Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Stress Fracture pada Pelari, Fisioterapis Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

M Idris Jian Sidik • Minggu, 1 Maret 2026 | 14:42 WIB

Ilustrasi seorang pelari memegangi tulang kering saat latihan di lintasan, menggambarkan gejala awal stress fracture yang kerap muncul akibat peningkatan beban latihan tanpa pemulihan cukup. (AI)
Ilustrasi seorang pelari memegangi tulang kering saat latihan di lintasan, menggambarkan gejala awal stress fracture yang kerap muncul akibat peningkatan beban latihan tanpa pemulihan cukup. (AI)

INJURY TIME - Cedera stress fracture atau retakan mikro pada tulang menjadi salah satu ancaman serius bagi pelari jarak jauh. Cedera ini kerap muncul tanpa disadari karena berkembang secara bertahap akibat beban latihan berulang yang melampaui kemampuan adaptasi tulang.

Fisioterapis olahraga, Akhmad Ferdian, menjelaskan stress fracture berbeda dengan patah tulang akibat benturan keras. Cedera ini terjadi karena akumulasi microtrauma yang tidak diimbangi waktu pemulihan yang cukup.

“Setiap kali kaki menyentuh permukaan saat berlari, tulang menerima tekanan. Dalam kondisi normal, tubuh akan melakukan proses remodeling atau pembaruan tulang. Namun jika beban meningkat terlalu cepat tanpa recovery memadai, kerusakan terjadi lebih cepat daripada proses pembentukan tulang baru,” jelasnya, Minggu (1/3/2026)

Ia mengungkapkan dalam beberapa bulan terakhir terdapat peningkatan kasus di komunitas lari lokal, terutama menjelang event besar seperti half marathon dan marathon. Banyak pelari meningkatkan jarak tempuh secara drastis tanpa perencanaan periodisasi yang matang.

“Saya menemukan beberapa kasus pelari yang menaikkan jarak dari 15 kilometer ke 35 kilometer hanya dalam dua minggu. Awalnya hanya nyeri ringan di tulang kering atau telapak kaki, tapi karena diabaikan akhirnya berkembang menjadi cedera serius,” ujarnya.

Menurut Ferdian, lokasi yang paling sering terdampak adalah tulang kering (tibia) dan tulang telapak kaki (metatarsal). Jika tidak ditangani sejak dini, stress reaction dapat berkembang menjadi retakan mikro hingga fraktur komplit yang memaksa atlet berhenti berlatih selama berbulan-bulan.

Ia mengingatkan pelari untuk peka terhadap tanda-tanda awal, seperti nyeri yang muncul saat berlari namun mereda saat istirahat, nyeri tekan pada satu titik tulang, hingga pembengkakan ringan. Jika nyeri mulai terasa saat berjalan biasa atau saat istirahat total, kondisi tersebut sudah tergolong serius.

“Banyak pelari mengira kalau nyeri hilang setelah istirahat beberapa hari berarti sudah sembuh. Padahal belum tentu. Tanpa pemeriksaan medis, risiko kambuhnya sangat tinggi,” tegasnya.
Dalam proses diagnosis, foto rontgen pada fase awal sering belum menunjukkan kelainan. Pemeriksaan MRI menjadi metode yang lebih akurat untuk mendeteksi stress reaction sebelum berkembang menjadi fraktur.

Untuk pencegahan, Ferdian menekankan pentingnya peningkatan volume latihan secara bertahap, idealnya tidak lebih dari 10 persen per minggu. Selain itu, penguatan otot pinggul, gluteal, dan core perlu dilakukan dua hingga tiga kali seminggu guna membantu menyerap beban benturan.

“Teknik lari juga berpengaruh. Overstride dan hentakan tumit berlebihan meningkatkan tekanan pada tulang kering. Koreksi pola langkah dan peningkatan cadence bisa membantu mengurangi beban,” jelasnya.

Pemilihan sepatu juga tidak kalah penting. Ia menyarankan pelari mengganti sepatu setelah jarak tempuh 500 hingga 800 kilometer, serta menyesuaikan jenis sepatu dengan karakter kaki dan permukaan latihan.

Dari sisi nutrisi, kecukupan kalsium dan vitamin D menjadi fondasi kesehatan tulang. Khusus atlet perempuan, ia mengingatkan risiko female athlete triad yang meliputi gangguan makan, gangguan siklus menstruasi, dan penurunan kepadatan tulang.

Apabila stress fracture terdeteksi pada fase awal, pemulihan dapat dilakukan melalui istirahat relatif, modifikasi aktivitas, serta program rehabilitasi terarah. Aktivitas low-impact seperti berenang atau bersepeda dapat menjadi alternatif menjaga kebugaran tanpa memperparah cedera.

Ferdian menegaskan peran fisioterapi sangat penting dalam proses pemulihan dan pencegahan kekambuhan. Melalui asesmen biomekanik, fisioterapis dapat mengidentifikasi faktor risiko seperti kelemahan otot, ketidakseimbangan postur, hingga pola gerakan yang salah.

“Fisioterapi bukan hanya soal mengobati cedera, tetapi memastikan atlet kembali berlari dengan aman dan lebih kuat. Evaluasi teknik, penguatan bertahap, dan kontrol progres beban latihan menjadi kunci agar cedera tidak terulang,” pungkasnya.

Ia pun mengingatkan para pelari agar tidak mengabaikan sinyal tubuh. “Lebih baik istirahat dua minggu untuk evaluasi daripada kehilangan enam bulan karena fraktur komplit,” tutup Ferdian.

Editor : Arif Subekti
#cedera #Jauh #pelari #Jarak