Oleh: MUHAMMAD SYARAFUDDIN
Redaktur Radar Banjarmasin
SAYA terlambat mengantisipasinya. Awal Juni 2023, Aksioma dirilis. Itu album kolaborasi Kelompok Penerbang Roket dan Eka Annash (vokalis The Brandals).
Tapi saya baru memutarnya bulan September. Berkali-kali sampai terlena.
Aksioma adalah obat penenang atas kecemasan para Pencarter Roket--sebutan barisan penggemar KPR.
Sang gitaris, Rey Marshall lagi-lagi masuk "sekolah" gara-gara kasus narkotika.
Sebelumnya, KPR bercerai dengan Berita Angkasa Records. Bertikai dengan perusahaan rekaman yang telah membesarkan mereka.
Sementara John Paul Patton, vokalis dan basis, asyik dengan proyek barunya Ali.
Padahal penikmat musik Indonesia kadung menaruh harapan besar kepada mereka.
KPR terdengar fresh. Mengingatkan kita dengan kejayaan rock n' roll tahun 70-an. Era ketika Duo Kribo dan Panbers masih eksis.
Album perdana Teriakan Bocah (2015), menyabet penghargaan album rock terbaik dari Anugerah Musik Indonesia (AMI).
Tapi syukurlah, fa inna ma'al usri yusra... sesudah kesulitan ada kemudahan.
Rey bebas dan mengaku kapok (semoga). KPR rujuk dengan Berita Angkasa. Dan John sudah menegaskan komitmen bersama KPR.
Lalu apa peran Eka? Ada yang bilang, karakter vokal John dan Eka itu mirip-mirip. Jadi tak masalah bila KPR tur konser tanpa Eka.
Separuh benar, sebab sumbangan terbesar Eka ada di departemen lirik.
Bersama The Brandals, Eka telah mengukuhkan reputasinya sebagai salah seorang penulis lirik berbahasa Indonesia terbaik.
Dalam Galaksi Palapa (2018), KPR menjelajahi tema ruang angkasa dan fiksi ilmiah.
Eka mendaratkan KPR kembali ke bumi. Untuk membahas tema-tema yang dekat dan lekat dengan kehidupan urban sehari-hari.
Tengoklah visualisasinya. Sampul album memakai foto karya Raka Syahreza. John, Rey, drummer Viki Vikranta, dan Eka berpose di depan Tugu Monas Jakarta.
Mengulik isinya, ada 10 nomor: Persimpangan, Jaman Edan, Enam Kaki di Bawah, Tobat, Lelap Dalam Gelap, Ambisi, Huru Hara, Topeng Monyet, Cari Mati, dan Aksioma.
Dari judul-judulnya saja sudah terlihat kan?
Untuk mengulas beberapa, Persimpangan menceritakan kegamangan antara memilih yang benar dan salah. Ambisi tentang hidup setengah niat yang merundung kelas pekerja.
Pengaruh Eka amat terasa pada Lelap Dalam Gelap, "Tajam ke bawah, tumpul ke atas. Yang kecil ditindas, yang besar dilepas." Kritis dan lugas.
Favorit saya adalah Topeng Monyet. Eka dengan nakal menjadikan hiburan rakyat itu sebagai kiasan perilaku pemerintah.
Untuk sound, KPR masih memainkan rock anti basa basi. Bedanya, sekarang KPR punya lebih banyak uang.
Dalam wawancara bersama Soleh Solihun, Viki mengatakan, berkat kesuksesan album pertama kini KPR bisa membeli gear yang lebih baik. Bisa rekaman di studio yang lebih mahal.
Progres sound dalam Aksioma terdengar jelas. Produksinya lebih bonafide.
Akhir kata, saya tak sabar untuk menonton mereka manggung di Banjarmasin. (fud) Editor : Arief