Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Urgensi Pertemanan yang Sehat

Arief • Senin, 31 Juli 2023 | 09:01 WIB
Teguh Pamungkas
Teguh Pamungkas
TANGGAL 23 Juli lalu kita memperingati Hari Anak Nasional. Peringatan HAN 2023 itu mengusung tema "Anak Terlindungi, Indonesia Maju". Lalu, bagaimana keberadaan anak-anak dalam hal pertemanan belakangan ini?

Oleh: TEGUH PAMUNGKAS
Penyuluh Keluarga Berencana Perwakilan BKKBN Kalsel


Dalam kunjungannya ke Komunitas Jurnalis Cilik (KJC) Jakarta (13/7), Menteri PPPA Bintang Puspayoga mengatakan, HAN merupakan momen untuk menggugah kepedulian dan partisipasi seluruh komponen bangsa Indonesia dalam menghormati dan menjamin pemenuhan hak anak dan perlindungan dari kekerasan maupun diskriminasi.

Beberapa waktu lalu seorang siswa SMP baru saja membakar sekolahnya karena sakit hati. Emosi dan dendam karena menjadi korban perundungan di sekolah. Anak lelaki itu masih berusia 14 tahun yang bersekolah di sebuah SMP di Temanggung, Jawa Tengah.

Pada 27 Juni 2023 ia sengaja mendatangi sekolah di tengah malam sekira pukul 02.00 WIB. Sesampainya di sekolah, tak berselang lama dalam rekaman kamera pemantau, ia menyulut api di halaman dan mengeluarkan botol yang berisi bahan bakar dari dalam ransel, lalu melemparkannya ke arah bangunan sekolah. Yang akhirnya membakar ruang prakarya, melahap karya-karya siswa dan selanjutnya merembet ke ruang kelas.

Dari kejadian ini bisa dilihat, begitu perlu menyikapi segera masalah perundungan atau bullying di sekolah atau tempat pendidikan. Karena tatkala siswa mengalami perundungan, eksesnya siapa menyangka akan bakal berbuat demikian.

Sedikit bercerita, anak saya kelas satu SD pernah juga mengalami perundungan di sekolah. Yang berdampak menolak untuk pergi ke sekolah. Namun dengan sedikit bujukan, mau bersekolah. Awalnya hari itu saja, rupanya keesokan harinya tidak mau bersekolah kembali. Akhirnya saya pun menanyakan secara perlahan tentang aktivitas di sekolah, terutama seminggu terakhir. Mulai belajar apa, makan apa di sekolah, bermain apa dengan siapa, sampai menanyakan suasana lingkungan sekolah.

Alhasil ia pun mau menceritakan keengganannya untuk bersekolah. Ternyata penyebabnya adalah karena ia mengalami perundungan oleh kakak kelasnya saat menuju toilet. Kejadian itu lebih dari satu hari. Hingga ketika selama berada di sekolah rela menahan buang air kecil maupun besar. Karena takut dirundung lagi di lorong arah ke toilet. Bersyukur, anak mau menceritakan perihal yang terjadi di sekolah, sehingga masalah tersebut bisa segera disikapi dan mau bersekolah kembali.

Perundungan kemungkinan bisa saja terjadi ketika anak berada di manapun. Bukan hanya di tempat pendidikan atau sekolah, namun perundungan bisa terjadi juga saat berada di lingkungan tempat tinggal.

Ada beberapa sikap yang perlu dibangun sebagai tindakan pencegahan ataupun sikap ketika menjadi korban perundungan. Dari pertemanan sebaya, apabila anak atau rekan mengalami bullying maka dapat melakukan; pertama, memperbanyak teman. Hiduplah secara bersosial, yang di dalamnya terjalin pertemanan dengan banyak teman. Berteman tanpa memandang sosial tidak berpilih-pilih teman, namun tetap berdasar pada pertemanan yang sehat.

