BANJARMASIN - Jutaan pemudik setiap tahun merayakan momen Lebaran dengan perjalanan panjang menuju kampung halaman. Namun tak sedikit yang pulang membawa "oleh-oleh" yang tidak diinginkan: nyeri punggung bawah yang mengganggu. Fisioterapis Akhmad Ferdian mengingatkan bahwa keluhan ini bukan sesuatu yang wajar dan harus diabaikan begitu saja.
Menurut Ferdi, perjalanan mudik yang mengharuskan tubuh berada dalam posisi statis berjam-jam menjadi pemicu utama keluhan muskuloskeletal ini. Otot-otot penyangga tulang belakang seperti erector spinae dan multifidus dipaksa bekerja keras tanpa jeda, diperparah oleh getaran kendaraan yang meningkatkan tekanan pada bantalan tulang belakang atau diskus intervertebralis.
"Akibatnya otot menjadi kaku, aliran darah terhambat, dan saraf tertekan. Gejala yang muncul bisa berupa nyeri tajam di pinggang, pegal yang menjalar hingga bokong, bahkan kesemutan di kaki," ujar Ferdi.
Ia menyebut kelompok paling rentan adalah mereka yang berusia 30—50 tahun, memiliki berat badan berlebih, jarang berolahraga, perokok aktif, serta ibu hamil yang mengalami perubahan postur dan beban ekstra pada tulang belakang.
Ferdi juga meluruskan sejumlah mitos yang masih beredar luas di masyarakat. Nyeri punggung tidak selalu berarti saraf kejepit karena 80—90 persen kasus hanyalah strain otot atau postur yang buruk. Ia juga menegaskan bahwa istirahat total di kasur justru memperlambat pemulihan, dan konsumsi obat atau koyo tanpa perbaikan pola gerak hanya akan membuat nyeri kembali berulang.
Untuk pencegahan, Ferdi merekomendasikan lima langkah sederhana yang bisa diterapkan para pemudik. Pertama, menggunakan bantal kecil sebagai lumbar support di pinggang dengan posisi punggung bersandar penuh dan lutut membentuk sudut 90 derajat.
Kedua, berhenti dan melakukan peregangan setiap satu hingga dua jam perjalanan, dengan gerakan seperti cat-cow pose, seated twist, dan knee-to-chest. Ketiga, melakukan latihan penguatan otot core seperti plank atau bridge pose sepekan sebelum berangkat.
Keempat, menerapkan teknik angkat barang yang benar dengan menekuk lutut terlebih dahulu dan menggunakan kekuatan kaki, bukan punggung. Kelima, menjaga hidrasi yang cukup selama perjalanan karena dehidrasi dapat membuat otot mudah kram.
Ferdi mewanti-wanti para pemudik untuk segera berkonsultasi ke dokter spesialis tulang belakang apabila nyeri berlangsung lebih dari dua minggu, disertai kelemahan pada kaki, kesulitan buang air, atau nyeri yang semakin parah meski sudah beristirahat. Gejala-gejala tersebut bisa menjadi tanda kondisi yang lebih serius seperti stenosis spinal.
"Nyeri punggung adalah sinyal tubuh bahwa ada yang perlu diperbaiki, baik postur, pola gerak, maupun kekuatan otot. Fisioterapi hadir bukan hanya sebagai pemadam saat nyeri muncul, tetapi juga sebagai pencegah kekambuhan jangka panjang," pungkas Ferdi.
Editor : Arif Subekti