Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mewaspadai Penculikan Anak dan Berita Bohong

Arief • Senin, 6 Februari 2023 | 08:05 WIB
Teguh Pamungkas
Teguh Pamungkas
BEBERAPA hari yang lalu tersiar berita hoaks tentang penculikan anak sekolah dasar di media sosial WhatsApp. Informasi tersebut meresahkan para orang tua murid dan memicu kepanikan (Radar Banjarmasin, edisi 3 Februari 2023).

Oleh TEGUH PAMUNGKAS
Penyuluh Keluarga Berencana Kabupaten Tanah Laut
Wali murid SDIT Assalam Pelaihari.


Apa maksud si pembuat berita bohong itu sehingga mau membuat kegaduhan. Apakah tidak ada rasa empati atas peristiwa yang belum lama ini terjadi?

Sementara di daerah lain, pada awal tahun 2023 terjadi penculikan anak. Bocah berusia 11 tahun menjadi korban dua pelaku penculikan yang masih berusia remaja. Tragis, korban ditemukan telah meninggal dunia. Ironisnya pelaku nekat melakukan aksi penculikan karena tergiur penjualan organ tubuh dengan harga yang tinggi. Informasi yang diperolehnya dari video berita di internet, kata pelaku. Peristiwa penculikan itu terjadi tatkala korban sedang berada di depan minimarket.

Pada Desember 2022 lalu penculikan anak juga terjadi. Seorang anak perempuan yang berusia enam tahun diculik oleh seorang laki-laki yang merupakan teman orang tua korban. Syukurlah, setelah selama 26 hari menghilang, si bocah kembali ke pelukan ayah dan ibunya.

Pelaku dan korban memiliki kedekatan. Menurut ibu korban, pelaku kerap mengajak anaknya bermain. Rupanya kedekatan itu yang dimanfaatkan oleh pelaku guna memudahkan niat untuk menculik korban. Padahal, kedekatan yang ada semestinya menumbuhkan rasa aman, menjadi pelindung bagi anak, bukan malah sebaliknya.

Orang tua atau siapapun yang memiliki anak kecil sepatutnya mengetahui keberadaan anak. Selain itu, mengetahui anak sedang melakukan apa. Hal ini sebagai kewaspadaan dan perhatian kondisi anak. Karena penculikan, kejahatan dan kekerasan bisa saja terjadi tanpa kita duga.

Selain orang asing, kemungkinan pula dilakukan oleh orang terdekat. Bisa saudara, kerabat atau tetangga, kakak, ayah tiri bahkan ayah kandung, yang semestinya memberikan perlindungan dan keamanan. Bukan malah menjadikan anak korban kejahatan dan kekerasan yang mengakibatkan jiwa anak terguncang atau bahkan nyawanya melayang.

Berkat Kepedulian


Pelaku penculikan berhasil ditangkap karena kepedulian. Polisi berbegas dan berhasil menangkap pelaku penculik dan pembunuhan anak berkat informasi warga. Di mana sebelumnya, teman yang saat itu bersamanya di depan minimarket menolak diajak pergi, korban pun sudah diingatkan, namun tetap memilih ikut pergi bersama pelaku. Lama tak kembali pulang, anak tersebutlah yang melapor ke orang tua korban bahwa anaknya pergi bersama seseorang.

Kepedulian bersama sangat diperlukan. Termasuk kepedulian dari tempat pendidikan atau sekolah. Saat itu waktu menjemput anak pulang sekolah, di perjalanan menuju rumah, anak saya bercerita, bagaimana kita mesti hati-hati terhadap orang asing yang datang mendekatinya, untuk tetap mengantisipasi di mana segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Rupanya guru di sekolah telah mengajarkan intuisi perlindungan dan pertahanan diri ketika ada orang yang akan berbuat tidak baik. Antisipasi dan kehati-hatian harus senantiasa diterapkan sebagai bentuk kewaspadaan.

Sesampai di rumah kisah pelajaran membela diri dari sekolah itu masih berlanjut, seraya mempraktikkan gerak dan teriakan yang dilakukan dikala anak dalam keadaan darurat. Pendidikan keselamatan yang diajarkan pihak sekolah ke peserta didik sebagai mengantisipasi kejahatan sangat bermanfaat bagi anak. Upaya itu ditempuh sekolah sebagai wujud perhatian keselamatan bagi peserta didik.

Apakah usia anak-anak merupakan masa-masa mudah direbut hatinya, senang dibujuk dan mudah dipengaruhi. Dengan rayuan uang, iming-imingi janji dibelikan makanan, atau mainan anak bisa terpikat menjadi sasaran pelaku kejahatan.

