Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Punya Atlet Potensial, Gateball Banjarmasin Masih Menanti Lapangan Sendiri

M Idris Jian Sidik • Jumat, 12 Juni 2026 | 14:52 WIB
GATEBALL: Para peserta Turnamen Gateball Walikota Cup Banjarmasin 2026 bertanding di Lapangan PJN 1 Banjarmasin, Jumat (12/6/2026). (M Idris Jian Sidik)
GATEBALL: Para peserta Turnamen Gateball Walikota Cup Banjarmasin 2026 bertanding di Lapangan PJN 1 Banjarmasin, Jumat (12/6/2026). (M Idris Jian Sidik)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Ada yang sedikit berbeda dari Turnamen Gateball Wali Kota Cup Banjarmasin 2026 yang digelar di Lapangan PJN 1 Banjarmasin, 12–14 Juni 2026.

Di balik semangat kompetisi dan antusiasme puluhan peserta yang turun bermain, ada satu pesan yang terus digaungkan oleh para penggiat gateball Banjarmasin kepada pemerintah kota. Yakni penyediaan lapangan permanen.

Turnamen yang mempertandingkan dua nomor — double bebas dan triple campuran — ini diikuti 11 regu di kategori double dan 7 regu di kategori triple.

Seluruh peserta adalah atlet atau pegiat gateball yang berdomisili atau bekerja di Kota Banjarmasin.

Ketua Pergatsi Kota Banjarmasin, Hamsi Mansyur, menjelaskan bahwa Walikota Cup ini digelar dengan tujuan utama mencari dan mengembangkan talenta-talenta terbaik Banjarmasin untuk bisa tampil di ajang yang lebih tinggi.

"Dalam rangka mencari peserta-peserta yang punya talenta dan nanti akan kita kembangkan seterusnya agar bisa mengikuti kompetisi dan kegiatan yang sifatnya nasional," ujar Hamsi.

Namun di balik antusiasme tersebut, ada kegelisahan yang sudah lama tersimpan. Lapangan yang digunakan saat ini adalah milik PJN, bukan milik pemerintah kota yang dikhususkan untuk gateball.

Setiap kali ingin berlatih, para atlet harus terlebih dahulu meminjam. Dan ketika lapangan tidak tersedia, mereka terpaksa berlatih di area terbuka yang terpapar panas terik sepanjang hari.

"Kendala kami adalah lapangan ini punya PJN. Gateball belum memiliki lapangan sendiri. Kami berharap Pak Wali Kota bisa menyiapkan lapangan agar kawan-kawan kalau latihan mudah."

"Kalau ini harus pinjam dulu. Dulu kita pinjam di ULM, ada yang open space — bepanas terus. Bayangkan jam 9 itu sudah panas. Paling lama sejam sudah kepanasan," keluh Hamsi dengan nada yang tidak menyembunyikan keprihatinan.

Ia menegaskan bahwa minat masyarakat terhadap gateball sebenarnya cukup tinggi. Tapi tanpa fasilitas yang memadai, potensi itu sulit berkembang maksimal.

"Ingin mengikuti olahraga ini sebenarnya cukup banyak. Tapi kalau lapangannya tidak seperti ini, bepanas terus. Kalau pemerintah ingin gateball ini terus berkembang, ya sudah siapkan lapangannya seperti ini supaya tidak ada kepanasan," tegasnya.

Hamsi juga mengingatkan bahwa gateball sejatinya adalah olahraga yang inklusif dan sangat cocok untuk berbagai kalangan — termasuk lansia. Di Jepang dan Korea, gateball justru menjadi olahraga paling populer di kalangan warga berusia 60 tahun ke atas.

"Gateball itu betul-betul menggunakan akal pikiran. Bagaimana saya bisa memasukkan bola ke gawang. Gerakannya tidak terlalu keras tapi tetap berolahraga. Kayak di Jepang, orang tua yang main. Di Korea, usia 60 ke atas yang bermain. Mereka olahraganya tidak membawa gerakan keras tapi benar-benar melatih pikiran," jelasnya.

Sekretaris Umum Pergatsi Provinsi Kalimantan Selatan, Mutaal Badrun, yang turut menyaksikan jalannya turnamen, menyambut positif penyelenggaraan Walikota Cup ini. Baginya, turnamen seperti ini bukan sekadar kompetisi — melainkan juga kesempatan untuk mengamati dan mengevaluasi kualitas pemain secara langsung.

"Kami sangat bersyukur dan berterima kasih dengan adanya acara Piala Walikota Cup. Ini kami sambut baik karena kami bisa mengevaluasi. Mudah-mudahan yang menonton pun teredukasi untuk ikut bermain. Selain itu, kami juga bisa melihat bibit-bibit yang nantinya bisa kami pantau perkembangannya," ujar Mutaal.

Ia menjelaskan bahwa penilaian atlet untuk keperluan seleksi — termasuk persiapan Pra-PON — tidak semata-mata dari satu turnamen. Pergatsi Kalsel selalu memantau performa atlet dari berbagai ajang sebelum memutuskan siapa yang layak mewakili provinsi.

"Kami melihat permainan mereka dari beberapa turnamen. Tidak mesti yang juara otomatis yang mewakili. Kami lihat dulu. Yang jelas untuk Pra-PON mudah-mudahan kami didukung Dispora untuk mengadakan seleksi," jelasnya.

Dari Lapangan PJN 1 yang dipinjam, impian gateball Banjarmasin terus menggelinding — menanti hari ketika mereka akhirnya punya lapangan sendiri untuk bermain, berlatih, dan melahirkan juara.

Editor : Sutrisno
#Kalsel #Gateball