Kisah Naufal, Juara O2SN Kalsel yang Tetap Bangkit usai Didiskualifikasi

M Fadlan Zakiri • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 21:53 WIB

TEGAR: Muhammad Naufal Razqa Prayuda memperlihatkan koleksi piala dan medali hasil berbagai kejuaraan yang diraihnya. Meski gagal tampil di O2SN tingkat nasional, atlet muda asal Kabupaten Banjar itu tetap bertekad melanjutkan latihan. (Dok Radar Banjarmasin)
TEGAR: Muhammad Naufal Razqa Prayuda memperlihatkan koleksi piala dan medali hasil berbagai kejuaraan yang diraihnya. Meski gagal tampil di O2SN tingkat nasional, atlet muda asal Kabupaten Banjar itu tetap bertekad melanjutkan latihan. (Dok Radar Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Martapura – Belum genap sepekan Muhammad Naufal Razqa Prayuda menikmati kebahagiaan sebagai juara Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) SD tingkat Provinsi Kalimantan Selatan 2026. Bocah 11 tahun asal Kabupaten Banjar itu sudah membayangkan mengenakan seragam Kalimantan Selatan di ajang nasional.

 

Namun, mimpi tersebut mendadak sirna. Bukan karena kalah di lapangan, melainkan akibat keputusan administrasi yang membatalkan seluruh hasil pertandingan yang telah diperjuangkannya.

Raket Menjadi Bagian Hidupnya

Bagi Naufal, bulu tangkis bukan sekadar hobi. Raket sudah akrab di tangannya sejak berusia sekitar 2,5 tahun. Ketika anak-anak seusianya masih banyak menghabiskan waktu bermain, ia mulai mengenal lapangan, shuttlecock, dan latihan demi latihan.

Melihat bakat putranya, sang ayah, Iskandar Yuda, terus memberikan dukungan agar kemampuan Naufal berkembang. Sejak duduk di bangku kelas I sekolah dasar, Naufal rutin mengikuti berbagai turnamen hingga perlahan mengumpulkan prestasi.

Kerja keras itu membawanya menjadi semifinalis Bayan Open Sirkuit Nasional C 2025 saat mewakili Kalimantan Selatan. Setahun kemudian, perjuangannya berbuah gelar juara O2SN SD tingkat Provinsi Kalimantan Selatan.

Di balik pencapaian tersebut tersimpan rutinitas yang tidak ringan. Sepulang sekolah, Naufal lebih sering menggenggam raket daripada bermain bersama teman-temannya. Latihan teknik, fisik, hingga menjaga pola makan menjadi bagian dari kesehariannya demi tampil maksimal di setiap pertandingan.

Mimpi Terhenti karena Administrasi

Semua usaha itu terasa terbayar ketika Naufal berdiri di podium juara O2SN. Namun, hanya beberapa hari berselang, panitia memutuskan mendiskualifikasinya setelah hasil verifikasi menyatakan dirinya tidak memenuhi persyaratan peserta.

Keputusan itu membuat gelar juara, medali, dan kesempatan mewakili Kalimantan Selatan pada O2SN tingkat nasional harus dilepaskan.

Bagi Monica, ibunda Naufal, keputusan tersebut menjadi pukulan berat bagi putranya yang telah berjuang hingga pertandingan berakhir.

"Sebagai orang tua tentu sedih. Anak kami sudah berjuang sampai menjadi juara, tetapi hasilnya akhirnya dibatalkan," ujarnya.

Meski kecewa, Monica mengaku tidak mempersoalkan apabila aturan memang harus ditegakkan. Namun, ia menilai persoalan tersebut seharusnya diketahui sebelum pertandingan dimulai.

"Kalau memang sejak awal tidak memenuhi syarat, seharusnya disampaikan sebelum pertandingan dimulai. Kami pasti bisa menerima," katanya.

Dukungan untuk Bangkit

Ketua Panitia O2SN SD-SMP Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan, Akhmad Gafurij, menyampaikan permohonan maaf kepada Naufal dan keluarganya. Panitia juga berencana memberikan penghargaan khusus sebagai bentuk apresiasi sekaligus dukungan psikologis agar atlet muda tersebut tetap bersemangat mengembangkan bakatnya.

Dukungan serupa datang dari Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, Liana Penny. Ia mengapresiasi prestasi yang telah diraih Naufal dan berharap pengalaman pahit tersebut tidak mematahkan semangatnya.

"Kami yakin pengalaman ini menjadi motivasi bagi Naufal untuk terus berlatih dan meraih prestasi yang lebih tinggi," ujarnya.

Perjalanan Masih Panjang

Di sudut rumahnya, deretan piala dan medali masih tersusun rapi. Salah satunya berasal dari O2SN yang kini harus dikembalikan kepada panitia.

Meski demikian, raket yang selama ini menemaninya berlatih belum pernah diletakkan. Di usia yang baru 11 tahun, perjalanan Naufal di dunia bulu tangkis masih sangat panjang.

Satu mimpi memang harus tertunda. Namun, setiap sesi latihan yang kembali dijalaninya menjadi awal untuk mengejar podium berikutnya dan membuktikan bahwa kegagalan hari ini bukan akhir dari perjalanan seorang atlet muda. (*)

Editor : M. Ramli Arisno
Muhammad Naufal Razqa Prayuda diskualifikasi O2SN kisah Naufal O2SN atlet bulu tangkis Banjar O2SN Kalimantan Selatan