Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Fisioterapis Peringatkan Bahaya Stress Fracture yang Kerap Disepelekan Pelari

M Idris Jian Sidik • Minggu, 29 Maret 2026 | 14:00 WIB

Ilustrasi seorang atlet lari yang mengalami nyeri tulang akibat stress fracture. (AI)
Ilustrasi seorang atlet lari yang mengalami nyeri tulang akibat stress fracture. (AI)

BANJARMASIN — Euforia mengikuti lomba lari jarak jauh seperti marathon ternyata menyimpan risiko cedera serius yang kerap luput dari perhatian para pelari.

Fisioterapis olahraga Akhmad Ferdian, mengingatkan bahwa stress fracture atau retakan mikro pada tulang akibat tekanan berulang merupakan ancaman nyata yang tidak boleh dianggap remeh.

Dalam pengalamannya menangani kasus rehabilitasi cedera, Ferdi — sapaan akrabnya — mengungkapkan bahwa banyak pelari datang ke klinik setelah nyeri berlangsung berminggu-minggu. "Kasus yang terlambat ditangani seringkali memerlukan waktu dua kali lebih lama untuk pulih dan lebih mudah kambuh," ujarnya, Minggu (29/3/2026).

Yang menjadi kekhawatiran Ferdi, banyak atlet memilih kembali berlari begitu nyeri sedikit mereda tanpa melalui evaluasi medis maupun rehabilitasi bertahap.

Keputusan itu justru berisiko memperparah kondisi, memperpanjang waktu pemulihan, bahkan meningkatkan risiko cedera permanen.

Ferdi menjelaskan bahwa diagnosis stress fracture diawali dengan pemeriksaan fisik melalui penekanan pada area nyeri dan tes sederhana seperti melompat dengan satu kaki. Namun ia menekankan bahwa foto rontgen awal sering tidak menampakkan kelainan, terutama di fase awal cedera.

"Perubahan baru terlihat setelah dua hingga tiga minggu. Karena itu MRI atau bone scan jauh lebih sensitif untuk mendeteksi stress fracture sejak dini," katanya.

Ia juga memaparkan bahwa tidak semua stress fracture memiliki tingkat risiko yang sama. Lokasi seperti tulang kering bagian dalam dan tulang telapak kaki tergolong low-risk karena memiliki suplai darah yang baik sehingga pemulihan lebih cepat.

Sebaliknya, lokasi seperti tulang kering bagian depan, tulang navicular, dan leher tulang paha masuk kategori high-risk yang berisiko tidak menyatu dengan baik dan bisa memerlukan imobilisasi ketat bahkan operasi.

Terkait pemulihan, Ferdi menegaskan bahwa prosesnya harus berjalan bertahap dalam empat fase.

Fase pertama adalah istirahat dan perlindungan selama dua minggu awal dengan menghentikan aktivitas yang memicu nyeri, meski aktivitas ringan seperti berenang tetap diperbolehkan.

Fase kedua adalah latihan beban bertahap antara minggu kedua hingga kedelapan, dilanjutkan penguatan fungsional pada minggu kedelapan hingga kedua belas.

Baru setelah melewati semua fase tersebut, atlet diperbolehkan kembali berlari secara bertahap setelah lulus tes fungsional seperti melompat tanpa nyeri dan berlari tanpa pincang.

Fisioterapis, menurutnya, memainkan peran krusial di setiap tahap pemulihan — mulai dari asesmen biomekanik, penyusunan program latihan terukur, terapi manual, edukasi nutrisi untuk kesehatan tulang, hingga pemantauan berkelanjutan.

"Penelitian menunjukkan bahwa rehabilitasi dengan bimbingan fisioterapis menurunkan risiko kambuh dan mempercepat pemulihan yang aman," tegasnya.

Setelah pulih, Ferdi mengingatkan pentingnya pencegahan cedera berulang dengan meningkatkan beban latihan maksimal 10 persen per pekan, menggunakan sepatu yang sesuai, memperhatikan asupan kalsium dan vitamin D, serta memanfaatkan teknologi seperti smartwatch untuk memantau beban latihan.

Ferdi mengimbau siapa pun yang mengalami nyeri tulang yang tidak kunjung membaik — terutama jika nyeri bertambah saat beraktivitas dan mereda saat istirahat — untuk segera berkonsultasi dengan dokter atau fisioterapis.

"Kesabaran dalam proses pemulihan akan menghindarkan dari cedera berulang yang lebih parah. Dengan penanganan yang tepat, Anda tidak hanya pulih, tetapi kembali lebih kuat," jelasnya.

Editor : Arif Subekti
#stress #fisioterapis #pelari #serius