Forum tersebut menghadirkan unsur atlet, pengurus cabang olahraga, KONI Kalsel, hingga perwakilan pemerintah provinsi untuk membedah peluang dan tantangan menuju prestasi yang lebih tinggi.
Dari diskusi itu, muncul satu kesimpulan utama: Kalsel membutuhkan roadmap olahraga yang jelas, terukur, dan berkelanjutan jika ingin bersaing serius, termasuk menargetkan masuk 10 besar pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2029.
Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Hasnuryadi Sulaiman, menilai ruang diskusi seperti ini penting untuk merumuskan langkah strategis secara kolektif. Menurutnya, pertukaran gagasan yang konstruktif dapat menjadi pijakan dalam menghadirkan kebijakan yang tepat sasaran.
“Kita perlu berdiskusi dan melahirkan gagasan konstruktif. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk menghadirkan pemerintahan yang terbaik, terutama dalam aspek fasilitas, pembinaan, dan prestasi demi membanggakan masyarakat Banua,” ujarnya usai acara, Sabtu (14/2/2026) lalu.
Ia juga menyampaikan pesan kepada para atlet Kalsel yang telah berkiprah di ajang internasional seperti SEA Games dan Para Games agar terus menjaga semangat dan disiplin.
Selain fokus berlatih, Hasnuryadi mengingatkan pentingnya pendidikan dan kesiapan masa depan, baik bagi atlet yang masih menempuh studi maupun yang telah berkarier.
Sementara itu, Kepala Bidang Peningkatan Prestasi Dispora Kalsel, Heru Susmianto, menegaskan pemerintah provinsi tetap memberikan dukungan terhadap atlet yang menembus level nasional.
Atlet yang lolos seleksi Pelatnas akan difasilitasi keberangkatannya, sementara mereka yang memperkuat tim Indonesia menjadi kewenangan pemerintah pusat.
Di tingkat daerah, Pemprov Kalsel tetap mengalokasikan bonus dan insentif. Peraih medali PON mendapatkan bonus sesuai jenjang medali, bahkan atlet Wasaka masih menerima insentif bulanan dengan skema yang disesuaikan berdasarkan raihan emas, perak, maupun perunggu.
Namun, sorotan paling tajam datang dari Ketua Umum PODSI Kalsel, Donny Achadiat. Ia menilai hingga kini belum ada peta jalan olahraga yang komprehensif dan terstruktur, baik di tingkat Dispora maupun KONI.
Menurutnya, komitmen menembus 10 besar PON harus ditopang dengan perencanaan matang. Donny memperkirakan butuh waktu sekitar delapan tahun untuk benar-benar stabil di posisi tersebut. Jika sebelumnya Kalsel mampu meraih 15 medali emas, ia berharap ada peningkatan hingga 50 persen menjadi sekitar 22 emas.
Meski demikian, dinamika perpindahan atlet juga menjadi tantangan tersendiri yang perlu diantisipasi dengan memperkuat cabang olahraga unggulan lain.
Ia menekankan bahwa percepatan prestasi tidak hanya soal pemetaan cabang unggulan, melainkan juga kesiapan manajerial, kualitas sumber daya manusia—khususnya pelatih—ketersediaan anggaran, serta dukungan sarana dan prasarana.
“Semua harus berjalan bersamaan. Manajerialnya kuat, pelatihnya siap, pendanaannya ada, fasilitasnya memadai. Termasuk mood pimpinan dan atlet juga harus terjaga. Arah menuju 10 besar itu harus jelas,” tegasnya, Senin (16/2/2026).
Talkshow tersebut menjadi refleksi sekaligus pengingat bahwa target besar tak cukup hanya dengan ambisi. Tanpa roadmap yang konkret dan konsisten, cita-cita membawa Kalsel bersaing di papan atas nasional akan sulit terwujud.
Kini, penyusunan peta jalan olahraga bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak bagi masa depan prestasi Banua.
Editor : Sutrisno