Sebelum Dijuluki Kai Api, Muhammad Arsyad Termasuk Pelari Berprestasi Harumkan Kalsel

M Idris Jian Sidik • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:59 WIB
PELARI BERPRESTASI: Supian menunjukkan berbagai foto dan penghargaan ayahnya, Muhammad Arsyad yang dikenal sebagai Kai Api, di kediamannya di kawasan Rawasari, Banjarmasin Barat, Kamis (20/8/2026).
PELARI BERPRESTASI: Supian menunjukkan berbagai foto dan penghargaan ayahnya, Muhammad Arsyad yang dikenal sebagai Kai Api, di kediamannya di kawasan Rawasari, Banjarmasin Barat, Kamis (20/8/2026).

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Bagi masyarakat Banjarmasin, nama Muhammad Arsyad begitu lekat dengan aksi akrobat api. Sosok yang dikenal dengan julukan Kai Api itu selama bertahun-tahun menghibur masyarakat melalui atraksi ekstremnya.

Namun, di balik aksi bermain api yang membuat namanya dikenal luas, tersimpan kisah lain yang tak banyak diketahui publik.

Sebelum menjadi seniman akrobat api, Muhammad Arsyad ternyata merupakan seorang atlet lari. Bahkan, prestasinya pernah menembus panggung internasional dan membawa nama Kalimantan Selatan ke Singapura.

Enam tahun setelah kepergiannya, kisah tersebut kembali dikenang keluarga dan sahabat saat haul Muhammad Arsyad di kediamannya di kawasan Rawasari, Banjarmasin Barat, Kamis (20/8/2026).

Dari Lintasan Lari hingga Singapura

Supian, putra kedelapan Muhammad Arsyad dari sepuluh bersaudara, mengungkap sisi sang ayah yang selama ini jarang tersorot.

Menurutnya, dunia atletik telah digeluti Muhammad Arsyad sejak usia muda. Sang ayah dikenal sebagai pelari yang tetap aktif hingga memasuki usia senja.

“Dari segi atlet, beliau atlet dari muda dulu, dari bujangan sampai menjelang senja usianya. Beliau itu pelari. Dulu sempat ke luar negeri, ke Singapura, dan berhasil meraih juara dua di sana,” ungkap Supian.

Prestasi tersebut menjadi salah satu kenangan paling membanggakan keluarga.

Bagi mereka, Muhammad Arsyad bukan sekadar seniman yang piawai memainkan api. Ia pernah menjadi atlet yang mengandalkan ketekunan, latihan dan disiplin untuk mengejar prestasi.

Disiplin Atlet Menjadi Warisan Keluarga

Nilai-nilai yang diperoleh dari dunia olahraga ternyata tidak berhenti di lintasan lari.

Menurut Supian, kedisiplinan sebagai atlet turut membentuk karakter ayahnya dalam mendidik sepuluh anak.

“Kami dididik dengan disiplin, bukan keras. Contohnya shalat lima waktu harus tepat waktu. Jam lima sore kami harus sudah ada di rumah atau di mushalla. Tidak boleh berkeliaran. Itu yang beliau tanamkan kepada kami sejak kecil,” kenang Supian.

Dari sepuluh anak Muhammad Arsyad, terdiri dari lima laki-laki dan lima perempuan, tidak ada yang meneruskan profesi sang ayah sebagai seniman akrobat api.

Namun, semangat olahraga tetap mengalir dalam keluarga. Beberapa anaknya tetap aktif berolahraga, salah satunya menekuni olahraga voli.

Kai Api dan Warisan Seorang Atlet

Praktisi olahraga Yudha Pribadi yang hadir dalam haul tersebut turut mengenang Muhammad Arsyad dari perspektif dunia olahraga.

Menurut Yudha, sosok Kai Api merupakan bukti bahwa prestasi tidak selalu lahir dari fasilitas olahraga yang lengkap.

“Kai Api adalah sosok yang membuktikan bahwa semangat dan disiplin bisa membawa seseorang berprestasi tanpa harus bergantung pada fasilitas mewah. Beliau berlari bukan di trek berstandar internasional, tapi hasilnya membawa nama Kalimantan Selatan ke luar negeri. Itu warisan yang luar biasa dan patut dikenang oleh dunia olahraga kita,” ujar Yudha.

Bagi Yudha, perjalanan Muhammad Arsyad menjadi pelajaran bahwa tekad dan kedisiplinan dapat menjadi modal penting seorang atlet untuk berprestasi.

Dari Atlet Lari Menjadi Kai Api

Perjalanan hidup Muhammad Arsyad kemudian memasuki babak berbeda.

Ia meninggalkan dunia atletik dan mulai dikenal sebagai pemain akrobat api. Profesi tersebut kemudian justru membuat namanya semakin lekat di tengah masyarakat Banjarmasin.

Supian sendiri mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan sang ayah berganti profesi.

“Entah kenapa beliau berubah profesi, jadi pemain api. Mungkin sebagai hiburan. Tapi sejak itulah atletnya hilang dan Kai Api yang muncul,” tutur Supian.

Sejak saat itu, nama Kai Api menjadi identitas baru Muhammad Arsyad.

Atraksi api menjadi bagian dari kehidupan dan hiburannya untuk masyarakat. Namun, bagi keluarga, sosok di balik julukan tersebut tetaplah seorang ayah yang pernah berlari mengejar prestasi.

Tradisi 17 Agustus yang Tak Pernah Terlupakan

Semangat Muhammad Arsyad untuk memeriahkan kehidupan di lingkungan sekitar juga terlihat setiap perayaan HUT Kemerdekaan RI.

Setiap 17 Agustus, ia memiliki tradisi membuat gerobak hias untuk ikut memeriahkan perayaan kemerdekaan di lingkungan tempat tinggalnya.

Gerobak tersebut dibuat menggunakan biaya pribadi maupun sumbangan warga sekitar.

Kini, enam tahun setelah kepergiannya, kenangan tentang Muhammad Arsyad belum benar-benar hilang.

Masyarakat mungkin lebih mengenalnya sebagai Kai Api, sosok yang identik dengan atraksi api. Namun bagi keluarga dan dunia olahraga, ia juga merupakan seorang pelari yang pernah membawa nama Kalimantan Selatan hingga ke Singapura.

Warisan terbesarnya pun bukan hanya atraksi yang dikenang penonton, tetapi juga kedisiplinan dan semangat yang ia tanamkan kepada sepuluh anaknya.

Dari lintasan lari hingga panggung api, perjalanan hidup Muhammad Arsyad menunjukkan bahwa satu nama bisa menyimpan lebih dari satu cerita.

Editor : Eddy Hardiyanto
Harumkan Kalsel berprestasi pelari