Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sekolah Kebanjiran, Pendidikan Jadi Korban

Arief • Senin, 3 April 2023 | 10:46 WIB
Syaiful Bahri Djamarah
Syaiful Bahri Djamarah
RADAR Banjarmasin, Kamis 30 Maret 2023 menurunkan berita, bahwa hingga akhir Maret 2023, Kota Banjarbaru belum lepas dari ancaman banjir.

Oleh: SYAIFUL BAHRI DJAMARAH
Dosen PAI dan PPG Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Antasari Banjarmasin


Diutarakan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarbaru, Zaini Syahranie. Dikarenakan cuaca buruk yang sampai sekarang masih menerpa ibu kota Provinsi Kalimantan Selatan itu. Hujan deras yang kadang disertai angin kencang dan petir.

Bahkan menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kota Idaman akan terus diguyur hujan sampai Mei mendatang. Jadi, status siaga banjir untuk Banjarbaru terpaksa belum dicabut.

Soal hujan di musim penghujan itu biasa saja. Akan tetapi, yang luar biasa, akibat hujan deras dengan intensitas tinggi dan volume air tinggi melebihi batas kewajaran menyebabkan banjir meluas ke mana-mana. Dampaknya berupa kerugian harta benda tidak dapat dihindari. Perekonomian lumpuh. Akses jalan sulit dilewati. Banyak rumah dan fasilitas layanan publik yang terendam air.

Dari semua itu, yang merisaukan hati adalah ketika banjir itu melanda suatu daerah yang di dalamnya ada lembaga pendidikan. Siapa yang dapat menjamin, bahwa banjir itu tidak berdampak terhadap pendidikan. Pasti banyak sekolah yang terendam air.

Mengamati media sosial, akibat hujan deras intensitas tinggi banyak sekolah yang terdampak banjir. Duta TV berturut-turut telah merilis berita tentang banjir di beberapa daerah di Kalsel dan dampaknya terhadap beberapa sekolah baik SD maupun SMP.

Pada 18 Desember 2021 terjadi banjir Rob. Diberitakan hanya satu SD yang terdampak banjir, yaitu SDN Pemurus Dalam 4 di Jalan Tatah Belayung Kecamatan Banjarmasin Selatan. Pada 27 Februari 2023 banjir di Martapura, SDN Pekauman 2 dan SMPN 2 Martapura Timur 2 terdampak banjir.

Pada 3 Maret 2023 diberitakan, sedikitnya 33 sekolah di Martapura terdampak banjir. Dari 11 kecamatan yang mengalami musibah banjir, terdapat 21 bangunan SDN dan 12 SMPN yang ikut terendam.

Pada 22 Maret 2023 diberitakan, 8 SMPN dan 33 SDN di Kabupaten Banjar turut terdampak banjir. Kondisi genangan banjir merendam seluruh ruang belajar dan ruang kantor di SMPN 2 Martapura Timur. Sekolah ini menjadi sekolah terparah yang direndam banjir, karena ada ruangan yang terendam hingga kedalaman 70 cm. SDN Pekauman 2 yang tidak jauh dari SMPN 2 Martapura Timur juga mengalami musibah banjir. Padahal pada 18 Desember 2021 SDN ini sudah pernah terdampak banjir.

Data tentang banyaknya sekolah yang terdampak banjir seperti disebutkan di atas hanyalah sebagian yang dapat dihimpun. Di luar Kalsel masih banyak berita duka tentang berbagai sekolah dalam berbagai tingkatan yang terdampak banjir. Akan tetapi, data banyaknya sekolah di Kalsel yang terdampak banjir merupakan representasi dari sejumlah sekolah di Indonesia yang terdampak banjir di musim penghujan.

Ini semua adalah berita duka bagi dunia pendidikan kita. Berita duka karena sekolah yang terdampak banjir pasti tidak bisa melakukan kegiatan pembelajaran. Sekolah terpaksa diliburkan atau terpaksa melaksanakan pembelajaran jarak jauh--meskipun tidak seefektif pembelajaran tatap muka. Hal ini karena sekolah yang terdampak banjir, gedungnya kotor, seluruh sarananya tergenang air, bahkan sangat mungkin ada yang rusak.

