Oleh: KH NASRULLAH AR
Ketua Steering Committee (SC)
Konferwil NU Kalsel IX
Agar tidak terbawa perasaan alias baperan, emosional, penuh syak wasangka yang tidak menunjukan sikap dewasa, arif dan bijaksana. Untuk apa? Agar tidak menjadi citra negatif buat NU di ruang publik.
Faktor Internal
Pada Sabtu 11 Maret 2023, ada rapat persiapan konferwil dan pembagian surat keputusan struktural kepanitiaan. Hasilnya, memutuskan menggelar konferwil setelah Lebaran Idulfitri dan bertempat di pondok pesantren. Namun karena sesuatu dan lain hal, maka jadwal itu berubah.
Kemudian Pengurus Wilayah NU Kalsel mengundang panitia yang sudah terbentuk untuk rapat kembali sekaligus halalbihalal pada 21 Mei 2023 di aula Gedung Dakwah NU Kalsel.
Hasilnya, diputuskan konferwil dimulai hari Kamis sampai Minggu pada tanggal 8-11 Juni 2021 atau bertepatan dengan 19-22 Zulkaidah 1444 Hijriah.
Tempatnya di Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai, ponpes tertua di Kalimantan yang banyak melahirkan ulama besar bahkan pemimpin bangsa. Salah satunya Kiai Idham Chalid yang sekarang bergelar Pahlawan Nasional.
Setelah diputuskan, sambil menunggu keputusan dari Pengurus Besar NU, panitia bekerja keras secara maraton, baik penanggung jawab konferwil maupun steering committee (SC) dan organizing committee (OC) dengan tugas yang sudah dibagikan, walaupun prinsipnya kerja bersama.
Pucuk dicinta ulam pun tiba... PBNU menyetujui rencana usulan waktu dan tempat yang diajukan oleh PWNU untuk penyelenggaraan konferwil kesembilan tersebut.
OC yang dikomandoi oleh Berry Nahdiyan Furqon dengan penuh semangat dan tulus ikhlas mengkoordinir semuanya: kordinator acara, koordinator keamanan, koordinator bidang persidangan, koordinator bidang Ahlul Halli wal 'Aqdi, koodinator Bahtsul Masail, koordinator tamu undangan, koordinator kesehatan, koordinator konsumsi, koordinator kesekretariatan, koordinator akomodasi perlengkapan dan transportasi.
Lalu SC yang dikomandoi oleh penulis sendiri, mengejarkan secara intens rundown, TOR, dan tata tertib yang memuat persyaratan calon. Salah satu syarat adalah tidak pernah bermasalah hukum semisal tersangkut kasus tindak pidana korupsi.
SC juga mengerjakan draf A yang membahas organisasi, draf B yang membahas program kerja, dan draf C yang membahas rekomendasi atau tausiah. Ditambah Bahtsul Masail yang akan merumuskan sikap atas masalah-masalah kekinian seperti digitalisasi, kriminalisasi dan persoalan lingkungan.
Singkat cerita, rangkaian konferwil dimulai sejak Kamis. Registrasi berjalan lancar. Puncak event dilaksanakan pada malam Jumat, yaitu gema selawat bersama Habib Zulfikar Basyaiban al-Idrisi dan Veve Zulfikar.
Pagi Jumat diisi dengan acara pembukaan yang luar biasa sakral dan meriah. Dihadiri oleh tokoh dan ulama sepuh se-Kalsel, salah satunya adalah Prof KH Sabran Affandi. Beliau adalah pakar hadis lulusan Universitas Ummul Quro Mekkah.
Sekitar pukul 14.00 Wita, Ketua SC, Ketua OC, Rais Syuriah, Ketua Tanfidziyah dan utusan PBNU (KH Mukri bersama KH Salahuddin dan KH M Tamrin) bermaksud membuka sidang pleno pertama dalam rangka pengesahan materi konferwil.
Tidak ada sidang sama sekali, karena masih tahap verifikasi. Jika ada yang menyebut sidang sempat dimulai, dipastikan orang itu ngarang alias asal bunyi.
