Oleh: MUHAMMAD SYARAFUDDIN
Pemimpin redaksi Radar Banjarmasin
ADA banyak kebaikan yang ditawarkan album berdurasi 77 menit ini. Tiga yang paling menonjol.
Pertama, pada umur 59 tahun, vokal James Hetfield justru terdengar semakin bertenaga. Di album sebelumnya, ia tak pernah menyanyi sebagus ini.
Mungkin karena sekarang ia lebih menghayati. Lebih dalam.
Beberapa lirik yang ditulisnya memang personal. Contoh pada lagu "Chasing Light".
Bercerita tentang masa kecil yang sulit. Bokap Hetfield minggat dari rumah ketika usia putranya baru 13 tahun.
Hetfield terdengar marah, tapi tetap terkendali.
Kedua, Metallica akhirnya mempercayai seorang Robert Trujillo. Ia diizinkan bermain solo pada lagu "Inamorata".
Sebagai kejutan tambahan, Trujillo juga turut bernyanyi pada lagu "You Must Burn".
Bergabung pada 2003 lewat sebuah audisi ketat, eks basis Suicidal Tendencies itu masuk menggantikan Jason Newsted yang memutuskan resign.
Di internal band asal Los Angeles ini, posisi basis memang yang paling rentan. Personel dan penggemar tak bisa move on dari mendiang Cliff Burton--tewas dalam kecelakaan bus tur pada 1986 di Swedia.
Para penggantinya, senantiasa berada di bawah bayang-bayang kebesaran Burton.
Tetapi, setelah memutar 72 Seasons berulang-ulang, akui saja: Burton memang tak tergantikan, tapi Trujillo berhak memperoleh respek lebih.
Terakhir, bermain dengan tempo seagresif itu, Metallica membuktikan bahwa umur hanyalah fakta angka. Mendekati kepala enam, mereka menolak untuk melambat.
Exit Light
Metallica adalah band jutaan dollar. Maka wajar bila media berlomba mengulas karyanya.
Di kolom The Guardian ditulis, 72 Seasons adalah album yang solid, tapi tidak spektakuler.
Kritiknya, lirik-lirik yang ditulis Hetfield secara reflektif, tak cocok diiringi musik dengan tempo ngebut.
Dari rating lima bintang, hanya dikasih tiga. Kejam juga.
Sedangkan Pitchfork mencurigai ketukan drum Lars Ulrich yang terlalu nendang. Kelewat presisi hingga terdengar kurang manusiawi.
Pada waktu bersamaan, menyanjung Kirk Hammett sebagai salah satu gitaris terbaik dalam sejarah metal yang kembali ke puncak performa.
Terlepas dari pujian itu, dari skor 10, Pitchfork cuma berkenan memberi 6,4.
Sedangkan Rolling Stone mengulas, selama 42 tahun berkarier di industri musik, Metallica berkali-kali lolos dari pertikaian dan kejenuhan yang bisa membubarkan sebuah band.
Lewat album ini, Hetfield dan Ulrich seakan hendak membagikan kebijaksanaan yang telah mereka peroleh. "What don't kill ya make you more strong," kata Hetfield.
Terakhir, review Forbes menyatakan tidak ada yang baru dari 72 Seasons. Metallica versi 2023 hanya sedang berupaya kembali ke masa kejayaan thrash metal.
Album ini heavy, old school, dan diproduksi dengan sangat apik. Forbes berbaik hati memberikan skor 7/10.
Enter Night
Opini umum menyatakan, Master of Puppets (1986) adalah mahakarya Metallica. Sedikit berada di bawahnya ada And Justice for All (1988).
Namun, sebagai bocah yang besar di era 90-an, saya tak ragu menegaskan The Black Album (1991) sebagai masterpiece.
The Black Album merupakan mukadimah terbaik bagi remaja yang sedang belajar mengulik khazanah musik metal.
Saya takkan bisa melupakan momen ketika membeli kaset pita The Black Album… seorang pelajar madrasah tsanawiyah di Banjarmasin telah tercerahkan!
Betul, tahun 2000-an memang bukan waktu yang tepat untuk mengenal Metallica. Itu fase kemunduran.
Banyak yang bilang bahwa Metallica telah berdosa karena merilis St Anger (2003) dan Lulu (2011). Sebenarnya nggak jelek-jelek amat, tapi karena ini Metallica, standar dan ekspektasi terlanjur dipatok tinggi.
Syukur, Ulrich dan Hetfield lekas menginsafi. Metallica kembali ke fitrahnya lewat Death Magnetic (2008). Hingga ditebus lunas oleh Hardwired to Self Destruct (2016).
Dan jangan lupakan Beyond Magnetic (2011). Sebuah EP (mini album) dengan kualitas materi yang sama sekali tidak mini.
Jadi di mana posisi 72 Seasons dalam diskografi Metallica? Jelas ini bukan album terbaik. Tetapi setelah empat dekade berkarier, 72 Seasons adalah sebaik-baiknya penutup sebuah perjalanan panjang. (al/fud) Editor : Arief