RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, JAKARTA - Dominasi Jawa Timur (Jatim) di cabang olahraga tenis Pekan Olahraga Nasional (PON) berpotensi memunculkan perubahan besar. Sejumlah pengurus provinsi (Pengprov) PELTI mengusulkan pembatasan usia dan strata atlet untuk PON 2028. Jika usulan itu disahkan, pemain-pemain elite seperti Aldila Sutjiadi dan Janice Tjen bisa saja tidak lagi tampil di ajang tersebut.
Pada PON Aceh-Sumut 2024, Jatim tampil sangat dominan dengan meraih tujuh medali emas, tiga perak, dan satu perunggu. Kehadiran nama-nama besar seperti Aldila Sutjiadi dan Janice Tjen yang sudah berpengalaman tampil di turnamen Grand Slam, termasuk Wimbledon, membuat daerah lain sulit bersaing.
Ketua Umum Pengprov PELTI DKI Jakarta, Hari Nugroho, mengatakan pihaknya telah mengusulkan agar PON 2028 lebih difokuskan sebagai ajang pembinaan atlet muda. Usulan tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PELTI di Balikpapan beberapa bulan lalu.
Menurut Hari, semangat PON adalah menjadi wadah pembinaan atlet daerah menuju level nasional.
"Kalau sudah juara dua kali PON, idealnya dia main ke tingkat internasional atau bermain di liga. Kalau sudah ikut ajang internasional, misalnya Grand Slam seperti Wimbledon, French Open, atau Australian Open, lalu masih ikut PON, ya hampir pasti akan menjadi juara," ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut membuat atlet-atlet junior kesulitan berkembang.
Selain kualitas permainan yang timpang, Hari menyebut hasil pertandingan yang terlalu mudah juga mengurangi daya tarik kompetisi.
"Kan kurang menarik kalau skornya 6-0 atau 6-1. Makanya di Rakernas saya mengusulkan batas usia maksimal sekitar 25 sampai 27 tahun," katanya.
Hari mengklaim mayoritas Pengprov menerima usulan tersebut. Selain pembatasan usia, juga muncul usulan pembatasan berdasarkan strata atlet.
"Jadi mudah-mudahan tahun ini sudah selesai. Nantinya ada batas usia maksimal, kemudian atlet yang sudah memiliki prestasi internasional tertentu tidak perlu lagi mengikuti PON," jelasnya.
Jatim Sudah Siapkan Regenerasi
Sementara itu, Sekretaris Umum Pengprov PELTI Jawa Timur, Didik Purnomo, mengakui usulan pembatasan usia bukan hanya datang dari DKI Jakarta, melainkan juga didukung mayoritas Pengprov dalam Rakernas.
Meski demikian, Didik menegaskan tenis merupakan cabang olahraga Olimpiade yang pada dasarnya tidak mengenal batas usia maksimal.
"Tapi ya itu usulan. Sah-sah saja," katanya kepada Jawa Pos.
Didik menjelaskan, dalam pembahasan sementara, PON kemungkinan masih memperbolehkan setiap daerah menurunkan satu atlet senior putra dan satu atlet senior putri. Namun, skema tersebut belum menjadi keputusan final.
Menurutnya, hasil Rakernas masih akan dituangkan dalam Berita Organisasi (BO), kemudian disusun menjadi Peraturan Organisasi (PO) dan technical handbook sebelum diajukan kepada KONI Pusat.
"Iya, mekanismenya seperti itu. Jadi bukan langsung diputuskan hanya dari Rakernas," ujarnya.
Didik menilai dominasi Jatim seharusnya menjadi motivasi bagi daerah lain untuk meningkatkan pembinaan atlet. Selama ini, pembinaan tenis di Jawa Timur dilakukan secara berjenjang, mulai tingkat wilayah hingga provinsi.
Namun, apabila nantinya aturan pembatasan usia benar-benar diterapkan, Jatim mengaku sudah menyiapkan regenerasi. Saat ini, tim Puslatda Jatim telah dibentuk dengan Irmantara Subagio sebagai direktur. (jp)
Editor : Arief