Oleh SITI MARDINA AR
Guru SDN 5 Kampung Baru, Tanah Bumbu
Perundungan bisa terjadi kepada siapa saja dan di mana saja. Baik di dunia nyata seperti di sekolah, rumah, ataupun di dunia maya. Bullying atau perundungan menjadi masalah serius yang merambah dunia pendidikan kita. Bahkan bullying di sekolah sudah berujung pada kematian siswa. Jenis bullying ada berbagai macam, yang sebaiknya diketahui dengan baik oleh guru maupun orang tua, supaya tindakan perundungan bisa dicegah.
Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak RI, bullying ada berbagai jenis. Yaitu bullying secara fisik seperti tindakan memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, memeras, dan merusak barang yang dimiliki orang lain.
Bullying secara verbal merupakan jenis perundungan menggunakan kata-kata pernyataan, dan sebutan atau panggilan menghina seperti mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan, mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, hingga menyebarkan gosip.
Bullying nonverbal langsung dilakukan tanpa kata-kata. Contohnya seperti melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, hingga mengejek. Bullying nonverbal tidak langsung contohnya mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, hingga mengirimkan surat kaleng.
Cyber bullying, pelaku menargetkan korban di media sosial dengan cara menyakiti orang lain melalui rekaman video intimidasi, pencemaran nama baik, mempermalukan, hingga melecehkan.
Sexual bullying yaitu tindakan berulang dan berbahaya yang menargetkan seseorang secara seksual. Contoh sexual bullying adalah komentar kasar, gerakan vulgar, sentuhan tanpa persetujuan kedua belah pihak, hingga memanggil seseorang dengan nama yang tak pantas.
Caloroso (2007) sebagaimana dikutip Aini (2018) mengungkap, "Tindakan intimidasi yang dilakukan secara berulang-ulang oleh pihak yang lebih kuat terhadap pihak lebih lemah, dilakukan dengan sengaja dan bertujuan untuk melukai korbannya secara fisik maupun emosional."
Perundungan yang terjadi di sekolah bisa disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya faktor orang tua, faktor lingkungan, faktor teman sebaya, faktor media sosial, dan faktor iklim sekolah. Orang tua adalah role model untuk anak-anaknya sehingga perilaku mereka mudah untuk ditiru. Oleh karena itu, dapat diartikan bahwa kecenderungan orang tua mendidik dengan kasar dapat memberi dampak kepada anak untuk bersikap semaunya.
Penyebab lainnya bisa terjadi karena kurangnya pengawasan dan penegakan disiplin oleh pihak sekolah. Sekolah sering kali kurang memantau interaksi antara siswa dengan cukup ketat dan tidak memberikan sanksi yang memadai untuk perilaku bullying. Hal ini dapat membuat pelaku bullying merasa bebas untuk terus melakukan perilaku bullying.
Nah, zaman sekarang pengaruh media sosial juga tidak kalah hebatnya mempengaruhi anak-anak saat ini, apa yang mereka lihat dapat mengubah persepsi mereka tentang kekerasan dan membuat mereka lebih mungkin untuk meniru perilaku tersebut.
Seperti yang kita ketahui di atas, perundungan adalah tindakan tidak menyenangkan yang dilakukan kepada seseorang yang mengakibatkan seseorang tersebut merasa tidak nyaman, sakit hati dan juga tertekan bahkan akan mengingat terus kejadian yang dialaminya hal itu bisa menimbulkan dampak seperti menurunnya prestasi akademik, penurunan tingkat kehadiran di sekolah, berkurangnya minat pada tugas dan kegiatan sekolah lainnya dan sulit berkonsentrasi.
Dampak secara sosial, seperti tidak percaya diri, pemalu, memiliki sedikit teman, cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, kurang rasa humor dan sering diejek. Secara fisik, seperti merasa sulit tidur, mual, lemah, gagap, keluhan pusing, sakit perut ataupun terdapat luka-luka pada tubuh korban. Dampak lainnya bisa terjadi pada emosi anak seperti suasana hati yang berubah-ubah, menjadi sensitif, waswas, takut, cemas, gelisah, murung, sedih, mudah menangis dan suka menyalahkan diri sendiri bahkan sampai memicu tindakan bunuh diri.
Selain dampak yang disebutkan di atas ada pula beberapa anak yang mengalami perundungan justru membuat dirinya menjadi lebih agresif. Hal itu dipicu oleh keinginan korban untuk membalas rasa sakitnya dengan melakukan perundungan kepada orang lain.
Ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan oleh guru untuk mencegah terjadinya bullying tersebut. Solusi yang dimaksud antara lain memberikan edukasi tentang bahaya bullying hal ini dapat membantu meningkatkan kesadaran dan memperkuat keterampilan siswa dalam menghadapi dan mengatasi situasi bullying, membuat sanksi yang tegas bagi pelaku, memberikan teladan yang baik. Menjalin hubungan yang baik dengan siswa dengan menumbuhkan ikatan positif antara siswa dan guru atau staf sekolah sehingga dapat membantu siswa merasa lebih aman dan terlindungi dari bullying.
Dari hal tersebut sekolah perlu melibatkan orang tua dan masyarakat dalam upaya membantu mengatasi bullying di sekolah. Orang tua dapat diajak berdiskusi dan diberi tahu tentang upaya yang dilakukan oleh sekolah, serta disuruh untuk mengawasi anak mereka dan melaporkan perilaku bullying yang mereka lihat.
Lingkungan sekolah yang kondusif juga berperan untuk mencegah adanya bullying. Dengan adanya tindakan antisipasi dari guru, orang tua, dan masyarakat diharapkan berbagai jenis bullying dapat dicegah, terutama di sekolah. (*/fud) Editor : Arief