Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Operasi Bukan Garis Akhir — Fisioterapis Jelaskan Perjalanan Panjang Pemulihan Cedera Koné di Piala Dunia 2026

M Idris Jian Sidik • Minggu, 12 Juli 2026 | 15:37 WIB
Gelandang Kanada Ismaël Koné dibopong keluar lapangan menggunakan tandu setelah mengalami patah tulang tibia-fibula dalam laga Kanada kontra Qatar di Vancouver, 18 Juni 2026. Fisioterapis olahraga Akhmad Ferdian menjelaskan bahwa pemulihan cedera seberat ini membutuhkan waktu enam hingga sembilan bulan, dan operasi yang sukses hanyalah titik awal dari proses rehabilitasi yang panjang. (dok web)
Gelandang Kanada Ismaël Koné dibopong keluar lapangan menggunakan tandu setelah mengalami patah tulang tibia-fibula dalam laga Kanada kontra Qatar di Vancouver, 18 Juni 2026. Fisioterapis olahraga Akhmad Ferdian menjelaskan bahwa pemulihan cedera seberat ini membutuhkan waktu enam hingga sembilan bulan, dan operasi yang sukses hanyalah titik awal dari proses rehabilitasi yang panjang. (dok web)

 RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Ada suara yang tidak ingin didengar siapa pun di dalam stadion. Bukan peluit tanda kekalahan, bukan cemoohan penonton. Melainkan suara yang jauh lebih singkat — dan jauh lebih mengerikan.

Suara itu terdengar pada menit ke-51 laga Kanada kontra Qatar di Vancouver, 18 Juni 2026. Gelandang Kanada Ismaël Koné jatuh setelah menerima tekel keras dari belakang. Pelatih Jesse Marsch mengaku seluruh bangku cadangan bisa mendengar tulang itu patah — sebuah pengalaman yang ia sebut "mengerikan." Koné, yang baru berusia 24 tahun, dibopong keluar dengan tandu dan malam itu juga menjalani operasi atas patah tulang tibia dan fibula di kaki kirinya. Pelaku tekel, Assim Madibo, langsung diusir dengan kartu merah.

Operasinya disebut berhasil. Koné diperkirakan bisa pulih sepenuhnya — meski harus melewatkan sisa turnamen. Kanada sendiri menang telak 6-0 malam itu, tapi kemenangan terasa berat mengingat harga yang harus dibayar.
Fisioterapis olahraga bersertifikat COMT, Akhmad Ferdian, menjelaskan mengapa cedera seperti yang dialami Koné termasuk dalam kategori yang paling serius bagi seorang atlet sepak bola.

"Tungkai bawah kita ditopang dua tulang — tibia, tulang kering besar di depan yang menanggung hampir seluruh berat tubuh, dan fibula, tulang betis yang lebih ramping di sisi luar yang menjaga kestabilan pergelangan kaki. Ketika keduanya patah bersamaan, artinya gaya yang diterima tungkai sangatlah besar. Itulah mengapa cedera ini tergolong salah satu yang paling serius bagi atlet," jelas Akhmad, Minggu (12/7/2026)

Banyak orang mengira begitu operasi selesai dan tulang mulai menyatu, pemulihan sudah hampir tuntas. Akhmad menegaskan kesalahpahaman inilah yang justru paling berbahaya bagi pasien cedera tungkai.

"Yang kerap disalahpahami adalah bahwa pemulihan cukup dengan menunggu tulang menyatu. Kenyataannya, selama berminggu-minggu kaki dibatasi geraknya, otot melemah, sendi kaku, dan keseimbangan menurun. Dan itu semua tidak pulih sendiri hanya dengan istirahat. Operasi bukan garis akhir — operasi adalah garis start," tegas Akhmad.

Pada cedera seberat yang dialami Koné, dokter umumnya memasang implan logam untuk menahan tulang agar menyatu kembali dengan posisi yang benar. Proses ini memang penting, tapi hanya menyelesaikan satu bagian dari masalah yang jauh lebih kompleks.

Inilah pertanyaan yang paling sering diajukan keluarga, pelatih, dan penggemar — dan Akhmad memberikan gambaran yang realistis berdasarkan perjalanan pemulihan tipikal cedera jenis ini.

"Pada minggu-minggu awal, kaki masih dilindungi dan dibantu kruk. Sekitar bulan kedua hingga ketiga, tulang mulai menyatu dan beban diperkenalkan sedikit demi sedikit hingga bisa menapak penuh. Memasuki bulan keempat sampai keenam, ketika kekuatan otot sudah kembali, lari ringan umumnya mulai diizinkan secara terkontrol," jelasnya.

Namun Akhmad menegaskan bahwa tahap paling menentukan justru datang setelah fase itu. Kembali berlari kencang, berubah arah tiba-tiba, melompat dan mendarat dengan benar — semua gerakan yang menjadi tuntutan rutin dalam sepak bola profesional — memerlukan kesiapan yang jauh lebih matang dari sekadar tulang yang sudah menyatu.

"Untuk benar-benar bermain lagi, atlet umumnya membutuhkan sekitar enam hingga sembilan bulan — pada sebagian kasus mendekati setahun. Angka-angka ini hanyalah gambaran umum karena setiap tubuh berbeda. Yang pasti, atlet baru dinyatakan siap ketika kekuatan dan kepercayaan dirinya pulih — bukan sekadar saat rontgen menyatakan tulang telah menyatu," tegasnya.

Pelajaran yang Berlaku untuk Semua Orang
Akhmad menekankan bahwa prinsip yang sedang dijalani Koné dalam pemulihan ini bukan hanya relevan bagi pesepak bola profesional. Siapa pun yang pernah mengalami patah tulang atau menjalani operasi tungkai menghadapi tantangan yang serupa secara prinsip.

"Pemulihan adalah proses, bukan sekadar peristiwa. Dan terburu-buru kembali beraktivitas adalah risiko nyata yang bisa membuat kondisi memburuk atau bahkan menyebabkan cedera baru," ujarnya.

Ia menambahkan, pendampingan fisioterapi yang terstruktur menjadi kunci agar setiap tahap pemulihan dilalui dengan aman, terukur, dan terarah — memastikan bahwa garis finish bukan hanya saat tulang menyatu, melainkan saat kaki benar-benar kembali bisa diandalkan sepenuhnya.

Editor : Arif Subekti
#fisioterapis #Olahraga #sorotan #piala dunia