Setelah ada berita benar tentang penculikan anak dan berita bohong tentang penculikan anak, tentu para orang tua jadi memiliki dua tugas. Yakni semakin selektif menyaring informasi yang masuk ke gawai dan sosial media, serta menanamkan kewaspadaan pada anak-anaknya pentingnya menjaga diri.

Informasi atau berita yang diterima langsung dan atau melalui media sosial sepatutnya dikonfirmasi kebenarannya. Melakukan kroscek keakuratan informasi tersebut, apapun berita itu. Sehingga tidak mudah untuk meneruskan informasi yang tidak jelas kebenarannya menjadi pesan berantai.

Di sisi lain kewaspaan terhadap penculikan anak tetap dilakukan. Ada beberapa kebiasaan yang perlu diterapkan pada anak-anak, seperti; pertama, pamit atau meminta izin kepada orang tua atau anggota keluarga, baik ketika pergi bermain, ke sekolah atau ke manapun.

Saat di sekolah, anak selalu izin kepada pengajar ketika ada keperluan di lingkungan sekolah. Ihwal ini bertujuan supaya orang tua mengetahui posisi anak berada di mana dan untuk keperluan apa, pun sama halnya ketika berada di sekolah.

Kedua, mengenalkan kawan bersamanya (teman bermain, sekolah dan bertetangga). Bertujuan mengenali kawan dan aktivitasnya saat berada di luar rumah, sehingga kita tidak khawatir dan risau akan sesuatu hal. Dan lebih peduli, kita bisa menanyakan keberadaan dan tentang anak kita. Apabila si anak tidak mengenalkan temannya, maka kitalah yang menanyakan tentang siapa teman atau orang yang bersama anak kita.

Ketiga, tidak mudah mempercayai orang. Dengan maksud tidak mudah dibujuk dan dirayu, apalagi diiming-imingi hal yang tidak logis, terlebih lagi yang dilakukan oleh orang yang tidak dikenalnya. Intinya mewaspadai keganjilan gerak-gerik orang kepada anak kita.
Keempat, kenali situasi sekitar saat di mana pun. Mengenali keadaan sebagai langkah awal adaptasi dan intuisi. Suatu perasaan mendalam ketika secara naluriah mengetahui tatkala yang dilakukan seperti apa. Sehingga anak memahami keadaan dan bisa menemukan cara ketika sewaktu-waktu keadaan darurat, di mana anak dalam bahaya atau perlu pertolongan dari orang lain segera.

Dalam menjalani kehidupan, manusia sebagai makhluk sosial tak bisa hidup seorang diri, termasuk anak-anak. Ia memerlukan interaksi sosial di masyarakat. Karena ingin memiliki teman, bisa mengenal tetangga, bermain dan terlibat dalam aktivitas-aktivitas sosial.
Namun kehidupan sosial anak menjadi terganggu tatkala lingkungannya terasa tidak aman, anak-anak sering kali menjadi waswas karena sesuatu hal bisa saja terjadi di luar kendali. Bagaimana bisa merasa aman jika masih berkeliaran orang-orang mendatangkan bahaya bagi anak.

Setop pula membuat dan menyebarkan berita hoaks yang membuat kepanikan. Berhenti dengan informasi yang tidak benar sumbernya, karena meresahkan dan menimbulkan kepanikan orang tua dan masyarakat.

Menjaga anak dan memberikan perlindungan pada anak bukan hanya tugas orang tua saja. Secara komprehensif, keamanan dan perlindungan anak mesti ada dari masyarakat dan negara, karena aktivitas yang dilakukan anak melingkupi pada berbagai tempat dan kegiatan.

Menjadi keharusan anak merasa nyaman dan aman tatkala di rumah, ketika di sekolah dan saat terlibat di masyarakat (di luar rumah). Mereka anak-anak di lingkungan sekitar kita yang tak memiliki orang tua pun berhak mendapatkan perilaku demikian, tetap menjadi tanggung jawab bersama dalam pendampingan. Dan kehadiran negara dengan kekuatan hukum andil besar dalam mengantisipasi dan menindak pelaku kekerasan dan kejahatan yang terjadi pada anak.

Dengan kepedulian bersama, berharap penculikan, kekerasan dan kejahatan pada anak-anak di keluarga dan di luar rumah tak terulang lagi. Yang mana akhirnya kita bisa mendampingi dan mengantarkan anak-anak pada cita-citanya dengan aman dan nyaman. (fud) Editor : Arief
#Opini #Penculikan