Pakar Kesehatan Olahraga Monsphysio: Cukup Meregang, Manfaatnya Sampai ke Jantung dan Umur Panjang

M Idris Jian Sidik • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 15:19 WIB
PEREGANGAN: Ilustrasi gerakan peregangan statis yang bisa dilakukan di dalam rumah sebagai alternatif olahraga aman selama kabut asap. (Ilustrasi AI)
PEREGANGAN: Ilustrasi gerakan peregangan statis yang bisa dilakukan di dalam rumah sebagai alternatif olahraga aman selama kabut asap. (Ilustrasi AI)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin - Kabut asap yang membuat warga Kalsel lebih banyak berdiam di dalam rumah ternyata membawa dampak tersendiri bagi tubuh.

Pakar Kesehatan Olahraga dari Monsphysio, Akhmad Ferdian, menjelaskan bahwa kebiasaan lebih banyak duduk dan menunduk ke gawai membuat otot tubuh cenderung menegang, mulai dari leher yang pegal, punggung yang kaku, hingga pinggul yang terasa berat.

"Berolahraga berat di luar sedang tak bijak, tetapi diam total juga merugikan," ujar Ferdian.

Ia merekomendasikan peregangan statis sebagai jenis latihan yang paling sesuai untuk kondisi tersebut. Menurutnya, gerakan ini tidak membutuhkan alat maupun ruang luas, dan yang terpenting selama musim kabut asap, hampir tidak membuat tubuh terengah-engah.

"Nyaris tak membuat kita terengah. Karena napas hampir tidak terpacu, partikel asap yang terhirup pun minimal," jelasnya.

Ferdian menyebut manfaat peregangan statis jauh melampaui sekadar membuat tubuh menjadi lebih lentur. Ia mengungkapkan, sebuah studi jangka panjang terhadap ribuan orang paruh baya menemukan bahwa mereka dengan kelenturan tubuh paling rendah memiliki risiko kematian lebih tinggi dibanding kelompok dengan kelenturan tertinggi.

"Penelitian ini bersifat pengamatan, jadi belum tentu sebab akibat langsung, tetapi sinyalnya kuat dan layak diperhatikan," katanya.

Ia menambahkan, manfaat peregangan statis juga menyentuh kesehatan jantung dan pembuluh darah. Program peregangan yang dilakukan secara rutin terbukti membantu menurunkan kekakuan pembuluh darah, salah satu faktor risiko penyakit jantung.

"Ini kabar penting justru bagi kita yang lebih banyak diam selama musim asap," ungkapnya.

Selain manfaat jangka panjang, Ferdian menyebut peregangan statis juga memberi manfaat harian, seperti meredakan pegal di leher dan punggung akibat kebiasaan menunduk, memperbaiki postur tubuh, hingga menenangkan pikiran yang tertekan oleh suasana kabut.

Terkait teknik yang benar, Ferdian mengingatkan bahwa peregangan tidak boleh dilakukan hingga terasa sakit. Menurutnya, kesalahan ini yang paling sering terjadi di masyarakat.

"Sebagian besar manfaat awal datang karena tubuh belajar menoleransi regangan, bukan karena dipaksa. Maka cukup regang sampai terasa tarikan ringan yang nyaman, bukan nyeri," jelasnya.

Ia menjelaskan, peregangan sebaiknya ditahan sekitar 20 hingga 30 detik untuk orang dewasa, atau 30 hingga 60 detik bagi lansia, dengan pengulangan dua hingga tiga kali pada setiap posisi. Selama proses tersebut, pernapasan harus tetap tenang dan tidak ditahan.

"Buang napas perlahan saat masuk lebih dalam ke regangan. Cukup 10 sampai 15 menit sehari, dan yang menentukan bukan seberapa keras, melainkan seberapa konsisten," katanya.

Ferdian menyarankan sejumlah titik tubuh yang paling perlu diregangkan, yakni leher, dada, otot depan pinggul akibat kelamaan duduk, paha belakang, dan betis. Ia mengingatkan agar gerakan dilakukan secara perlahan tanpa memantul-mantul.

"Kabut asap boleh membatasi ruang gerak kita, tetapi tidak harus membuat tubuh kaku dan menua lebih cepat. Cukup matras, sedikit ruang, dan sepuluh menit yang tenang," pungkasnya.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa peran fisioterapi bukan hanya memulihkan tubuh yang telanjur cedera, tetapi juga membantu menakar gerak yang tepat dan aman sesuai kondisi setiap orang, sebab peregangan yang benar dapat menyembuhkan, sementara yang berlebihan justru berisiko melukai.

Editor : Sutrisno
Olahraga Kalsel