RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Kotabaru – Gemuruh riuk arena N9 Arena, Nilai Indoor Stadium, Negeri Sembilan, Malaysia, menjadi saksi bisu perjuangan enam petarung muda Taekwondo asal Kabupaten Kotabaru.
Berlaga dalam ajang bergengsi International Taekwondo Championship pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026, kontingen Bumi Saijaan sukses memborong 6 medali. 2 emas, 3 perak, dan 1 perunggu.
Perjalanan menyapu bersih medali bagi seluruh atlet yang berangkat ini dipenuhi drama pertarungan yang mendebarkan di atas matras.
Young Coach Sabeum Hadad (Wiqoldi Putra) secara eksklusif Minggu (2/8) sore melalui telepon WhatsApp menceritakan atmosfer sengit dan tensi tinggi pertandingan tersebut kepada Radar Banjarmasin.
"Dari enam atlet yang kita berangkatkan, alhamdulillah semuanya dapat medali. Ada 2 emas, 3 perak, dan 1 perunggu. Tapi jujur, perjuangan anak-anak di matras luar biasa berat karena lawan-lawan disini sudah sangat terbiasa dengan atmosfer panggung internasional," ujar Sabeum Hadad.
Hadad menceritakan, selain harus menghadapi lawan-lawan luar negeri, musuh tak kasat mata yang harus ditaklukkan atlet Kotabaru di awal pertandingan adalah demam panggung.
Dari enam atlet yang diboyong, lima di antaranya merupakan pendatang baru yang belum pernah sekalipun mencicipi persaingan kancah internasional.
Satu-satunya atlet yang sudah memiliki jam terbang internasional sebelumnya hanyalah Alden Mikael Syaf. Kondisi ini membuat tim kepelatihan harus bekerja ekstra keras membangun mentalitas sejak sebelum menginjakkan kaki di atas matras.
"Lima diantara atlet kita baru pertama kali merasakan atmosfer pertandingan internasional. Cuma Alden yang sudah pernah. Di awal-awal pasti ada rasa canggung. Tapi begitu pertandingan dimulai, dari segi teknik dan keberanian bertarung, anak-anak kita sama sekali tidak kalah. Mampu meladeni ketatnya permainan," beber Hadad.
Persaingan di kejuaraan ini berlangsung sangat berat dengan kehadiran peserta dari 8 negara, mulai dari Korea, India, Afghanistan, beberapa kontingen dari Tiongkok (China), hingga tuan rumah Malaysia.
Dari Indonesia sendiri, Kotabaru harus bersaing bersama wakil-wakil pilihan dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Jawa Barat.
Hadad membeberkan gambaran teknis saat para atletnya harus memeras keringat menghadapi berbagai karakter bertarung lawan dari berbagai belahan Asia.
"Musuh terberat atlet kita itu dari Korea Selatan, mereka bertanding sangat rapi karena memang negeri aslinya Taekwondo. Selain itu, atlet dari Kazakhstan dan Pakistan power fisik serta keunggulan jangkauannya luar biasa kuat. Sementara atlet tuan rumah Malaysia juga bertanding sangat agresif," ungkap Hadad.
Meski digempur lawan-lawan dengan power dan teknik tinggi, enam ksatria Kotabaru tetap tampil lugas. Gusti Fathir Shidqi Al-Farizi dan Gusti Naufal Shidqi Al-Fakhri berhasil memenangi duel sengit hingga menyabet medali emas.
Sementara Alden Mikael Syaf, Langit Zidane Abadi, dan Rio Alif Al Ghazali harus puas meraih perak usai pertarungan alot di partai puncak, serta Theofilus Edgar Eliarga Sihombing mengamankan perunggu.
Pengalaman berharga bertarung melawan atlet-atlet dunia ini memberikan sudut pandang baru bagi tim kepelatihan Kotabaru.
Hadad menilai, berlaga di kejuaraan internasional justru memberikan ruang gerak psikologis yang lebih menguntungkan bagi para atlet muda Kotabaru.
"Melihat dari pertandingan ini, peluang atlet Kotabaru justru lebih terbuka di ajang internasional. Anak-anak bertanding lebih leluasa tanpa beban tekanan seperti di tingkat lokal. Kejuaraan luar negeri seperti ini sangat efektif untuk menambah jam terbang dan membentuk mental juara," tegas Hadad.
Kisah manis perjalanan kontingen Kotabaru di Malaysia kian lengkap dengan torehan prestasi dari pinggir lapangan. Sabeum Hadad (Wiqoldi Putra) dianugerahi penghargaan khusus oleh pihak panitia kejuaraan sebagai Pelatih Termuda (Young Coach) di usianya yang baru menginjak 24 tahun.
Apresiasi tersebut diberikan panitia atas kecerdasan taktik serta keberhasilannya membimbing seluruh atlet sebutannya tampil impresif hingga 100 persen membawa pulang medali ke Tanah Air.
Editor : Arif Subekti