JAKARTA - Popularitas pickleball di Indonesia memang belum setenar padel.
Namun, Pengurus Besar Indonesia Pickleball Federation (PB IPF) terus melakukan berbagai upaya untuk memperluas jangkauan olahraga tersebut ke masyarakat.
Momentum bulan Ramadan dimanfaatkan PB IPF untuk mengenalkan pickleball melalui konsep ngabuburit sambil bermain.
Kegiatan ini dirancang sebagai tradisi baru yang memadukan aktivitas olahraga, kebersamaan, serta gaya hidup sehat menjelang waktu berbuka puasa.
Wakil Ketua Umum PB IPF, Harlin Rahardjo, menjelaskan bahwa pickleball bukan sekadar olahraga rekreasi, tetapi juga sarana menjaga kebugaran selama berpuasa karena intensitasnya relatif ringan.
“Ini tradisi baru di Ramadan tahun ini, ngabuburit main pickleball. Kita ingin mengenalkan cara bermain, aturan, sekaligus rasa fun dan kegembiraan olahraga ini. Pickleball cocok untuk ngabuburit karena tidak terlalu intens, tidak menguras tenaga, gerakannya ringan, tapi tetap aktif dan menyehatkan,” ujar Harlin.
Menurutnya, karakter permainan yang minim risiko cedera dan tidak terlalu menguras energi membuat pickleball ideal dimainkan menjelang berbuka.
Sepanjang 2025, perkembangan pickleball menunjukkan tren positif. PB IPF telah menggelar sejumlah kejuaraan nasional serta turnamen pelajar yang mendapat dukungan dari berbagai perguruan tinggi. Upaya ekspansi fasilitas pun terus dilakukan guna mendukung pertumbuhan komunitas.
Harlin mengungkapkan, pihaknya akan membuka kembali Vata Sport Center di dua lokasi, yakni Jakarta dan Jawa Barat. Di kawasan Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, akan tersedia lima lapangan pickleball yang diklaim menjadi salah satu yang terbesar di Jakarta.
Selain itu, Nikavata Sports Lab juga akan dibuka di Kota Wisata Cibubur. Fasilitas tersebut dirancang sebagai kawasan olahraga terpadu dengan dua lapangan pickleball, dua lapangan tenis, dua lapangan padel, kolam renang, serta area gimnastik.
Dari sisi kompetisi, PB IPF menargetkan penyelenggaraan kejuaraan internasional dengan melibatkan negara-negara tetangga, sekaligus memperbanyak turnamen antar komunitas di berbagai daerah.
“Hampir setiap bulan sekarang ada kejuaraan antar komunitas di lapangan-lapangan pickleball. Ini akan terus kita dorong di seluruh provinsi agar pickleball semakin dikenal dan digemari,” katanya.
Tak hanya menyasar komunitas umum, PB IPF juga melihat potensi besar pickleball di lingkungan sekolah.
Ukuran lapangan yang setara dengan bulu tangkis serta format permainan beregu dinilai cocok untuk pengembangan olahraga pelajar.
“Pickleball cocok dimainkan di sekolah. Kita ingin ada kejuaraan beregu antar sekolah, terbuka untuk siapa saja. Dengan begitu, pembinaan usia dini bisa tumbuh di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Harlin membayangkan ekosistem pickleball pelajar berkembang seperti liga basket sekolah yang melibatkan dukungan guru, pelatih, kepala sekolah, hingga pemerintah daerah. Ia pun mengajak berbagai pihak, termasuk media, untuk turut mendukung sosialisasi dan pengembangan pickleball di Tanah Air.
“Saya butuh dukungan semua pihak, termasuk rekan-rekan wartawan, agar sosialisasi berjalan luas dan meriah. Tujuannya sederhana, pickleball dikenal masyarakat, digemari lintas usia, dan menjadi bagian dari gaya hidup sehat Indonesia,” pungkasnya.
Editor : Arif Subekti