Sejak Kamis pagi itu, SC terus menerima laporan dari kesekretariatan. Bahwa banyak kekurangan atau pelanggaran secara administrasi maupun regulasi dari cabang yang berkaitan dengan mandat. Namun, kami tak mungkin menolak atau membiarkan peserta Pengurus Cabang NU terlunta-lunta. Maka diberikan dispensasi. Dengan syarat kekurangan atau kekeliruan administrasi itu diperbaiki atau dilengkapi.
Menyikapi itu, sebelum sidang pleno dimulai, SC mulai memverifikasi mandat dari cabang-cabang. Dan meminta mereka untuk mengumpulkan usulan para kiai yang bakal menjadi anggota Ahwa.
Tetapi, sampai verifikasi diskor selama 30 menit, usulan ternyata belum terpenuhi. Ditambah satu jam lagi, oh belum juga tuntas. Hal itu sontak membuat utusan PBNU kaget. Karena semestinya sehari sebelum konferwil, hal-hal seperti itu sudah beres.
Berdasarkan pertimbangan itu dan melalui diskusi di sela verifikasi, maka PBNU meminta saya untuk menjadwalkan persiapan sidang setelah salat isya.
Bakda isya, maka digelar pertemuan kembali dengan peserta yang dihadiri oleh PBNU, Rais Syuriah, Ketua Tanfidziyah, Ketua SC dan Ketua OC.
Saya sebagai Ketua SC, membuka acara setelah mengabsen peserta per cabang. Lalu menyilakan PBNU untuk memberikan penjelasan dan memutuskan eksistensi konferwil. Hingga dipaparkan dan diputuskan untuk dihentikan karena konferwil cacat prosedural, lantaran melanggar aturan hasil muktamar yang menjadi instrumen organisasi.
Maka kami dari pengurus wilayah, SC, maupun OC bersikap sami'na wa atho'na (kami mendengar dan patuh). Semua taat asas.
Jadi salah besar dan kami sangat tersinggung bila ini disebut permainan, apalagi sampai menuding PBNU, seperti apa yang dikatakan Syaifullah Tamliha.
Lalu siapa yang harus bertanggungjawab? Maka jawabannya adalah seluruh pengurus NU Kalsel, panitia pengarah maupun panitia pelaksana, karena sifatnya kolektif kolegial.
Kemudian juga timbul pertanyaan, mungkin tersirat dalam pikiran kita, siapa yang akan melanjutkan konferwil?
Saya menjawab, PBNU sudah memperpanjang SK (surat keputusan) PWNU Kalsel dengan jangka waktu yang cukup untuk mengevaluasi pengurus wilayah, panitia, dan pengurus cabang seprovinsi.
Faktor Eksternal
Berdasarkan pantauan panitia, banyak pihak-pihak eksternal yang sengaja mempengaruhi peserta agar tidak tertib. Sehingga mereka tidak fokus dengan acara konferwil. Dan itu terbukti ketika panitia menyiapkan Hotel Minosa Amuntai untuk penginapan panitia dan tujuh peserta resmi. Ada saja peserta yang tanazul (berpindah) menginap ke Hotel Balqis Amuntai yang disiapkan seorang bakal calon ketua PWNU.
Juga penting disebut, isu politik uang yang menerpa arena konferwil. Seperti temuan rekomendasi berlapis, jika dijumlahkan maka bisa mencapai hampir 45 PCNU se-Kalsel (padahal cuma ada 15 PCNU).
Ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi kami. Segera akan kami investigasi secara serius, agar marwah NU tetap terjaga.
Berikutnya, isu kepentingan partai politik yang membayang-bayangi konferwil turut menjadi perhatian kami dari pengurus wilayah. Supaya terlihat terang benderang. Agar tidak ada fitnah dan adu domba yang bisa mengancam ukhuwah sesama warga Nahdliyin.
Akhirnya, penulis mengutip seorang penyair Mesir yang berkata, "Percuma beragama, percuma berbangsa dan bernegara apalagi berpolitik, jika ternyata tidak berakhlak". (fud) Editor : Arief