Di SDN Pemurus Dalam 4 misalnya, tempat parkir siswa ambruk, sejumlah kursi dan meja belajar rusak lantaran tergerus air pasang, dan suasana kelas berantakan. Di SMPN 2 Martapura Timur 2 meski seluruh barang elektronik dan buku sudah dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi, tetapi tetap saja sekolah diliburkan dalam beberapa hari sampai air benar-benar surut. Ini sangat merugikan siswa.

Kecuali untuk bangunan sekolah permanen yang hanya kotor, untuk bangunan sekolah dengan material papan tentu saja rentan mengalami kerusakan akibat banjir. Apalagi jika banjir itu rutin, minimal lima kali setahun.

Demikianlah. Banjir memang tidak pandang bulu. Ketika dia hadir segalanya porak poranda. Sifatnya yang cair ternyata menyimpan kekuatan merusak. Akibat terkena banjir, sekolah mengambil kebijakan darurat dengan menerapkan pembelajaran jarak jauh.

Tujuannya agar siswa tidak ketinggalan materi pelajaran. Tidak tertinggal jauh dari sekolah yang tidak terdampak banjir.

Fenomena banjir tidak selalu karena faktor alam. Bisa juga karena keserakahan manusia yang mengganggu keseimbangan ekosistem alam. Kita selama ini sepertinya lalai mengelola alam lingkungan dengan baik. Ekploitasi kekayaan alam yang tidak dapat diperbarui seperti batu bara secara membabi buta. Longsornya akses jalan di Satui, Kabupaten Tanah bumbu adalah bukti nyata.

Selain itu, pembakaran hutan dan lahan sesuka hati. Pembangunan perumahan tanpa drainase. Gorong-gorong tidak dibersihkan secara berkala. Pembuatan saluran air tidak terintegrasi. Sampah atau limbah masih terlihat menumpuk di daerah tertentu yang seharusnya bersih dari sampah atau limbah.

Akan tetapi yang menyedihkan, saluran air (drainase, gorong-gorong atau sungai) yang ada dibiarkan tersumbat atau sengaja ditutupi demi kepentingan pribadi atau itu dan ini. Bahkan pembuatan jalan betonan atau dari tanah dan bebatuan tanpa gorong-gorong. Ini jelas terlihat pada setiap jalan kecil atau gang.

Tidak hanya DKI Jakarta, fenomena banjir di Kalsel juga mendapat sorotan dari Presiden kita, Jokowi. Dia mengatakan, banjir di Kalsel akibat pertambangan dan perkebunan. Kritik ini bukan tanpa alasan. Karena memang kegiatan pertambangan di Kalsel telah merusak ekosistem alam.

Seharusnya mereka-mereka itu, para penambang, sadar sesadar-sadarnya, bahwa mereka ada andil dalam peristiwa banjir ini. Kini sudahilah penambangan besar-besaran. Kasihan Banua kami. Lebih bijak berusaha ke sektor lain (siapa tahu lebih menjanjikan) sebelum lingkungan alam hancur mengakibatkan banjir, sekolah kena dampaknya. Pemerintah hendaknya mengevaluasi, lebih banyak untung atau ruginya.

Terkait pertambangan. Terus terang, kami semua tidak ingin kita menderita bersama-sama. Sementara hasilnya hanya dinikmati oleh segelintir orang. Ini tidak benar.

Seharusnya kita berpikir dan bertindak antisipatif demi orang banyak. Demi kebaikan bersama. Bukan demi uang belaka, terjebak keserakahan. Bukankah sebaik-baik di antara kita adalah mereka yang bermanfaat bagi kehidupan sosial dan alam?

Akhirnya, mumpung bulan Ramadan, sekadar mengingatkan. Mari kita renungi meski sebentar pesan moral dari surah Al-Rum ayat 4 yang berbunyi, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (al/fud) Editor : Arief
#Opini