RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Banjarmasin – Prestasi gemilang di atas lapangan ternyata membuka pintu yang lebih lebar bagi Warmia.
Atlet lempar lembing andalan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kalimantan Selatan ini kini mendapat kepercayaan baru — sebuah tawaran untuk menangani tim nasional junior cabang atletik disabilitas.
Warmia bukan nama asing di dunia olahraga para-atletik Indonesia. Ia merupakan atlet veteran NPCI Kalsel yang telah empat kali tampil di Pekan Paralympic Nasional (Peparnas).
Puncak pencapaiannya diraih pada Peparnas ke-17 di Solo tahun 2024, ketika ia berhasil menyumbangkan medali emas di nomor lempar lembing klasifikasi F42–63 dengan catatan lemparan sejauh 25,22 meter — sebuah torehan yang semakin mengukuhkan namanya sebagai salah satu pahlawan olahraga Banua.
Kini, di tengah perjalanan kariernya yang masih menyala, Warmia bersiap menjalani babak baru. Ia akan mengambil peran ganda — tetap berlatih sebagai atlet aktif, sekaligus memulai tugas barunya sebagai pelatih.
"Rencana awal mau lanjut latihan lagi. Karena kemarin ada kabar untuk jadi pelatih di nasional anak-anak yang baru. Mungkin nanti sambil melatih, sambil latihan juga. Sambil menunggu juga panggilan untuk ASEAN Para Games Malaysia," ujar Warmia di Banjarmasin, Rabu (6/5/2026).
Sebagai pelatih, Warmia akan membagikan pengalamannya di cabang cakram dan tolak peluru — dua nomor yang juga ia kuasai selain lempar lembing.
Meski tidak menampik bahwa hasrat bertandingnya masih menyala, ia memilih merespons kepercayaan yang diberikan kepadanya dengan sikap lapang.
"Sebenarnya saya masih ingin bertanding, tapi karena diminta jadi pelatih, ya jadi pelatih saja. Tapi kalau target emas NPCI Kalsel nantinya di Peparnas 2028 belum tercukupi dengan atlet-atlet yang baru, bisa saja nanti kita ajukan lagi untuk bertanding," tegasnya.
Pernyataan itu sekaligus membuka kemungkinan bahwa Warmia belum benar-benar menutup pintu kariernya sebagai atlet.
Jika kebutuhan tim pada Peparnas 2028 masih memerlukan kontribusinya untuk meraih target medali emas, ia tidak menutup kemungkinan untuk kembali turun bertanding.
Selain itu, Warmia juga masih menanti peluang yang lebih besar — panggilan untuk memperkuat kontingen Indonesia di ASEAN Para Games Malaysia, ajang para-olahraga bergengsi tingkat Asia Tenggara yang menjadi impian setiap atlet disabilitas Tanah Air.
Dengan pengalaman panjang dan rekam jejak prestasi yang mentereng, peran ganda yang akan dijalani Warmia diharapkan tidak hanya memperkuat regenerasi atlet disabilitas di Kalimantan Selatan, tetapi juga menjaga tradisi emas yang selama ini telah ia ukir di panggung nasional.
Editor : Sutrisno