Kedua, sikap yang baik kepada teman. Untuk memperbanyak teman, tentunya anak memperhatikan tutur kata dan perilaku yang baik. Dalam melakukan interaksi sosial, senantiasa anak-anak menghindari kata-kata kasar yang bisa memicu emosi teman.

Bercanda untuk keakraban yang tidak menyakiti teman sesama. Apabila ketidaksengajaan telah dilakukan, maka segera memohon maaf dari kesalahan itu.

Di saat teman sebayanya ada yang melakukan perundungan, maka diingatkan untuk tidak melakukan perundungan. Dan tentunya tidak melakukan bullying balik, karena malah akan menambah rentetan bullying berikutnya.

Ketiga, jangan pernah sendirian. Pertemanan yang telah dibangun dengan baik akan menumbuhkan rasa menolong, membantu dan kepedulian. Mereka akan terbiasa untuk tergerak memperhatikan apa yang meski diperbuat kepada temannya. Teringat, setelah anak saya dirundung di lorong atau jalan menuju toilet, di hari-hari selanjutnya, beberapa teman sekelas menemaninya ketika hendak buang air kecil maupun buang air besar.



Sementara itu, kita selaku orang tua atau pendamping, guna mencegah dan atau menyikapi anak korban perundungan mungkin diperlukan; pertama, sikap membuat anak mau terbuka. Memang anak usia remaja SMP lain halnya dengan yang masih SD. Mereka yang menjajaki remaja akan senang bercerita tentang kehidupannya dengan teman sebayanya. Lebih asyik dan lebih nyambung.

Meskipun demikian, dari bercerita dengan kawan biasanya ada yang menyampaian persoalan siswa kepada guru atau sekolah. Namun persoalan lain tatkala anak menutup diri, tidak bercerita kepada siapa pun.

Begitu dengan kehadiran keluarga. Andil orang tua atau keluarga dalam kehidupan anak dan remaja sekolah begitu besar. Dari keluarga lah support untuk menumbuhkan karakter anak terbangun. Amati, dekati, mengobrol dan mengajak diskusi atau sekadar bercerita, terutama kehidupannya saat di sekolah dan lingkungan bermain dengan teman-temannya. Berangkat dari situlah perlahan menanamkan kepercayaan kepada anak.

Kedua, kolaborasi orang tua dan pengajar di sekolah. Komunikasi antara orang tua dan sekolah hadir sebagai penghubung anak didik. Karena dengan adanya komunikasi kedua belah pihak, kebiasaan siswa dapat terpantau. Keberadaan anak di sekolah bisa menjadi perhatian pula untuk evaluasi ketika di rumah. Bentuk komunikasinya bisa bertemu langsung dan atau menggunakan grup sosial media.

Begitu sebaliknya, perihal informasi yang perlu diketahui sekolah, sebaiknya keluarga pun menyampaikan ke pengajar. Sehingga apa yang perlu disikapi dan di-monitoring pun tersampaikan kepada anak saat di sekolah. Peran kolaborasi orang tua dan sekolah memiliki dampak besar dalam menempuh pendidikan. Karena dari sanalah perkembangan anak akan bisa lebih terperhatikan. Anak-anak mengalami perkembangan dan pertumbuhan ditandai dengan variabel, yakni secara fisik dan psikis.

Anak terlindungi, salah satunya adalah pertemanan sehat tanpa ada perundungan. Karena perundungan atau bullying secara verbal maupun nonverbal memiliki dampak pada kehidupan anak. Entah memiliki ekses sampai saat itu saja atau bisa terpendam dalam jangka waktu lama, bahkan bisa sepanjang hidup.

Di momen Hari Anak Nasional, saatnya anak-anak berani berbicara, peduli dan terlindungi. Semoga tetap sehat dalam berteman dan pergaulan. Jika terlanjur mengalami perundungan di sekolah maupun di lingkungan sosial, segera bantu me-recovery. Bangun semangat dan kepercayaan dirinya untuk pulih, sehingga bisa melanjutkan kembali hari-harinya. (fud) Editor : Arief
#Opini #BKKBN