Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ortu Jarang Salat, Jangan Berharap Anak Pandai Mengaji

Arief • Selasa, 28 Februari 2023 | 08:13 WIB
Syaiful Bahri Djamarah
Syaiful Bahri Djamarah
SUDAH seharusnya menanamkan pendidikan agama sejak dini kepada anak. Sehingga nantinya bisa menjadi benteng utama dalam membentengi anak dari berbagai pengaruh negatif dari luar dirinya.

Oleh: SYAIFUL BAHRI DJAMARAH
- Alumni MAN Kampung Melayu Darat Banjarmasin 1985
- Dosen PAI dan PPG Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin


Apalagi seperti zaman sekarang. Angkara murka, kejahatan, kejahiliyahan ada di setiap sendi kehidupan. Sayangnya, di kalangan orang tua abai membentengi anak dengan pendidikan agama sehingga tidak jarang ditemui anak yang terlibat tawuran, berkelahi, saling mengejek, saling menghujat, pesta miras, dan menyebarkan hoaks.

Berbagai perilaku kenakalan anak di atas tentu merisaukan hati kita semua.

Membiarkannya bukan sikap yang bijaksana. Berputus asa tidak dibenarkan oleh agama. Lebih baik memaksimalkan ikhtiar sebelum menyerahkannya pada takdir Allah.

Bukankah apa yang terjadi karena ada penyebabnya, karena ada sebab menimbulkan akibat? Lalu, pendidikan agama seperti apa yang harus ditanamkan pada anak?

Ada tiga macam pendidikan agama yang wajib diberikan pada anak, yaitu pendidikan nilai keimanan, pendidikan nilai ibadah, pendidikan dan nilai muamalah.

Pertama, pendidikan nilai keimanan. Nilai keimanan yang harus ditanamkan pada anak adalah percaya kepada Allah, malaikat, nabi dan rasul, hari kiamat.

Meskipun pendidikan nilai keimanan yang harus diberikan sejak anak hingga remaja. Akan tetapi, cara yang digunakan tidak selalu sama. Boleh jadi cara dogmatis bisa digunakan untuk anak seusia SD karena mereka memiliki kemampuan berpikir konkret-mekanis.

Tetapi, tidak bisa digunakan untuk anak seusia SMP dan SMA. Karena mereka sudah memiliki kemampuan berpikir abstrak-logis. Oleh karena itu, lebih tepat digunakan cara analogi untuk anak seusia remaja. Cara analogi adalah cara memperkenalkan keberadaan Allah berdasarkan contoh yang sudah ada dalam realitas kehidupan.

Penanaman nilai keimanan kepada malaikat pada anak hanya bisa digunakan secara dogmatis berdasarkan dalil naqli karena terlalu sulit mencarikan bukti nyatanya dalam kehidupan sebagai analogi, seperti apa malaikat itu sesungguhnya.

Tentang keimanan kepada nabi dan rasul (An-Naml: 17) serta hari kiamat (Al-Hajj: 7) tidak sulit ditamankan pada anak karena ada dalam Alquran. Bahkan hari kiamat bisa menggunakan analogi. Misalnya, analogi letupan gunung merapi, tsunami, gempa bumi, dsb.

Problemanya sekarang, terutama masyarakat tradisional, menanamkan nilai keimanan pada anak secara dogmatis. Suatu pendekatan tanpa membuka ruang kepada anak untuk bertanya jawab. Ini berlangsung secara alamiah turun temurun. Ada problem ketika anak cerdas seusia SMP bertanya, apakah benar Allah itu ada?

Pertanyaan tersebut tidak bisa dijelaskan secara dogmatis. Karena jawaban singkat secara dogmatis cenderung menggiring anak harus percaya. Titik. Ini tidak mencerdaskan berpikir anak. Ini hanya bisa dijelaskan dengan cara analogi. Misalnya, analogi pembuatan wadai dadar gulung misalnya. Adanya dadar gulung pasti ada yang membuatnya meski tidak pernah bertemu. Cara ini mampu mencerdaskan anak seusia 15 tahun ke atas yang sudah memiliki kemampuan berpikir abstrak-logis.

Kedua, pendidikan nilai ibadah. Nilai ibadah yang seharusnya ditanamkan pada anak adalah salat, membaca Alquran, puasa, zakat, sadaqah, naik haji.

