabbib (Allah). Cari saja rezeki, sehat, sebab itu Tuhan tidak melarang. Bahkan, Tuhan menyuruh. Tapi ingat, bahwa sebab itu tidak menentukan apa-apa. Yang memberi bekas itu Allah.

Jika kita ditanyai seperti ini, Bisakah kenyang tanpa makan? Bisa.

Bisakah sembuh tanpa berobat? Bisa. Bisakah kaya tanpa berusaha? Bisa.

Kalau kita mengitikadkan bahwa kenyang tanpa makan itu tidak bisa, ini adalah itikad yang salah, dan menunjukkan hati berkarat/gelap.

Jadi yang sebab kita itikadkan adalah musabbib (Allah), Allah yang memberi bekas.

Lalu dikatakan “kalau seperti itu tidak usah berusaha, tidak usah makan lagi”. Tidak seperti itu maksudnya. Allah menyuruh makan dan berusaha, tetapi Allah melarang hati kita mengitikadkan bahwa makan itu yang mengenyangkan, usaha itu yang mengayakan, dan berobat itu yang menyembuhkan.

Kedua, “Dia tidak takut pada sesuatu yang diancam oleh Allah dengan neraka atau azab atau laknat”. Ketika Allah melarang untuk berzina, bahkan mendekati saja dilarang, dan zina itu azabnya pedih. Lalu masih saja melakukan, tidak takut dengan ancaman. Itu tanda hati berkarat.

Ujar Tuhan lagi, “Kamu jangan melakukan riba. Kalau melakukan kamu bermusuh denganku”. Tetap dia lakukan, tidak ada rasa takut dengan ancaman. Ini adalah tanda bahwa hati itu mabuk cinta dengan dunia.

Ujar Tuhan, “kamu jangan melakukan ini itu yang dilarang, nanti akan Aku laknat”. Masih saja melakukan. Padahal dia tahu, sering mendengar ceramah di televisi, radio, dan sebagainya, bahwa jangan melakukan yang dilaknat, tetap dia melakukan. Ini ciri hatinya tidak bisa ditembus oleh cahaya iman, Islam dan ihsan.

Ketiga, “Dia tidak mengharap/tergiur dengan janji-janji Allah daripada surga dan keridaan”. Dia tidak tergiur, ujar Tuhan “kamu laksanakan taat ini itu balasannya surga, bidadari seribu orang”. Tetapi dia tidak tergiur juga, tidak berminat. Hati tidak menyambut dengan janji Allah, berarti hati ini tertutup.

Quran dan hadis Rasul mengatakan “baca surah ini itu setiap malam, sebentar saja membacanya. Ketika membaca surah itu, dan meninggal nanti akan ke surga direbutkan oleh bidadari”. Tidak juga tergiur. Jika demikian, berarti hati ini rusak.

Keempat, “Tidak bisa mengambil manfaat dengan ilmu”. Turun mengaji, menuntut ilmu, bahkan paling rajin, akan tetapi kelakuan tetap tidak berubah. Masih saja melakukan riba, zina, minuman keras, membuka aurat. Berarti hatinya tidak bisa ditembus oleh ilmu. Kenapa? Terdinding oleh kecintaannya kepada selain Allah.

Kelima, “Tidak bisa mengambil manfaat dengan berkawan dengan orang-orang saleh”. Dia berkawan dengan orang-orang saleh, para tuan guru, dan habib ke sana kemari. Namun, ketika tidak bergaul dengan tuan guru dan habaib tadi ternyata pakaian, perangai dan kelakuannya seperti orang tidak berteman dengan mereka. Ini berbahaya, kenapa? Artinya cahaya yang ada pada orang saleh tadi tidak menembus kepada hatinya. Padahal sudah berbagai macam perkataan ulama di antara faidah berkawan dengan orang saleh itu menimbulkan rajin beribadah, menimbulkan takut akan dosa. Itu fitrahnya.

Keenam, “Dia tidak menangis mengingat maksiat yang pernah dilakukannya”. Dahulu pernah melakukan maksiat ini itu, teringat, tetapi tidak membuat menangis. Padahal mengingat maksiat itu adalah sebab paling segera membuat menangis bagi orang yang hatinya terang dan lembut. Ingatkan dosa-dosa kita yang dulu, adakah hati kita menangis?



Kalau tidak menangis, berarti hati kita ada gangguan/masalah. Kalau hati kita benar-benar diterangi dengan cahaya iman, ingat dosa dahulu maka akan tertunduk dan menangis.
Ketujuh, “Tidak merasa malu berbuat sesuatu yang bertentangan dengan sunah dan merusak kehormatannya”. Sekampungan menuntut ilmu di musala, dia hanya berdiam di rumah, dan tidak merasa malu. Orang lain menutup aurat, pakai sarung, dia hanya memakai celana pendek ke sana kemari, tidak merasa malu. Berarti hati orang ini sudah tidak bisa ditembus dengan cahaya iman.

Kedelapan, “Tidak merasa rugi meninggalkan taat”. Kalau sahabat, tabiin generasi pendahulu kita misalnya dalam salat berjemaah, karena ada suatu hal menjadi terlambat dan tidak sempat atau orang sudah bubar berjemaah, dia menangis lantaran merasa rugi tidak sempat berjemaah. Ini tanda hati yang terang. Kehilangan kesempatan berbuat taat itu adalah kerugian yang besar, apabila kita tidak merasa rugi. Ini tandanya hati kita ada masalah.

Kesembilan, “Tidak merasa menemui manisnya taat”. Beribadah tidak ada manisnya, nikmatnya. Orang yang beribadah tetapi hatinya gelap, tidak merasa nyaman. Ingin lekas selesai. Dia tidak menemui manisnya taat. Ibadah itu mestinya manis dan nikmat bagi orang yang hatinya terang.

Kesepuluh, “Tidak prihatin terhadap bala musibah yang menimpa kaum muslimin”. Dia cuek-cuek saja ketika kaum muslimin ditimpa musibah. Padahal mestinya ketika kita mendengar tertimpa bala, minimal kita mendoakan bahwa dia mendapat keringanan, kemudahan, dan ketabahan dari Allah.

Berapa macam dari sepuluh macam ini ada pada diri kita. Kalau komplit keseluruhannya ada, berarti buta hati kita.

Petunjuk para ulama, sesuai apa yang disampaikan Rasulullah, mengobati hati yang seperti ini hanya ada dua caranya. Pertama, tobat kepada Allah. Kedua, dengan berzikir. Tobat membersihkan, zikir memuluskan/mengkilapkan.

Demikian uraian hikmah dikutip dari Kitab Al Hikam Al Imam Syekh Ibnu Atho'illah As Sakandari, dan juga penjelasannya oleh Tuan Guru KH Muhammad Bahiet. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari kumpulan tulisan ini. Insya Allah dengan izin dan takdir-Nya kita bertemu kembali pada Jumat akan datang.(*) Editor : Arief
#Tarbiyah