RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarbaru – Ada yang berbeda di Komplek NPCI Kalsel, Banjarbaru, pada Kamis (9/7/2026). Biasanya hanya diramaikan oleh suara atlet yang berlatih, hari itu kompleks pembinaan atlet disabilitas Kalimantan Selatan kedatangan tamu istimewa — Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, H. Muhammad Syarifuddin, bersama Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kalsel, Pebriadin Hapiz.
Kunjungan tersebut bukan sekadar kunjungan seremonial. Keduanya datang untuk melihat langsung bagaimana 16 cabang olahraga paralimpiade berlatih di bawah satu atap — sekaligus menyerap aspirasi yang sudah lama ingin disampaikan pengurus, pelatih, dan atlet NPCI Kalsel kepada pemerintah provinsi.
Enam belas cabang olahraga yang tengah menjalani program latihan mencakup boccia, menembak, angkat berat, panahan, voli duduk, renang, tenis meja tunanetra, atletik balap kursi roda, catur, judo tunanetra, bulu tangkis, atletik nomor lempar, tenis meja, esports, atletik nomor lari dan lompat, serta sepak bola cerebral palsy.
Sekda H. Muhammad Syarifuddin tidak menyembunyikan kekagumannya. Yang paling membuatnya terkesan bukan hanya semangat para atlet yang berlatih, tetapi fakta bahwa kompleks pembinaan yang cukup lengkap ini sepenuhnya dibangun secara mandiri oleh NPCI Kalsel — tanpa bergantung pada anggaran hibah pemerintah.
"Kami dari Pemerintah Provinsi sangat mengapresiasi NPCI Kalimantan Selatan yang mampu membangun kompleks pembinaan ini secara mandiri. Di sini tersedia mess atlet, tempat latihan, dan berbagai fasilitas yang sangat menunjang pembinaan," ujarnya.
Ketua NPCI Kalsel, Sumansyah, menjelaskan bahwa seluruh fasilitas yang kini berdiri di atas lahan sekitar satu hektare itu dibangun dari dana kontribusi pelatih, atlet, dan asisten pelatih sesuai ketentuan organisasi — sebuah upaya mandiri untuk menutup kebutuhan pembinaan yang belum sepenuhnya tercakup oleh hibah pemerintah.
"Hasilnya sekarang kita memiliki lapangan latihan, gedung, mess atlet, hingga lahan sekitar satu hektare yang ke depan direncanakan dibangun kolam renang dan lapangan mini soccer untuk atlet sepak bola CP," katanya.
Sumansyah mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran Sekda dan Kadispora. Baginya, kunjungan ini bukan hanya soal perhatian formal — ini adalah sinyal nyata bahwa pemerintah provinsi tidak menutup mata terhadap perjuangan para atlet disabilitas yang selama ini kerap berjuang lebih keras dengan dukungan yang lebih terbatas.
Satu aspirasi paling mendesak yang disampaikan NPCI Kalsel dalam pertemuan tersebut adalah permohonan perpanjangan program pemusatan latihan provinsi. Program yang saat ini dijadwalkan berakhir Agustus 2026 diminta untuk diperpanjang hingga Desember — mengingat sejumlah agenda nasional dan internasional yang masih menanti di paruh kedua tahun ini.
Pebriadin Hapiz merespons aspirasi tersebut dengan jujur namun penuh tekad. Ia mengakui kondisi anggaran daerah yang menuntut selektivitas lebih tinggi, namun memastikan pemerintah tidak akan tinggal diam.
"Pemerintah provinsi tentu tidak akan tinggal diam melihat perkembangan dan semangat para atlet dalam berlatih. Kami akan terus berupaya menyusun kembali skala prioritas agar pembinaan atlet tetap berjalan," ujarnya.
Ia menambahkan, fokus pembinaan akan diarahkan pada cabang olahraga dan atlet yang memiliki peluang paling besar meraih prestasi di level nasional maupun internasional — termasuk atlet NPCI Kalsel yang tahun ini dijadwalkan memperkuat Indonesia di ajang ASEAN Para Games.
"Kami berharap pembinaan atlet NPCI tidak terputus, sehingga mereka tetap memiliki kesempatan mempersiapkan diri menghadapi berbagai kejuaraan yang akan datang," pungkasnya.
Di sebuah kompleks yang dibangun dari kemandirian dan tekad bersama, para atlet disabilitas Kalimantan Selatan terus berlatih dengan satu keyakinan — bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berdiri di podium tertinggi. Dan kunjungan Sekda serta Kadispora hari itu menjadi bukti bahwa perjuangan mereka sudah mulai dilihat dan didengar.
Editor : Arif Subekti