Pendidikan nilai ibadah paling utama diberikan pada anak adalah pendidikan salat dan membaca Alquran. Selama ini di antara kita alpa mendidik anak membaca Alquran dan salat. Di kalangan kita sendiri sebagai orang tua tidak memiliki kemampuan membaca Alquran dengan baik. Bukan hanya membaca terbata-bata, penguasaan makharijul huruf juga lemah dan tajwid tidak tahu sama sekali. Sehingga ketika membaca Alquran tidak nyaman didengar. Sayangnya, tahu lemah kemampuan membaca Alquran, tetapi tidak mau belajar Alquran.

Di kalangan kita, entah pak haji atau yang memakai kopiah haji, masih ditemukan salat seperti baju yang tambal sulam atau selawar rabit. Tetapi, ketika Ramadhan rajin salat. Ketika nisfu syakban langgar atau masjid penuh sesak jamaah salat. Bahkan langgar tidak mampu menampung jamaah salat. Akhirnya, terpaksa salat di halaman langgar.

Padahal, mereka-mereka itu, dalam sehidupan sehari-hari sering nongkrong atau sibuk dengan pekerjaan. Sepertinya tidak ada waku untuk salat. Jadi, terkesan hanya mengejar pahala yang ganal (besar). Salat bukan kebutuhan. Yang merisaukan hati, mereka yang naik haji tetapi tidak menghajikan hatinya karena ujub, riya, dan sum’ah, masih ditemukan meninggalkan salat.

Tetapi yang menggelikan, memakai kopiah bukan untuk salat tetapi menghadiri acara selamatan atau mahaul. Sayangnya, tidak berani hadir padahal diundang ketika acara selamatan setiap orang harus membaca satu juz Alquran.

Semua itu contoh yang tidak baik dalam rangka pendidikan nilai ibadah pada anak. Oleh karena itu, sudah saatnya orang tua rajin salat dan belajar mengaji jika memang tidak bisa membaca Alquran dengan baik dan benar.

Ketiga, pendidikan nilai muamalah. Pendidikan nilai muamalah ini ada dalam kehidupan sosial. Nilainya adalah bersilaturahmi, melestarikan lingkungan, menjaga sumber daya ikan dan hewan.

Idealnya, kita harus memberikan contoh yang baik pada anak selama hidup. Misalnya, memperlihatkan bagaimana kita memiliki hubungan baik antar kita, melestarikan lingkungan, menjaga sumber daya ikan dan hewan. Namun faktanya tidak demikian. Di antara kita masih ditemukan memberikan contoh perilaku jahiliyah kepada anak, yaitu melakukan perbuatan keji dan mungkar.

Perbuatan jahiliyah itu, misalnya, melakukan praktik ada uang urusan lancar, dalam pileg pilkada dilakukan securang-curangnya, menjadi pemimpin lupa daratan pilih kasih tidak adil, melakukan korupsi, mengedarkan narkoba, membangun rumah sampai ke aliran sungai, membiarkan drainase atau gorong-gorong tersumbat, memarkir kendaraan menghalangi lalu lintas, mengekploitasi alam membabi buta, berburu hewan sesuka hati, dsb. Padahal, Allah telah mengingatkan: Sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar (Al-Ankabut: 45).

Ketika menangkap ikan kita juga mewariskan cara-cara yang batil. Sebagian kita masih zolim, lebih banyak menangkap ikan menggunakan tuba atau setrom listrik dan sejenisnya demi memuaskan nafsu daripada menangkapnya secara alamiah. Akibatnya, ikan berikut telur dan bibitnya mati keracunan. Ludes. Padahal, ada dua cara yang bisa dilakukan dan dicontohkan pada anak. Pertama, menangkap ikan secara alamiah, yaitu menggunakan tampirai, lukah, rengge, jambih, memair, maunjun, dsb. demi menjaga ekosistem air. Kedua, membiarkan ikan semasa kecil, menangkapnya sesudah besar. Ini demi berkembang biaknya ikan secara melimpah.

Kepada para orang tua, mari dari sekarang mencontohkan yang baik-baik saja kepada anak. Bukankah anak itu harapan masa depan kita? Setelah dewasa dan kita menjadi tua, kakek nenek, anak kitalah yang akan memelihara kita seperti kita membesarkan dan memelihara mereka di waktu kecil. Oleh karena itu, cerdaskanlah mereka secara spiritual.
Akhirnya, berdoalah dengan hati menghadirkan emosi. Bukan hanya menadahkan kedua tangan dengan suara lantang. Berdoa untuk keselamatan anak penting. Tetapi, doa tanpa ikhtiar adalah hampa. (fud) Editor : Arief
#Religi #Opini