Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

132 Atlet SPOBDA Jalani Tes Fisik Berbasis Sport Science, Dispora Kalsel Gandeng UPI Bandung

M Idris Jian Sidik • Minggu, 21 Juni 2026 | 14:56 WIB
Para atlet Sentra Pembinaan Olahraga Pelajar Daerah (SPOBDA) Kalimantan Selatan menjalani tes fisik dalam rangkaian Bimbingan Teknis Pengelolaan SPOBDA 2026 di Banjarmasin, Minggu (21/6/2026). (M Idris Jian Sidik)
Para atlet Sentra Pembinaan Olahraga Pelajar Daerah (SPOBDA) Kalimantan Selatan menjalani tes fisik dalam rangkaian Bimbingan Teknis Pengelolaan SPOBDA 2026 di Banjarmasin, Minggu (21/6/2026). (M Idris Jian Sidik)

 

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Pembinaan atlet pelajar Kalimantan Selatan memasuki era yang lebih terukur dan berbasis data. Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kalsel menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Sentra Pembinaan Olahraga Pelajar Daerah (SPOBDA) Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2026 di Banjarmasin — dilengkapi rangkaian tes fisik yang melibatkan konsultan sport science langsung dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Kepala Dispora Kalsel, Pebriadin Hapiz, menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menyatukan visi antara pelatih, atlet, dan pengelola pembinaan agar proses latihan tidak hanya bertumpu pada aspek teknis semata, melainkan juga mempertimbangkan faktor-faktor ilmiah yang memengaruhi performa atlet.

"Kita ingin pembinaan atlet dilakukan secara terukur. Selain kemampuan teknik, ada banyak parameter lain yang harus diperhatikan, termasuk kondisi fisik yang dikembangkan melalui pendekatan sport science sesuai karakteristik masing-masing cabang olahraga," ujar Pebriadin.

Kepala Seksi Pengelolaan Olahraga dan Sentra Olahraga Dispora Kalsel, Asfia Urrahman, merinci skala kegiatan tes fisik kali ini. Total ada 132 atlet yang mengikuti tes, berasal dari 14 cabang olahraga dengan 24 titik pengukuran, mewakili 9 kabupaten dan kota se-Kalimantan Selatan.

"Jumlah atletnya 132 orang, terdiri dari 14 cabang dengan 24 titik. Terdiri dari 9 kabupaten kota," ujar Asfia, Minggu (21/6/2026).

Keempat belas cabang olahraga yang ikut serta meliputi angkat besi, gulat, loncat indah, tinju, renang, panahan, sambo, panjat tebing, pencak silat, dayung, judo, triathlon, karate, dan taekwondo.

Asfia menjelaskan bahwa tes fisik yang dilakukan rutin setiap enam bulan ini memiliki fungsi ganda. Bagi atlet lama, tes menjadi pembanding untuk melihat ada tidaknya peningkatan performa dibanding enam bulan sebelumnya. Sementara bagi atlet baru, hasil tes kali ini menjadi baseline atau tolok ukur untuk evaluasi periode berikutnya.

"Bagi atlet yang lama, ya diperbanding apakah ada peningkatan yang signifikan atau tidak ada peningkatan dengan kondisi enam bulan yang lalu. Kalau memang tidak ada peningkatan, bahkan ada penurunan, itu bisa jadi atlet yang bersangkutan tidak pernah latihan. Ini dapat menjadi dasar bagi kami untuk melakukan pergantian," tegas Asfia.

Ia juga mengungkapkan kemungkinan adanya perampingan jumlah atlet pada tahun mendatang akibat kondisi keuangan daerah. Namun yang menjadi penekanan, keputusan siapa yang dipertahankan bukan didasarkan pada cabang olahraga, melainkan pada hasil parameter fisik masing-masing individu.

"Untuk menentukan atlet mana yang bertahan atau tidak, bukan dilihat dari cabangnya. Tapi dilihat parameter fisiknya, mana yang di atas standar yang ditetapkan, itu yang akan kita pertahankan," jelasnya.

Konsultan olahraga dari UPI Bandung, Iman Imanudin, yang dipercaya Dispora Kalsel untuk merancang dan mengawasi metode tes fisik, menjelaskan bahwa tes kali ini merupakan yang kedua dalam tahun 2026 — setelah tes pertama dilakukan pada akhir Desember atau awal Januari lalu.

"Ini adalah tes fisik yang kedua di tahun ini. Kita ingin melihat perkembangan dari tes awal yang dilakukan di akhir Desember dengan Januari. Setelah enam bulan pembinaan, kita lihat hasilnya seperti ini. Secara kasat mata, ada peningkatan yang signifikan dari proses latihan," ujar Iman.

Ia menjelaskan bahwa skema pembinaan dibagi dalam dua periode evaluasi setiap tahunnya — Januari hingga Juni, dan Juli hingga Desember.

"Saya memberikan rencana kegiatan kepada Dispora, satu tahun itu dibuat dua periode, Januari-Juni dan Juli-Desember. Evaluasinya dua kali setiap tahun," jelasnya.

Soal komponen tes, Iman menyebut ada empat unsur fisik dasar yang selalu diukur — fleksibilitas, kecepatan, kekuatan, dan daya tahan. Namun jumlah item tes bervariasi tergantung kebutuhan spesifik masing-masing cabang olahraga.

"Untuk olahraga bela diri ada item sampai 12 hingga 13 item tes. Mungkin untuk cabang loncat indah semakin sedikit. Bervariasi, disesuaikan dengan kebutuhan cabang olahraganya," terangnya.

Iman menegaskan dua hal penting yang menjadi tujuan utama dari forum diskusi bersama para pelatih — pemahaman metode tes fisik yang benar secara keilmuan, dan larangan keras terhadap rekayasa hasil tes.

"Jangan ada rekayasa hasil tes, karena rekayasa hasil tes akan menyebabkan kerugian besar bagi atlet itu sendiri. Hasil tes tidak mencerminkan kualitas dia sendiri, dan ini akan sangat berpengaruh terhadap pembuatan program latihan," tegasnya.

Ia menambahkan, target jangka panjang dari evaluasi ini adalah mengejar parameter atlet-atlet level POPNAS.

Dari sisi pelatih, sambutan terhadap metode baru ini cukup positif. Pelatih Sambo Kota Banjarmasin, Rendi Aditya Saputra, menilai tes fisik berbasis sport science menjadi acuan penting bagi perkembangan atlet ke depan.

"Ini bagus untuk ke depannya, jadi acuan untuk atlet, terutama di SPOBDA Provinsi. Harapannya semoga atlet bisa berbenah dan terpacu untuk latihan lebih semangat dan termotivasi dari latihan-latihan seperti ini," ujar Rendi.

Ia menilai porsi tes yang diberikan sudah cukup baik dan representatif. Dari cabang Sambo sendiri, tercatat enam atlet yang mengikuti tes — terdiri dari empat atlet putri dan dua atlet putra.

Dengan kolaborasi bersama UPI Bandung dan komitmen evaluasi berkelanjutan setiap enam bulan, Dispora Kalsel berharap SPOBDA bisa menjadi fondasi pembinaan yang benar-benar ilmiah — bukan lagi sekadar mengandalkan intuisi, melainkan data yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.

Editor : Arif Subekti
#banjarmasin #tes fisik #Bimbingan Teknis