Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Apresiasi untuk Sudin Panjaitan, Penyemai Ulin Langka

Arief • Kamis, 6 Juli 2023 | 14:13 WIB
Bambang Karyanto
Bambang Karyanto
BUDIDAYA adalah jalan penyelamatan pohon ulin dari ambang punah. Celakanya biji ulin yang keras sulit berkecambah. Teknik terbaru dapat mendongkrak daya kecambah menjadi 95 persen yang semula hanya 40 persen. Ulin Eusideroxylon malagangai dan E. zwageri memang istimewa karena kekuatan kayunya.

Oleh BAMBANG KARYANTO
Ketua Yayasan Kampung Ramah Gas Rumah Kaca (GRK) Indonesia


"Iron wood termasuk kayu kelas kuat 1 dan kelas awet 1, itu peringkat kayu paling atas di dunia," kata Eny Dwi Pujawati, ahli fisiologi pohon dari Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat.

"Akibat penebangan yang kian marak. Kini ulin bukan lagi langka, tapi menuju kepunahan bila tidak ada upaya konservasi serius," kata Abdul Aziz Karim, rekan Pujawati di ULM.

Untuk mencegah kepunahan, budidaya ulin menjadi pilihan. Namun, biji pohon anggota famili Lauraceae itu yang panjangnya 5-15 cm dan berdiameter 3-6 cm bertempurung keras sehingga daya kecambahnya rendah. Kulit biji sangat keras sehingga secara alami masa dormansinya panjang: 6-12 bulan.

Kerap biji yang dibiarkan 1-2 tahun tak kunjung berkecambah. "Kulit biji lebih keras daripada tempurung kelapa. Keping tembaga tidak mampu menerobos kulit yang menyelimutinya," tambah Aziz.

Air Mendidih


Produsen bibit menempuh berbagai cara untuk memecah dormansi ulin. Menurut Gatot Azhari dari Balai Perencanaan Pembangunan Daerah Lampung, yang pernah mengeksplorasi ulin di Kalimantan Barat, pembibit lazimnya merendam biji dengan air panas bersuhu 100 derajat celsius atau membenamkannya di dalam tanah selama berbulan-bulan.

Cara itu juga tak efektif karena daya kecambah hanya 40-50 persen. "Meski permintaan bibit untuk penanaman tinggi, pembibit tak mampu penuhi karena daya kecambah rendah," katanya.

28 tahun silam, Aziz mengakalinya dengan "menyunat" ujung biji. Caranya ia menggergaji ujung biji agar bakal tunas dari keping lembaga mudah menerobos keluar kulit.

Teknik itu mirip cara pengguntingan pada penyemaian biji baobab Adansonia digitata. "Dengan cara sunat, daya kecambah naik 83 persen. Bila tak disunat hanya 40 persen," tutur Aziz.

Sayang, teknik sunat masih merepotkan bagi pembibit usaha kecil. Anggapan menyemai biji ulin sulit pun patah di tangan Sudin Panjaitan, ahli silvikultur dari Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru.

Dengan cara sederhana, insinyur itu meningkatkan daya kecambah benih ulin hingga melesat 95 persen. Sudin mengumpulkan biji-biji ulin dari hutan dan menjemur selama empat jam di bawah terik matahari.

Lalu terdengar suara "tak tek tok, tak tek tok" bersahut-sahutan dari kulit biji setebal 1-2 mm yang pecah tersengat panas. Biji pun siap dikecambahkan di media persemaian.
Teknik memecah dormansi ala Sudin memang baru. "ltu mirip dengan cara mengecambahkan biji rotan," kata Aziz.

Menurut Aziz, mengacu pada biji rotan, maka teknik penjemuran biji ulin bakal lebih efektif bila dijemur di terik matahari yang tinggi dengan beralaskan seng atau lantai beton.
Panas yang tinggi membuat kulit biji terpecah tanpa repot-repot menggergaji. Sudin menemukan cara memecah dormasi biji ulin dengan terik matahari secara tidak sengaja.



"lseng saja saya minta teknisi menjemur. Padahal literatur klasik mengharamkan penjemuran biji ulin karena menurunkan daya kecambah. Tak disangka kulit biji malah pecah sendiri," kisah Sudin.

Beragam pustaka sejak 1859 hingga awal 1980 memang menyebut biji ulin pantang dibiarkan di tempat terbuka; dianjurkan disimpan di tempat lembab.

Sinar Matahari


Langkah berikutnya, Sudin menyemaikan biji yang kulitnya pecah itu. "Semuanya berhasil tumbuh," kata Sudin. Pada 2005, Sudin mempraktekkan kembali teknik yang ditemukannya pada 2003 itu untuk penanaman ulin di lahan seluas 5 ha.

Artinya dengan jarak tanam 3 m x 6 m, Sudin telah mengecambahkan 2.500 biji ulin sejak lima tahun silam. Kini semua biji itu telah bersalin rupa menjadi tegakan setinggi 3-5 m dengan diameter batang 2-3 cm.

Menurut Sudin, biji dengan kulit yang sudah terkelupas berkecambah 1-2 hari kemudian, lalu tumbuh selama 1,5-2 bulan agar siap pindah tanam ke polibag berukuran 15 cm x 20 cm. Lazimnya ukuran tanaman mencapai 20-25 cm.

Sudin menyimpan bibit di polibag di rumah yang teduh selama 3 bulan, lalu aklimatisasi atau adaptasi di ruang terbuka selama 3 bulan. Setelah itu, "Kayu besi siap ditanam di lapangan. Akar dengan media sudah menyatu, tanaman juga sudah mampu beradaptasi dengan lahan terbuka."

Agar tumbuh baik, ulin ditanam di lapangan dengan intensitas cahaya 40-50 persen. Maklum, di hutan perawan, kayu tebelian--nama lain ulin--dikenal sebagai tanaman gap opportunis. Maksudnya, hanya merespons cahaya matahari yang masuk dari celah tajuk hutan di antara pukul 11.00-13.00.

"Bila cahaya terlalu banyak, daun menguning dan pertumbuhan kerdil. Pun demikian bila keteduhan, daun hijau menebal, tapi pertumbuhan mandek," tutur Sudin.

ltu bisa diatasi dengan penanaman jalur di antara meranti atau jenis lain yang dapat menaungi ulin. Ulin terbaik menurut Sudin Panjaitan berasal dari Provinsi Kalimantan Timur/Utara. (fud) Editor : Arief
#Opini #flora