RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, BANJARMASIN – Cedera serius yang dialami penyerang muda Liverpool, Hugo Ekitike, menjadi perhatian dunia sepak bola sekaligus pengingat penting bagi para atlet dan masyarakat yang aktif berolahraga.
Ekitike dilaporkan mengalami ruptur total tendon Achilles saat tampil di laga Liga Champions pada 14 April 2026 lalu.
Cedera tersebut terjadi tanpa benturan dengan lawan ketika ia melakukan pergerakan cepat di lapangan. Akibat cedera itu, sang pemain dipastikan harus menepi hingga 12 bulan dan terancam absen pada Piala Dunia 2026.
Praktisi fisioterapi olahraga, Akhmad Ferdian menjelaskan bahwa tendon Achilles merupakan tendon terbesar dan terkuat pada tubuh manusia yang menghubungkan otot betis dengan tulang tumit. Bagian ini memiliki fungsi vital dalam aktivitas berjalan, berlari, melompat hingga sprint dengan intensitas tinggi.
“Tendon Achilles bekerja sangat berat, terutama pada atlet sepak bola. Saat sprint atau perubahan arah mendadak, tendon bisa menerima beban berkali-kali lipat dari berat tubuh,” jelasnya, Minggu (17/5/2026).
Cedera Achilles biasanya terjadi akibat peregangan tendon yang melebihi kemampuan normal. Kondisi itu sering dipicu gerakan eksplosif secara mendadak, perubahan arah cepat, hingga kelelahan akibat intensitas latihan dan pertandingan yang tinggi.
Salah satu ciri khas ruptur tendon Achilles adalah munculnya bunyi “pop” di area belakang tumit yang diikuti nyeri hebat dan kesulitan menapak atau berjinjit.
Menurutnya, cedera ini tidak hanya dialami atlet profesional, tetapi juga masyarakat umum yang aktif berolahraga seperti futsal, jogging, badminton, maupun tenis. Risiko meningkat apabila seseorang jarang melakukan pemanasan, memaksakan latihan berlebihan, atau memiliki kondisi otot betis yang kurang fleksibel.
“Banyak kasus terjadi pada orang yang langsung olahraga intens tanpa persiapan cukup. Tendon yang kelelahan atau kurang elastis sangat rentan mengalami robekan,” katanya.
Untuk kasus ruptur total seperti yang dialami Ekitike, tindakan operasi biasanya menjadi pilihan utama guna menyambungkan kembali tendon yang putus. Namun proses pemulihan membutuhkan waktu panjang dan disiplin tinggi.
Setelah operasi, pasien umumnya harus menggunakan gips atau sepatu khusus selama beberapa minggu sebelum menjalani fisioterapi intensif selama 9 hingga 12 bulan.
Tahapan rehabilitasi meliputi latihan mengembalikan gerak pergelangan kaki, penguatan otot betis, latihan berjalan dan berlari, hingga latihan spesifik olahraga secara bertahap.
“Fisioterapi menjadi kunci utama. Pemulihan tidak cukup hanya operasi, tetapi bagaimana fungsi kaki bisa kembali normal dan kuat untuk aktivitas berat,” jelasnya.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau selalu melakukan pemanasan sebelum olahraga, meningkatkan intensitas latihan secara bertahap, menjaga fleksibilitas otot betis, menggunakan sepatu yang sesuai, serta memberi waktu istirahat yang cukup bagi tubuh.
Ia juga mengingatkan agar tidak mengabaikan nyeri di area belakang tumit, terutama jika muncul mendadak saat aktivitas olahraga. Penanganan cepat dinilai sangat menentukan keberhasilan pemulihan.
“Kalau muncul nyeri mendadak atau bunyi seperti letupan di tumit belakang, segera periksa ke dokter atau fisioterapis. Semakin cepat ditangani, peluang pemulihan akan lebih baik,” pungkasnya.
Editor : Arif Subekti